• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Menimbang Kembali Khilafah: Antara Sejarah, Kekuasaan, dan Ijtihad Politik Modern

fusilat by fusilat
July 19, 2025
in Feature, Politik
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Nazaruddin

Sejak wafatnya Nabi Muhammad SAW, umat Islam menghadapi pertanyaan fundamental yang terus diperbincangkan sepanjang sejarah: bagaimana bentuk dan sistem pemerintahan yang ideal dalam Islam? Apakah telah ditetapkan secara baku, ataukah justru terbuka untuk ijtihad dan adaptasi sesuai dengan kebutuhan zaman?

Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah menyatakan bahwa kekuasaan adalah kebutuhan sosial manusia. Ia membagi kekuasaan ke dalam tiga bentuk. Pertama, al-mulk at-thabi’i, kekuasaan yang lahir dari dorongan syahwat dan kepentingan pribadi—yakni bentuk kekuasaan yang hanya mengejar dominasi tanpa nilai spiritual. Kedua, kekuasaan siyasiy, yaitu kekuasaan yang mengandalkan akal dalam mengelola kemaslahatan duniawi, namun tetap terpisah dari nilai-nilai syariat. Ketiga, khilafah, yaitu kekuasaan berdasarkan syariat yang bertujuan mencapai kemaslahatan dunia dan akhirat. Menurut Ibnu Khaldun, hanya tipe ketiga inilah yang mencerminkan kepemimpinan ideal dalam Islam, sementara dua lainnya disebutnya sebagai bentuk kekuasaan yang tercela (mazmumah).

Pola Yang Tidak Seragam

Fakta sejarah menunjukkan bahwa sepeninggal Nabi Muhammad, umat Islam tidak memiliki satu model tetap dalam memilih pemimpinnya. Abu Bakar dipilih melalui musyawarah mendesak di Saqifah Bani Sa’idah, di tengah kekhawatiran rivalitas Golongan Anshar dan Muhajirin tentang hak Khalifah pengganti Nabi dan kekhawatiran kekosongan kepemimpinan. Umar bin Khattab ditunjuk langsung oleh Abu Bakar menjelang wafatnya. Utsman bin Affan dipilih oleh tim formatur beranggotakan enam sahabat utama yang dibentuk oleh Umar. Ali bin Abi Thalib dibai’at secara langsung oleh rakyat Madinah setelah terbunuhnya Utsman. Empat model suksesi yang sangat berbeda. Kebijakan dan cara menjalankan pemerintahannyapun berbeda. Umar sangat membatasi akses keluarganya pada kekuasaan. Ustman sebaiknya sangat longgar, bahkan menempatkan keluarganya pada jabatan-jabatan kekuasaan.

Tidak hanya proses suksesi dan cara menjalankan kekuasaan yang tidak seragam, mazhab keagamaan yang dijadikan sebagai dasar ideologi negara pun bervariasi. Pada masa Khalifah Al-Ma’mun dari Dinasti Abbasiyah, negara menjadikan paham Mu’tazilah sebagai mazhab resmi. Para pejabat dan hakim diwajibkan mengikuti doktrin rasionalistik ini, dan mereka yang menolak, seperti Imam Ahmad bin Hanbal, mengalami penyiksaan. Namun pada masa Khalifah Al-Mutawakkil, giliran Mu’tazilah dinyatakan sesat dan dilarang, digantikan oleh doktrin Ahlus Sunnah sebagai mazhab resmi. Ulama Mu’tazilah banyak yang melarikan diri ke wilayah-wilayah Persia yang Gubernurnya bermazab Syi’ah. Ini memperlihatkan bagaimana paham keagamaan pun sangat dipengaruhi oleh kebijakan politik penguasa yang berkuasa saat itu.

Tidak adanya keseragaman pola ini menunjukkan bahwa tidak ada acuan baku. Bahkan, tidak ada satu ayat atau hadis pun yang menetapkan bentuk sistem pemerintahan Islam secara rigid. Yang ditekankan adalah prinsip-prinsip dasar seperti keadilan, musyawarah, dan kepemimpinan yang amanah.

