• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Desekularisasi Semu: Menakar Paradoks Masyarakat Agamis dan Kurangnya Optimalisasi Etika Sosial di Kalangan Masyarakat Modern

fusilat by fusilat
July 9, 2026
in Feature, Science & Cultural
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh:

Sultoni
Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Agama Islam
Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA) Malang

Hendy Firmansyah
Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Agama Islam
Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA) Malang

Pendahuluan

Indonesia dikenal sebagai bangsa yang religius. Hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat dipenuhi dengan simbol-simbol keagamaan, mulai dari ritual ibadah, perayaan hari besar agama, tradisi keagamaan, hingga berbagai aktivitas sosial yang dibingkai dengan nuansa religius. Di satu sisi, kondisi ini menunjukkan bahwa agama masih memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat. Namun di sisi lain, muncul sebuah paradoks yang patut menjadi perhatian bersama.

Sebagai pendidik Pendidikan Agama Islam, penulis melihat adanya fenomena yang dapat disebut sebagai desekularisasi semu. Agama semakin tampak dalam ruang publik melalui simbol, ritual, dan identitas keagamaan, tetapi nilai-nilai substansial agama seperti kejujuran, amanah, kasih sayang, keadilan, serta kepedulian sosial justru belum terimplementasi secara optimal dalam kehidupan sehari-hari.

Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa meningkatnya ekspresi keberagamaan tidak selalu berjalan seiring dengan meningkatnya kualitas moral masyarakat. Agama lebih banyak dipahami sebagai identitas formal daripada sebagai sistem nilai yang membimbing seluruh aspek kehidupan.

Dikotomi antara Tuntunan Agama dan Kehidupan Dunia

Salah satu persoalan utama adalah terjadinya dikotomi antara ruang sakral dan ruang profan. Nilai-nilai agama sering kali hanya diterapkan pada ruang-ruang yang dianggap suci, seperti masjid, pemakaman, akad nikah, pengajian, syukuran, dan berbagai ritual keagamaan lainnya.

Sebaliknya, ketika memasuki ruang kerja, pasar, dunia bisnis, birokrasi, media sosial, hingga kehidupan politik, nilai-nilai agama sering kali kehilangan relevansinya. Akibatnya, praktik korupsi, manipulasi informasi, hoaks, ketidakjujuran, kerakusan, eksploitasi, hingga hilangnya empati sosial menjadi fenomena yang semakin sering dijumpai.

Padahal Islam tidak mengenal pemisahan antara kehidupan spiritual dan kehidupan sosial. Agama hadir sebagai pedoman hidup yang mengatur seluruh dimensi kehidupan manusia.

Dalam perspektif sosiologi agama, agama berfungsi sebagai sacred canopy atau “payung suci” yang menjaga keteraturan sosial. Ketika agama hanya dijadikan identitas kelompok, bukan sebagai sumber etika universal, maka fungsi integratif agama menjadi melemah.

Al-Qur’an memberikan peringatan yang sangat jelas dalam Surah Al-Hasyr ayat 19:

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa akan diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hasyr [59]:19)

Ayat ini mengandung pesan bahwa keterputusan manusia dari nilai-nilai ketuhanan akan melahirkan keterasingan terhadap hakikat kemanusiaannya sendiri. Ketika manusia kehilangan orientasi spiritual, maka nilai-nilai luhur seperti kasih sayang, kejujuran, kepedulian, dan tanggung jawab sosial ikut mengalami kemunduran.

Amputasi Eksistensial: Melupakan Tuhan, Kehilangan Kemanusiaan

Modernitas juga melahirkan paradigma baru mengenai ukuran kesuksesan. Kesuksesan sering diukur dari kepemilikan materi, kekuasaan, status sosial, dan kemampuan konsumsi.

Akibatnya, manusia terdorong untuk mengejar kemewahan tanpa diimbangi dengan penguatan moral dan spiritual. Tidak sedikit orang yang memiliki kekayaan melimpah, tetapi hidup dalam kecemasan, kesombongan, dan ketidakpuasan.

