• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Economy

Mengurangi Nasi, Bukan Sekadar Janji: Saatnya Pemerintah Berhenti Main Proyek dalam Urusan Pangan

Ir Entang Sastraatmaja by Ir Entang Sastraatmaja
October 20, 2025
in Economy, Feature
0
Prediksi HRS Sepertinya Benar, Prabowo Berencana Sunat Anggaran Makan Siang Gratis dari Rp 15000,- Jadi Rp 7.500
Share on FacebookShare on Twitter

OLEH: ENTANG SASTRAATMADJA

Soal konsumsi beras masyarakat, tampaknya masih berjalan di tempat. Hasrat untuk menurunkan laju konsumsi beras belum juga menunjukkan hasil yang signifikan. Padahal, dengan lahirnya Peraturan Presiden (Perpres) No. 81 Tahun 2024 tentang Percepatan Penganekaragaman Pangan Berbasis Potensi Sumber Daya Lokal, mestinya kita telah memasuki “babak baru” dalam tata kelola pangan nasional.

Meski Perpres ini tidak jauh berbeda dengan Perpres No. 22 Tahun 2009 tentang Kebijakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal, kita berharap Perpres yang baru ini tidak berakhir dengan nasib serupa—menjadi dokumen hiasan tanpa daya paksa di lapangan.

Pemerintahan Prabowo–Gibran, dalam menakhodai bangsa selama lima tahun ke depan (2024–2029), diharapkan mampu memberi prioritas nyata terhadap upaya meragamkan pola makan masyarakat. Tujuannya jelas: agar bangsa ini tidak selamanya bergantung pada satu sumber karbohidrat, yakni beras.

Secara konseptual, penganekaragaman pangan adalah solusi cerdas untuk menekan laju konsumsi nasi. Tantangan terbesar justru pada tahap implementasi. Pengalaman menunjukkan, program diversifikasi pangan masih sulit diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kita harus jujur: bagi sebagian besar masyarakat, beras yang diolah menjadi nasi telah menjelma menjadi “candu kehidupan.” Tanpa nasi, seolah tak ada kehidupan. Tanpa nasi, energi terasa terputus. Itulah karisma beras dalam kultur bangsa ini—hingga banyak politisi pun menjadikannya komoditas politis. Beras harus selalu tersedia, dan harganya harus terjangkau.

Pernyataan ini bukan tanpa dasar. Tujuh puluh tiga tahun lalu, Bung Karno telah menegaskan bahwa “urusan pangan menyangkut mati dan hidupnya suatu bangsa.” Dalam konteks Indonesia, pangan yang dimaksud identik dengan beras. Karena itu, kebijakan pangan bukan ruang bermain. Pemerintah tidak boleh menjadikan urusan beras sebagai permainan politik atau proyek sesaat.

Keberpihakan pemerintah terhadap kebijakan perberasan seharusnya tampak nyata—tidak hanya pada sisi produksi, tetapi juga pada sisi konsumsi. Lahirnya Perpres 81/2024 harus diiringi kesiapan konkret agar upaya meragamkan pola makan tidak berhenti sebagai “omon-omon” belaka.

Dari pengalaman sebelumnya, ada dua kemungkinan penyebab kegagalan diversifikasi pangan. Pertama, kebijakan dan program pemerintah yang dijalankan setengah hati—sekadar menggugurkan kewajiban birokratis. Kedua, kesadaran masyarakat yang belum terbangun karena minimnya keteladanan dari para elit bangsa. Bagaimana rakyat mau percaya pada pangan lokal jika para pejabatnya saja tidak mau meninggalkan nasi di meja makan mereka?

Padahal, gagasan penganekaragaman pangan bukanlah hal baru. Ia telah menjadi jargon pembangunan sejak puluhan tahun lalu. Sayangnya, dalam perjalanan waktu, cita-cita itu lebih sering berhenti di level wacana politik ketimbang menjadi gerakan sosial yang nyata.

Sudah saatnya strategi menekan konsumsi nasi tidak dikemas dalam bentuk proyek-proyek formalistik. Pendekatan berbasis gerakan sosial yang masif, terstruktur, dan menyentuh kehidupan nyata masyarakat adalah pilihan yang lebih relevan—terutama di tengah lesunya ekonomi bangsa saat ini.

Kebijakan dan program diversifikasi pangan harus menjadi bentuk pertanggungjawaban moral seluruh anak bangsa. Ini bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga tanggung jawab kolektif semua pihak yang peduli pada kemandirian dan ketahanan pangan negeri ini.

Kini, penganekaragaman pangan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. Kita tidak boleh terus terjebak dalam rutinitas program yang sekadar menggugurkan kewajiban. Menurunkan ketergantungan terhadap nasi adalah langkah strategis untuk masa depan bangsa. Jangan tunggu sampai kita terlambat menyadarinya.

(Penulis adalah Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat)

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Kembalikan KPK kepada KPK yang Sejati

Next Post

Satu Tahun Menjadi Wapres: Gibran Digugat Ijazah Tak Jelas di Pengadilan

Ir Entang Sastraatmaja

Ir Entang Sastraatmaja

Related Posts

Feature

Ketika Iman Jadi Transaksi: Kita Sedang Menawar Tuhan?

April 28, 2026
Feature

NEGARA DENGAN DEMOKRASI BOHONG-BOHONGAN

April 28, 2026
Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?
Feature

Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

April 28, 2026
Next Post
Satu Tahun Menjadi Wapres: Gibran Digugat Ijazah Tak Jelas di Pengadilan

Satu Tahun Menjadi Wapres: Gibran Digugat Ijazah Tak Jelas di Pengadilan

Bahlil Tidak Tahu Akan Dicopot Prabowo

Bahlil Tidak Tahu Akan Dicopot Prabowo

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Reshuffle Kabinet “4L”
Birokrasi

Reshuffle Kabinet “4L”

by Karyudi Sutajah Putra
April 27, 2026
0

Jakarta - Untuk kelima kalinya sejak dilantik sebagai Presiden RI pada 21 Oktober 2024, Prabowo Subianto melakukan reshuffle atau perombakan...

Read more
IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

April 27, 2026
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

Ketika Iman Jadi Transaksi: Kita Sedang Menawar Tuhan?

April 28, 2026

NEGARA DENGAN DEMOKRASI BOHONG-BOHONGAN

April 28, 2026
Tragedi Bekasi: 14 Nyawa Melayang dalam Tabrakan KRL, Alarm Keras Keselamatan Transportasi

Tragedi Bekasi: 14 Nyawa Melayang dalam Tabrakan KRL, Alarm Keras Keselamatan Transportasi

April 28, 2026
Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

April 28, 2026

Jangan Memangkas Akar IPTEK: Menilik Ulang Kebijakan Penutupan Prodi Murni

April 28, 2026

Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

April 28, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Ketika Iman Jadi Transaksi: Kita Sedang Menawar Tuhan?

April 28, 2026

NEGARA DENGAN DEMOKRASI BOHONG-BOHONGAN

April 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...