Dari Khilafah ke Kerajaan

Transformasi besar dalam sistem kekuasaan Islam terjadi saat Mu’awiyah bin Abi Sufyan mengambil alih tampuk kepemimpinan setelah Hasan bin Ali mengundurkan diri. Dalam Khilafah wa al-Mulk, Abul A’la al-Maududi menunjukkan bahwa sejak saat itu, sistem khilafah telah berubah menjadi kerajaan. Kekuasaan tidak lagi diperoleh melalui musyawarah umat, tetapi diwariskan berdasarkan garis keturunan. Maududi mengutip riwayat ketika Sa’ad bin Abi Waqqash menyalami Mu’awiyah setelah ia dibai’at menjadi khalifah dengan ucapan: “Assalamu ’alaikum, wahai Raja.” Mu’awiyah berkata: “Apa salahnya sekiranya Anda berkata: ‘Wahai Amirul Mukminin?’ “Sa’ad menjawab: “Demi Allah, aku sungguh tidak ingin memperoleh jabatan itu dengan cara yang telah menyebabkan Anda memperolehnya.” Bahkan Mu’awiyah sendiri mengerti hakikat ini sehingga pada suatu hari ia berkata: “Aku adalah raja pertama”, mengindikasikan kesadaran akan perubahan esensial dari sistem kenabian menjadi sistem monarki.

Maududi juga berpendapat, bai’at bukanlah bukti eksistensi khilafah. Bai’at hanyalah sumpah jabatan yang bisa digunakan dalam berbagai sistem, termasuk monarki. Karena itu, meski Dinasti Umayyah, Abbasiyah, hingga Turki Utsmani menyebut sistem mereka “khilafah”, secara esensial mereka adalah kerajaan dalam balutan simbol keislaman.

Maududi menolak keras sistem kerajaan atau monarki. Baginya, sistem ini menyimpang dari idealisme Islam karena pertama, menggantikan kedaulatan Tuhan dengan kedaulatan dinasti atau individu. Kedua, kerajaan memaksakan ketaatan pada kekuasaan turun-temurun, bukan pada hukum Allah. Sehingga tidak memiliki tempat dalam Islam.

Maududi mengusung konsep Teo-Demokrasi, yaitu sistem pemerintahan yang menggabungkan kedaulatan Tuhan (syariat Islam) dengan partisipasi rakyat melalui mekanisme demokratis. Dalam pandangannya, hukum tertinggi tetap wahyu (Al-Qur’an dan Sunnah), bukan kehendak mayoritas rakyat seperti dalam demokrasi sekular. Karenanya Maududi juga menolak demokrasi sekular ala barat

Demokrasi sebagai Ijtihad Politik Modern

Di era modern, setelah keruntuhan Turki Utsmani pada tahun 1924, sebagian besar negara-negara Muslim mengadopsi sistem negara-bangsa dan mengenal konsep demokrasi sebagai sistem pemerintahan. Meski bukan sistem yang terbaik, demokrasi memiliki mekanisme kontrol untuk mengoreksi dirinya sendiri. Demokrasi memang berasal dari tradisi politik sekular Barat, namun prinsip-prinsip dasarnya seperti musyawarah, keadilan, mekanisme check and balances, dan partisipasi rakyat memiliki kesamaan dengan nilai-nilai dalam Islam.

Demokrasi adalah realitas yang harus dihadapi. Persoalannya bukan apakah demokrasi bertentangan dengan Islam, tetapi demokrasi yang seperti apa yang sejalan dengan Islam. Demokrasi liberal sekuler tentu tidak kompatibel sepenuhnya dengan nilai-nilai Islam. Karena itu, dibutuhkan ijtihad politik kolektif untuk menemukan format demokrasi yang sesuai dengan semangat Islam.