Dalam perspektif Islam, ukuran keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh pencapaian duniawi, tetapi oleh kemampuan seseorang menghadirkan nilai-nilai agama dalam seluruh perjalanan hidupnya.

Allah SWT berfirman dalam Surah Thaha ayat 124:

“Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit.” (QS. Thaha [20]:124)

Makna “kehidupan yang sempit” tidak semata-mata berkaitan dengan kemiskinan materi, tetapi juga dapat dipahami sebagai sempitnya ruang sosial yang sehat. Ketika kejujuran, amanah, dan keadilan ditinggalkan, masyarakat akan dipenuhi rasa saling curiga, meningkatnya kriminalitas, praktik korupsi, depresi sosial, serta hilangnya modal sosial (social capital) yang menjadi fondasi kehidupan bersama.

Krisis Moral dan Rusaknya Ekosistem Sosial

Dalam ilmu sosial dikenal konsep The Tragedy of the Commons, yaitu kondisi ketika ruang bersama mengalami kerusakan akibat perilaku egois sebagian individu yang hanya mengejar keuntungan pribadi tanpa memedulikan dampaknya terhadap masyarakat luas.

Fenomena tersebut dapat dianalogikan sebagai seseorang yang melubangi perahu yang sedang ditumpangi bersama. Meskipun yang melubangi hanya satu orang, seluruh penumpang akan ikut tenggelam.

Demikian pula dalam kehidupan sosial. Ketika sebagian anggota masyarakat mengabaikan batas-batas moral, melakukan korupsi, merusak lingkungan, mengeksploitasi sumber daya alam secara berlebihan, atau menghalalkan segala cara demi keuntungan pribadi, maka seluruh masyarakat akan menerima akibatnya.

Dalam perspektif sosiologi, setiap tindakan sosial melahirkan konsekuensi (causality law). Krisis moral pada akhirnya memicu ketimpangan sosial, ketidakadilan ekonomi, kerusakan lingkungan, konflik horizontal, menurunnya kepercayaan publik, hingga melemahnya solidaritas sosial.

Agama seharusnya menjadi sistem pengendali moral (social control) yang menjaga keseimbangan tersebut. Namun ketika nilai agama hanya berhenti pada simbol dan ritual, fungsi pengendalian sosial kehilangan efektivitasnya.

Membangun Agama sebagai Etika Sosial

Menghadapi tantangan masyarakat modern, solusi yang dibutuhkan bukanlah memperbesar sekat-sekat identitas keagamaan, melainkan menghidupkan kembali nilai-nilai universal yang diajarkan agama.

Pendidikan agama harus melahirkan manusia yang alim sekaligus rendah hati, cerdas sekaligus berakhlak mulia. Dakwah hendaknya mengedepankan kasih sayang, dialog, dan keteladanan, bukan sekadar memenangkan perdebatan atau memperkuat polarisasi.

Media sosial juga perlu dimanfaatkan sebagai ruang penyebaran ilmu, etika, dan inspirasi, bukan sebagai arena penyebaran kebencian, fitnah, maupun permusuhan.

Para pemimpin agama, akademisi, pendidik, tokoh masyarakat, pemerintah, dan generasi muda perlu membangun kolaborasi yang berlandaskan kejujuran, keadilan, kemanusiaan, dan kemaslahatan bersama.

Penutup

Agama pada hakikatnya tidak hadir untuk membangun tembok yang memisahkan manusia, melainkan menjadi jembatan yang menghubungkan hati, akal, dan tindakan. Ketika agama dipahami secara utuh, ia akan melahirkan pribadi yang taat kepada Allah sekaligus peduli terhadap sesama manusia.

Ilmu yang dipadukan dengan akhlak akan menghasilkan kemajuan yang berkeadaban. Dialog yang menggantikan prasangka akan memperkuat stabilitas sosial di tengah derasnya perubahan zaman.

Oleh karena itu, menjaga stabilitas kehidupan masyarakat bukan berarti menghapus perbedaan, melainkan mengelolanya dengan hikmah. Masyarakat yang kuat bukanlah masyarakat tanpa perbedaan, tetapi masyarakat yang mampu menjadikan keberagaman sebagai sumber pembelajaran, penguatan solidaritas, dan pembangunan peradaban yang bermartabat.

