• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

MERENUNG ATAS PERINGATAN HARI KARTINI

fusilat by fusilat
April 21, 2022
in Feature
0
MERENUNG ATAS PERINGATAN HARI KARTINI

dok.istimewa

Share on FacebookShare on Twitter

Hari ini, 21 April dikenal sebagai Hari Kartini. Sudah tertulis di buku-buku sejarah, bahwa Kartini adalah pejuang emansipasi. Saya hanya berusaha sedikit “ndunungké” atau berusaha meletakkan pada porsinya, bahwa Kartini sebenarnya tidak lebih besar dari Dewi Sartika, tidak juga lebih hebat dari Cut Nyak Dhien, Laksamana Malahayati dan perempuan-perempuan hebat sebelum ia. Kenapa? Kartini itu sengaja diangkat Belanda demi percontohan “berhasilnya” Etische Politiek (Politik Etis) atau politik balas budi. Adalah Conrad van Deventer (1857-1915), seorang ahli hukum Belanda, yang sekaligus adalah tokoh Politik Etis (1901) yang memperjuangkan bidang edukasi, emigrasi dan irigasi untuk kaum inlander agar bisa mengecap pendidikan yang sama dengan kaum ningrat dan golongan berpunya.

Ia mendirikan Kweekschool voor Inlader Onderijzeressen, yakni sekolah bagi kaum inlander di banyak daerah, salah satunya di Salatiga. Sebagaimana diketahui bahwa dimasa kolonial, tidak semua orang bisa mendapatkan pendidikan kecuali orang-orang dengan strata sosial tinggi seperti priyayi, orang kaya dan ningrat. Dengan politik balas Budi, Belanda ingin dicitrakan baik hati kepada bangsa jajahan. Dan Lalu mengangkat Kartini sebagai simbol keberhasilan pendidikan Politik Etis nya tersebut.

Sedangkan Dewi Sartika ditenggelamkan citranya oleh Belanda karena nenek maupun bapaknya terlibat dalam pemberontakan Tegallega. Yang satu putri bupati “baik-baik”, yang lain anak bupati atau Patih yang dibuang ke Ternate… Demikian tulis H. Mahbub Djunaidi kepada sahabatnya, sebagaimana ditulis dalam Biografi Hussein Badjerei (2003), hlm. 233-234)

Sebagai informasi, H. Mahbub Djunaidi adalah seorang penulis, kolomnis, dan aktifis pergerakan yang cukup dikenal. Ia aktif di organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan di PBNU. Tulisan-tulisannya tersebar luas. Menggelitik dan kritis. Akibatnya, ia sempat mendekam dalam penjara. Uniknya, ia bersahabat karib dengan Hussein Badjerei, seseorang yang hidupnya banyak dihabiskan sebagai aktivis Al-Irsyad, yakni organisasi pembaharu yang didirikan oleh Syaikh Ahmad Soorkati.

Tak hanya Mahbub yang mempertanyakan sosok Kartini yang lebih ditonjolkan sebagai pejuang wanita Indonesia dibandingkan perempuan-perempuan hebat yang semasa dengannya, tetapi juga ada nama-nama lain yang merupakan sejarawan senior, seperti Prof Harsja W Bachtiar dan Dr. Taufik Abdullah. Baik Mahbub, Harsja, maupun Taufik Abdullah, semuanya memiliki pandangan bahwa Kartini ditonjolkan oleh Belanda untuk menunjukkan bahwa Politik Etis telah berhasil.

Demikianlah…tulisan rekonstruksi sejarah begini pasti akan menuai banyak protes. Karena sudah pakem di buku-buku sejarah demikian yang tertulis. Tidak dikomparasikan betapa jauh sebelum Kartini, perempuan-perempuan secara adi kodrati sangatlah ‘berdaya’ dan punya kedudukan yang sama dengan laki-laki. Bahwa kemudian terjadi sub-ordinasi atas peran perempuan, adalah akibat budaya feodal warisan penjajah Belanda. Betapa peran perempuan yang sangat berpengaruh dimasa lalu, berusaha dihilangkan dari ingatan bangsa Indonesia, hanya dianggep sebagai “konco wingking”, yang hanya berkutat soal dapur, sumur dån kasur. Secara busana pun, diberikan kain sinjang alias jarit, untuk membatasi langkah-langkahnya ben ra pecicilan jalannya. Sudah begitu, kalo jalan disuruh menunduk, “tumungkul”, tidak boleh menatap mata, hanya boleh bersuara jika diminta, seolah takdir pun ditentukan, pasangan hidup dipilihkan…dan lain-lain, masih banyak lagi aturan feodal untuk membelenggu perempuan.

Dengan feodalisme, Belanda berusaha menutupi peran besar perempuan dalam sejarah dan filosofi bangsa Indonesia.
Secara adi kodrati, perempuan di bumi Nusantara dihormati sebagai simbol penguasa lautan, ada Kanjeng Ratu Kidul sebagai penguasa laut selatan, bumi pun disebut Ibu Pertiwi, Ibu Bumi. Juga ada “unen-unen” soal Sabda Pandita Ratu, ini simbolisasi kekuatan perempuan yang “malati”, cerdas, dan berotak cemerlang. Bahwa di balik seorang Raja, ada Ratu yang kata-kata nya bertuah, kawan berdiskusi dan bahkan ahli strategi. Bukan disebut Sabda Pandita Raja; di belakang seorang raja selalu ada pembisiknya, yaitu ratu. Hingga ada plesetan bahwa dibalik tokoh laki-laki antagonis, selalu ada wanita sebagai pengendali dan pengatur skenarionya.