Ada beberapa model yang muncul: Teo-Demokrasi seperti diajukan oleh Maududi; Wilayat al-Faqih di Iran, demokrasi dengan pembagian kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif dengan mekanisme check and balances dalam bingkai sistem Imamah yang menempatkan Imam sebagai pemegang kekuasaan tertinggi; atau bentuk lain demokrasi berbasis nilai-nilai Islam seperti yang coba dikembangkan di beberapa negara Muslim. Kesemuanya merupakan hasil dari upaya mencari jalan tengah antara nilai-nilai Islam dan tuntutan zaman.

Mewarisi Semangat Khilafah, Bukan Bentuknya

Sejarah menunjukkan bahwa sistem yang dipraktekkan di masa awal Khulafa al-Rasyidun adalah khilafah seperti dalam konsepnya Ibnu Khaldun, sistem yang mencerminkan kepemimpinan ideal dalam Islam. Sistem ini kompatibel dengan nilai-nilai demokrasi modern. Bahkan Robert N. Bellah, seorang sosiolog Amerika, menyebut bahwa pemerintahan para sahabat di masa awal Islam “gagal” bukan karena keburukannya, melainkan karena ia “terlalu modern”—terlalu maju dalam mengedepankan akuntabilitas, etika, dan partisipasi umat dibanding sistem kekuasaan di masanya.

Demokrasi, dalam pengertian yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, sesungguhnya dapat menjadi sarana untuk menghidupkan kembali prinsip-prinsip pemerintahan Islam yang berakar dari masa awal atau khilafah. Demokrasi bisa menjadi bagian khilafah ‘ala minhajin nubuwwah.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Memahami Tarif 19% Amerika Serikat: Pajak Tersembunyi di Balik Perdagangan Global

Next Post

Ketika Pangan Goyah, Republik pun Berguncang

fusilat

fusilat

Related Posts

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi
Feature

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

April 19, 2026
Saat Rakyat Menggemakan ‘Adili Jokowi’, Prabowo Teriak ‘Hidup Jokowi’: Loyalitas Kepada Siapa?
Feature

Presiden Harus Optima Prima: Antara Kekuasaan dan Kesadaran

April 19, 2026
Silaturahmi yang Terlupakan, Kekuatan yang Dijalankan Orang Lain
Feature

Silaturahmi yang Terlupakan, Kekuatan yang Dijalankan Orang Lain

April 19, 2026
Next Post
Perekonomian Semakin Memburuk ,  Gula Mendekati Rp 20.000 Harga Sembako Lainnya Ikutan Melonjak

Ketika Pangan Goyah, Republik pun Berguncang

Tanggapan Kader PSI Jakarta, Depok, Bekasi tentang Ketua Umum Mereka,  Kaesang Pangarep

Kaesang Terpilih Kembali Jadi Ketua Umum PSI Lewat E-Voting, Jokowi Hadir di Kongres Solo

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi
Feature

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

by Karyudi Sutajah Putra
April 19, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Tak pernah kita menyaksikan Jusuf Kalla seemosional...

Read more
Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

April 17, 2026
Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

April 15, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

April 19, 2026
Saat Rakyat Menggemakan ‘Adili Jokowi’, Prabowo Teriak ‘Hidup Jokowi’: Loyalitas Kepada Siapa?

Presiden Harus Optima Prima: Antara Kekuasaan dan Kesadaran

April 19, 2026
Silaturahmi yang Terlupakan, Kekuatan yang Dijalankan Orang Lain

Silaturahmi yang Terlupakan, Kekuatan yang Dijalankan Orang Lain

April 19, 2026

​Pembuktian Mens Rea: Abu-Abu, Pelik, tapi Pangkal Keadilan

April 19, 2026
Negeri Para Jongos

Seberapa Pentingkah Teddy Wijaya Bagi Bangsa Ini?

April 19, 2026
JK dan Keris Mpu Gandring

JK dan Keris Mpu Gandring

April 19, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

April 19, 2026
Saat Rakyat Menggemakan ‘Adili Jokowi’, Prabowo Teriak ‘Hidup Jokowi’: Loyalitas Kepada Siapa?

Presiden Harus Optima Prima: Antara Kekuasaan dan Kesadaran

April 19, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...