Inilah hakikat Islam sebagai raḥmatan lil-‘ālamīn—agama yang menghadirkan rahmat bagi seluruh alam, memperkuat persatuan, menegakkan keadilan, dan mengangkat martabat manusia melalui perpaduan antara keimanan, akhlak, serta tanggung jawab sosial.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

DPRD Jabar Serahkan Kajian Usulan Perubahan Nama Menjadi Provinsi Sunda kepada Pemprov

Next Post

IPW Dukung Polri Lakukan Penggeledahan Terkait Jampidsus

fusilat

fusilat

Related Posts

Feature

Konsep Mīzān dalam Surah Ar-Rahman, Bersemayam Prinsip Moral dan Keadilan

July 8, 2026
Feature

Konsep Mīzān dalam Surah Ar-Rahman, Bersemayam Prinsip Moral dan Keadilan

July 8, 2026
Feature

Konsep Mīzān dalam Surah Ar-Rahman, Bersemayam Prinsip Moral dan Keadilan

July 8, 2026
Next Post
IPW Desak Propam Polda Metro Jaya Sidangkan Penyidik Polres Depok

IPW Dukung Polri Lakukan Penggeledahan Terkait Jampidsus

Hindari Bentrok, IPW Desak Panglima TNI Tarik Tentara yang Jaga Rumah Jampidsus

Hindari Bentrok, IPW Desak Panglima TNI Tarik Tentara yang Jaga Rumah Jampidsus

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Aji Mumpung Hanggodo yang Loyal kepada Prabowo
Birokrasi

Aji Mumpung Hanggodo yang Loyal kepada Prabowo

by Karyudi Sutajah Putra
July 8, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Namanya Anggodo atau Hanggodo. Dalam dunia pewayangan,...

Read more
IPW Tuding Pemerintah Tidak Serius, Hanya  Seolah – olah Dalam Menindak Pelaku Judi Online

Hari Bhayangkara ke-80, Ini Catatan IPW

July 2, 2026
Robohnya Benteng Moral Kami

Robohnya Benteng Moral Kami

July 1, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Geng Motor Jadi Musuh Bersama, Polsek Manggala Deklarasikan ‘Perang’ Lewat Gerakan STOP GENG MOTOR

Geng Motor Jadi Musuh Bersama, Polsek Manggala Deklarasikan ‘Perang’ Lewat Gerakan STOP GENG MOTOR

July 9, 2026
Hindari Bentrok, IPW Desak Panglima TNI Tarik Tentara yang Jaga Rumah Jampidsus

Hindari Bentrok, IPW Desak Panglima TNI Tarik Tentara yang Jaga Rumah Jampidsus

July 9, 2026
IPW Desak Propam Polda Metro Jaya Sidangkan Penyidik Polres Depok

IPW Dukung Polri Lakukan Penggeledahan Terkait Jampidsus

July 9, 2026

Desekularisasi Semu: Menakar Paradoks Masyarakat Agamis dan Kurangnya Optimalisasi Etika Sosial di Kalangan Masyarakat Modern

July 9, 2026
DPRD Jabar Serahkan Kajian Usulan Perubahan Nama Menjadi Provinsi Sunda kepada Pemprov

DPRD Jabar Serahkan Kajian Usulan Perubahan Nama Menjadi Provinsi Sunda kepada Pemprov

July 8, 2026

Konsep Mīzān dalam Surah Ar-Rahman, Bersemayam Prinsip Moral dan Keadilan

July 8, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Geng Motor Jadi Musuh Bersama, Polsek Manggala Deklarasikan ‘Perang’ Lewat Gerakan STOP GENG MOTOR

Geng Motor Jadi Musuh Bersama, Polsek Manggala Deklarasikan ‘Perang’ Lewat Gerakan STOP GENG MOTOR

July 9, 2026
Hindari Bentrok, IPW Desak Panglima TNI Tarik Tentara yang Jaga Rumah Jampidsus

Hindari Bentrok, IPW Desak Panglima TNI Tarik Tentara yang Jaga Rumah Jampidsus

July 9, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...