Dalam kisah sejarah, dijaman kerajaan Singhasari, yang disebut berhati SINGHA sebenarnya adalah Kendedes. Patut diduga, ialah tokoh yang menyingkirkan Tunggul Ametung dan Ken Arok karena dianggap tidak menepati janjinya, yakni membawa trah Jenggala di Tumapel untuk mendominasi wilayah. Ini mungkin salah satu contoh bahwa perempuan diera itu sudah berperan menjadi semacam silent operator.
Bahkan dalam filosofi Jawa pun, bencana alam atau katastropi, juga disimbolkan sebagai kekuatan Shakti (perempuan), bukan Syiwa (laki-laki) yang jika marah dan mengamuk bisa memporak-porandakan segalanya.

Bisa dibayangkan betapa keberadaan feodalisme berusaha mengecilkan dan mensubordinasi peran perempuan dalam sejarah dan filsafat bangsa. Bahkan dengan penonjolan tokoh Kartini yang termehek-mehek menulis kegalauannya dalam surat kepada sahabatnya yang orang Belanda itu jadi semacam mendegradasi peran perempuan Nusantara yang begitu hebatnya.(🥀mda) 
Kopi_kir sendirilah!

Oleh : Malika D. Ana

Social Politic Enthusiast

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Dilema Politik “Big Data” Menko Luhut

Next Post

Kasus Mafia Minyak Goreng, Kejagung Siap-siap Memberikan Kejutan

fusilat

fusilat

Related Posts

RPP Manajemen ASN: Karpet Merah Dwifungsi dan Ilusi Resiprokalitas yang “Omong Kosong”
Birokrasi

RPP Manajemen ASN: Karpet Merah Dwifungsi dan Ilusi Resiprokalitas yang “Omong Kosong”

April 27, 2026
Pak Prabowo Subianto, Negara Ini Butuh Akademisi yang Berani, Bukan yang Dibungkam
Birokrasi

Pak Prabowo Subianto, Negara Ini Butuh Akademisi yang Berani, Bukan yang Dibungkam

April 27, 2026
Economy

Manajemen Risiko Kebijakan Program Terpadu Pencegahan Open Drug Scene di Kawasan Perkotaan Indonesia (Studi Banding Kensington Avenue, Philadelphia dan Kawasan Pasar Senen, Jakarta)

April 27, 2026
Next Post
Kasus Mafia Minyak Goreng, Kejagung Siap-siap Memberikan Kejutan

Kasus Mafia Minyak Goreng, Kejagung Siap-siap Memberikan Kejutan

Lili Pintauli dan Cermin Retak Citra KPK Masa Kini

Lili Pintauli dan Cermin Retak Citra KPK Masa Kini

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan
Crime

IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

by fusilat
April 27, 2026
0

Jakarta-FusilatNews.- Suharyono alias Dobrak (42), yang sehari-hari bekerja sebagai buruh harian lepas, kini menyandang status tersangka berdasarkan Surat Ketetapan Tersangka...

Read more
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

April 24, 2026
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

RPP Tugas TNI: Wujud Remiliteriasi yang Bahayakan Kehidupan Demokrasi

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
RPP Manajemen ASN: Karpet Merah Dwifungsi dan Ilusi Resiprokalitas yang “Omong Kosong”

RPP Manajemen ASN: Karpet Merah Dwifungsi dan Ilusi Resiprokalitas yang “Omong Kosong”

April 27, 2026
Pelantikan Senyap di Istana: Siapa Digeser, Siapa Diselamatkan?

Pelantikan Senyap di Istana: Siapa Digeser, Siapa Diselamatkan?

April 27, 2026
Pak Prabowo Subianto, Negara Ini Butuh Akademisi yang Berani, Bukan yang Dibungkam

Pak Prabowo Subianto, Negara Ini Butuh Akademisi yang Berani, Bukan yang Dibungkam

April 27, 2026

Manajemen Risiko Kebijakan Program Terpadu Pencegahan Open Drug Scene di Kawasan Perkotaan Indonesia (Studi Banding Kensington Avenue, Philadelphia dan Kawasan Pasar Senen, Jakarta)

April 27, 2026
IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

April 27, 2026
Ekonomi Kita: Alarm Darurat, Tapi Yang Sibuk Justru Retorika

Ekonomi Kita: Alarm Darurat, Tapi Yang Sibuk Justru Retorika

April 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

RPP Manajemen ASN: Karpet Merah Dwifungsi dan Ilusi Resiprokalitas yang “Omong Kosong”

RPP Manajemen ASN: Karpet Merah Dwifungsi dan Ilusi Resiprokalitas yang “Omong Kosong”

April 27, 2026
Pelantikan Senyap di Istana: Siapa Digeser, Siapa Diselamatkan?

Pelantikan Senyap di Istana: Siapa Digeser, Siapa Diselamatkan?

April 27, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist