Malika Dwi Ana
Selain merampok dompet rakyat secara kasar dengan pajak gila-gilaan, berbagai retribusi dan pungutan, atau terang-terangan korupsi. Ada cara yang lebih elegan, lebih murah, dan jauh lebih efektif untuk merampok pikiran kita. Mereka melakukannya dengan aneka mistifikasi program. Apa itu? Aneka program yang dikemas indah, dengan jargon muluk-muluk, foto-foto senyum lebar, dan narasi heroik patriotik yang disebar dan diamplifikasi lewat media dan buzzeRp.
Program demi program diluncurkan bak sihir sosial: “Bantuan Langsung Tunai”, “Kartu Prakerja”, “Program Makan Bergizi Gratis”, “Kendaraan Listrik”, “Reformasi Birokrasi”, “Digitalisasi Segala Hal”, “Koperasi Desa Merah Putih” dan lain-lain. Semuanya dibungkus dengan narasi “untuk rakyat kecil”, “mengatasi stunting”, “membangun masa depan”, “keadilan sosial”, yang semuanya tampak indah di kemasan, tapi isinya yang itu deh. Dan ini semua direspon dengan penuh suka cita dan tepuk tangan, berterima kasih, bahkan dibela mati-matian, dan rela mempertahankan penguasa meski kelaparan tetap merongrong sudut perut dan kantong mereka tetap kering.
Ini yang disebut sebagai pencurian kognitif tingkat tinggi.
Ketika program gagal—dengan data fiktif, dana diselewengkan, target tak tercapai, atau malah menimbulkan masalah baru—yang terjadi justru bukan kemarahan massal, melainkan pembelaan massa.
“Programnya sudah bagus, pelaksanaannya saja yang bermasalah.”
“Ini baru tahap awal.”
“Yang kritis itu oposisi bayaran.”
“Yang berisik itu antek asing, dibayar Soros,” endebre endebre… Pikiran dan alam bawah sadar rakyat sudah diprogram untuk membenarkan kegagalan demi mempertahankan ilusi bahwa “pemerintah peduli”. Bahwa “pemerintah sedang memberantas korupsi, yang protes itu antek mafia.” Bahwa “pemerintah menyejahterakan rakyat.” Bahwa “pemerintah ngasih makan rakyatnya.” Halahhh….!
Ini mirip dengan kultus. Pemimpin digambarkan sebagai orang suci, bapak/pahlawan/penebus dosa/kesengsaraan, program dilihat sebagai mukjizat, dan kritik itu sebagai dosa. Salah satunya di kalimat, “Bapak, terbuat dari apakah hatimu…” Sedang media pemerintah dan influencer/buzzer bayaran berperan sebagai layaknya pendeta yang setiap hari mengulang khotbah dan mantra: “Lihat progresnya!”, “Data kita terbaik di ASEAN!”, “Dulu lebih parah!”. Sementara realitas yang terjadi menohok kesadaran kita, menculek mata kita—utang negara membengkak, kualitas pendidikan anjlok, lapangan kerja tak kunjung nyata, kemiskinan struktural tetap menganga, sementara PHK besar-besaran terjadi—ini jadi masalah yang dibiarkan menjadi keributan dan diabaikan.
Mengapa ini efektif? Karena manusia lebih suka kenyamanan ilusi daripada kebenaran yang pahit. Manusia lebih suka mendengar yang ingin didengar, padahal itu hanya gula-gula dan angin surga. Kebenaran itu memang menyakitkan bagi sebagian orang. Memberi bantuan langsung (meski kecil dan sementara) jauh lebih murah daripada membangun sistem yang benar-benar adil. Membuat rakyat bergantung pada “program” jauh lebih menguntungkan daripada membuat mereka mandiri dan kritis. Rakyat yang bodoh dan loyal adalah aset politik paling berharga, oke, catet!
Mistifikasi ini juga menciptakan kemiskinan intelektual kolektif. Mostly masyarakat diajari untuk ‘nrimo ing pandum’ dan berterima kasih pada “program unggulan” ketimbang bertanya: Mengapa infrastruktur mahal tapi cepat rusak? Mengapa subsidi energi bocor ke pengusaha? Mengapa data kemiskinan selalu di-adjust supaya terlihat bagus? Mengapa korupsi, kolusi dan nepotisme tetap merajalela meski ada reformasi? Mengapa negeri kaya SDM tapi pemasukan terbesar justru berasal dari pajak? Dan seterusnya, dan seterusnya…
Wake up! Banguuun…hak kita untuk berpikir jernih ini sedang dirampok!
Sudah waktunya berhenti menjadi korban yang bersyukur dan ‘nrimo ing pandum.’ Pertanyakan setiap program yang diluncurkan: Siapa yang diuntungkan secara riil? Berapa persen anggaran yang benar-benar sampai pada rakyat? Apa dampak jangka panjangnya terhadap kemandirian, bukan ketergantungan? Jangan biarkan senyum di spanduk dan video-video pendek keluaran buzzeRp merampas akal sehatmu.
Rakyat yang sadar dan kritis adalah ancaman terbesar bagi penguasa yang gemar mistifikasi. Karena itu, mereka akan terus merampok pikiran kita—kecuali jika kita mulai menolak untuk dibodohi.
Cukup sudah menjadi domba yang berterima kasih saat dicukur bulunya.



















