Dari sejak dini membaca berbagai langkah Surya Paloh yang bermain diranah politik, sekalipun berkeyakinan Ia berhasrat menjadi Presiden, tetapi fakta nyata belakangan, setelah Nasdem didirikan, Ia menposisikan dirinya sebagai skondan dalam permainan catur. Saya tidak ingat, apakah saya mendengar langsung dari beliau atau saya mendengar dari sahabatnya, pernah terucap begini “(Dik Ali),.. kalau bisa saya ingin mati saat dalam perjuangan di mimbar politik”. Tetapi kemudian saya menjadi yakin, bahwa ucapan itu adalah tulus-ikhlas, ketika pilihan beliau jatuh pada Anies Baswedan, sebagai Capres-24 yang diusung oleh Nasdem.
Mengapa? Mari kita lihat sosok Surya Paloh sebagai seorang Pengusaha. Disamping seorang Profesional (wartawan), tetapi jiwa kewirausahaan-nya melekat dalam setiap sepak terjangnya. Ini artinya, harap dimaklumi, bahwa watak pengusaha itu selalu mencari untung. Setiap langkah akan dikalkulasi, modal yang dibayarkan, harus kembali bersama keuntungan yang akan didapat-berlipat. Ciri bahwa SP seorang pengusaha tulen adalah, Ia berani mengeluarkan modal. Keberanian itu dilakukan dengan segala resiko.
Sahabat saya, Pak Ardy Hadiat namanya, pernah juga bertanya “Pak Al, bagaimana dengan Surya Paloh mencalonan Anies?”ujarnya. Pertanyaan ini ingin saya jawab sebagai suatu kesempatan bagi diri sendiri, untuk memperteguh keyakinan saya sendiri. “Mungkin DepPal (begitu saya sering memanggilnya) sudah husnul hotimah”, jawab saya sambil tersebyum.
Apa sih dibalik tirai kata husnul hotimah itu. Ia adalah suatu situasi dimana setiap orang, diujung episode hidupnya, berada dalam keadaan yang tingkat keimanan dan ketaqwaannya paripurna. Ini untuk melaksanakan perintah “wa la tammutunna ila wa antum muslimun”, jangan enkau mati kecuali dalam keadaan muslim.
Kembali ke soal Surya Paloh. Jadi bila ditela’ah dari soal kekayaan, SP adalah sosok yang termasuk unggul dalam berbisnis dan berlebih dalam kekayaan. Karena itu, eksistensinya selama ini, bukan untuk materi lagi, tidak pula untuk mengejar nafsu kekuasaan (wallahu alam), kecuali untuk memenuhi kebutuhan Aktualisasi diri. Saya melihatnya dari semua aspek, yang tak saya ungkap secara verbal, termasuk dari faktor usia!.
Jadi apa yang saya maksud dengan husnul hotimah itu adalah, karena berkaitan dengan pilihan hatinya jatuh kepada sosok Anies Baswedan. Ini saya andaikan, bila kelak dengan ijin Allah, Anies Baswedan tinekanan menjadi Presiden RI, ia tidak akan berbagi kue kekuasaan kepada tokoh Pengusungnya sebagai kelaziman pengganti mahar jadi capres yang tidak AB bayarkan kepada SP.
Langkah politik itu SP itu mudah dibaca ketika ia menentukan sosok pilihan Kepada Anies Baswedan. Adalah suatu kewajaran, karena Anies bisa dilihat dari semua aspek, paripurna untuk sosok Presiden. Kehawatiran, namanya juga langkah catur politik, mengangkat Anies justru bisa juga dimainkan untuk memenangkan lawan. Nah ini semua, sampai detik ini, suuzon itu tidak benar.
Ijinkan saya paada kesempatan ini, menghaturkan terima kasih, atas dua buku yang beliau kirimkan kepada saya, sebagai balasan buku yang saya kirim kepada beliau. Dua Buku itu, mengajarkan saya, bagaimana menjadi orang yang cerdik dan Pengusaha sukses. Buku saya saya kirim kepada beliau adalah “Pokok-pokok permasalahan bangsa”, di tulis oleh kami anggota Forum Bandung 10 tahun yang lalu.























