• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Dilema Politik “Big Data” Menko Luhut

fusilat by fusilat
April 21, 2022
in Feature
0
Dilema Politik “Big Data” Menko Luhut

Arie Putra (Foto: dok. pribadi)

Share on FacebookShare on Twitter

Dilema Politik “Big Data” Menko Luhut
Oleh: Arie Putra

Presiden Donald Trump mengamuk ketika tidak ada kesepakatan dengan Kongres Amerika Serikat terkait anggaran pembangunan tembok di perbatasan Meksiko. Janji kampanye pada Pemilu 2016 yang akan habiskan puluhan miliar Dollar AS itu harus terwujud jelang memasuki tahun politik 2020.

Berbagai langkah perang pun diambil oleh pemerintahan Presiden Trump, mulai dari menghentikan pelayanan (shutdown) selama tiga puluh hari lebih, terlama dalam sejarah pemerintahan Amerika Serikat, hingga menggencarkan kampanye penggalangan opini publik. Di dalam kisah-kisah pertarungan ini, beberapa lembar cerita terselip, yakni mengenai big data.

Publik Amerika Serikat masih belum lupa dengan mitos soal Cambridge Analytica, yang memanen data pribadi pemilih dari media sosial, lalu memanfaatkannya untuk melakukan kampanye yang menyasar langsung pada level individual (micotargeting). Tujuannya memanipulasi kesadaran pemilih lewat berbagai pesan kampanye yang sudah disesuaikan dengan berbagai rancangan permodelan psikologis.

Tak terkecuali langkah yang diambil oleh tim kepresidenan Trump dalam mengupayakan kebijakan tembok perbatasan ini. Pendukung-pendukungnya terus menerima informasi tentang keadaan darurat penyusupan imigran ilegal beserta narkoba. Lalu, orang-orang yang belum memiliki sikap dijejali informasi yang membuatnya semakin bimbang.

Sementara, pihak penentang Trump dipertontonkan pernyataan-pernyataan absurd dari pentolan Partai Demokrat yang menolak kebijakan tersebut. Pada derajat tertentu, Trump pun dapat dikatakan berhasil menekan lawan politiknya.

Beberapa waktu belakangan, Menteri Kordinator Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan juga harus berurusan dengan big data. Argumennya mengenai data 110 juta orang yang mendukung penundaan pemilu, berdasarkan big data, menjadi salah satu faktor yang memicu kegaduhan, yang kemudian diikuti oleh aksi mahasiswa di banyak daerah.

Pesan yang kontroversial diucapkan oleh seseorang yang juga kontroversial. Pastinya, keriuhan pun tidak dapat dihindari. Rasanya agak tidak mungkin, Menko Luhut tidak memiliki kalkulasi atas pernyataan yang diucapkannya. Dengan big data yang dimiliki, Menko Luhut seharusnya tahu kisi-kisi penilaian publik selama ini terhadap pernyataan-pernyataannya.

Esensi penggunaan big data adalah upaya untuk mendengarkan opini publik, sekaligus mengenal lebih dalam dan menyeluruh karakteristik dari populasi. Big data tentunya akan mempermudah pemerintah untuk membangun pesan politik yang lebih meyakinkan kepada kelompok yang sudah teridentifikasi karakteristiknya. Apalagi, kebijakan yang ingin dibuat memiliki muatan substansi yang sangat sensitif, seperti isu penundaan pemilu.

Lepas dari nyata atau fiktif big data milik Menko Luhut ini, kemelut politik belakangan tidak lepas dari ketidakmampuan pemerintah dalam memahami perilaku publik. Pemerintah malah menjadi bagian dari permainan sulap dengan trik-trik kuno yang sangat mudah terbongkar, seperti deklarasi dukungan perpanjangan yang melibatkan berbagai pihak.

Dengan jumlah sampel yang begitu besar, pemanfaatan big data idealnya dapat memberikan penjelasan yang lebih presisi. Dengan data yang memadai, Menko Luhut pasti dapat membuat ramalan terhadap reaksi penolakan penundaan pemilu yang begitu keras, proyeksi mengenai aksi demonstrasi yang terjadi, dan bahkan melihat tendensi yang berujung pada tindak kekerasan, seperti apa yang dialami oleh influencer Ade Armando.

Pada titik yang lebih ekstrem, hasil pengolahan big data juga mungkin saja bisa merekomendasikan Menko Luhut untuk ikut atau tidak ikut berbicara dalam isu tertentu. Informasi yang begitu besar pasti mampu menghasilkan kesimpulan yang lebih terukur.

Publik pun tidak bisa terhindar dari suudzon berjemaah. Tentunya, tidak bisa disalahkan bila ada pihak yang menilai big data Menko Luhut sebagai gosip politik semata. Ditambah lagi, Menko Luhut tidak memberikan transparansi terhadap data tersebut.

Ada baiknya kembali pada esensi bernegara, sumpah Presiden Jokowi dan Menko Luhut sebagai pejabat publik merupakan tanggung jawab kepada seluruh rakyat Indonesia, bukan hanya kepada 110 juta yang ada di big data. Maka, prinsip tersebut harus menjadi dasar dalam menghasilkan sikap dan pernyataan publik.

Dalam pengelolaan negara, alat ukur demokrasi bukanlah sekadar besar-besaran jumlah dukungan. Justru, negara harus berani menerobos tembok tirani mayoritas yang menghalangi penyelenggaraan keadilan. Kekuasaan harus diletakkan pada tempat yang patut, yakni untuk melindungi citizenship dengan akal, nalar, dan kebijaksanaan.

Partisipasi dalam pemilu merupakan hak yang harus dilindungi. Maka, penundaan terhadap hak tanpa melalui prasyarat yang diamanahkan dalam perundang-undangan jelas merupakan sebuah rencana yang tidak tepat. Untungnya sejauh ini, Presiden Jokowi sudah menyatakan jaminan pelaksanaan Pemilu 2024 sesuai dengan tanggal yang sudah ditetapkan.

Di tengah pengelolaan negara yang penuh unsur irasional, perhatian Menko Luhut terhadap big data sebenarnya sangat perlu diapresiasi. Namun yang harus diingat, prinsip-prinsip kewarganegaraan juga tidak boleh diabaikan. Yang jauh lebih penting daripada big data, pemerintah haruslah memiliki big commitment untuk melindungi hak setiap warga negara. Presiden Jokowi adalah pemimpin seluruh rakyat Indonesia, tentu beliau tak mau dianggap sebagai The President of big data.

Arie Putra, co-founder Total Politik, host Adu Perspektif detikcom X Total Politik.

Dikutip dari detik.com, Selasa 19 April 2022.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Jangan Ada Provokasi Politik Identitas

Next Post

MERENUNG ATAS PERINGATAN HARI KARTINI

fusilat

fusilat

Related Posts

Prabowo Itu Mau Apa? Merampingkan atau Menggemukan Kabinet di Tengah Kinerja yang Dipertanyakan
Birokrasi

Prabowo Itu Mau Apa? Merampingkan atau Menggemukan Kabinet di Tengah Kinerja yang Dipertanyakan

April 27, 2026
Cross Cultural

Kejujuran Menang di Jepang, Mungkinkah di Indonesia?

April 27, 2026
Birokrasi

MENGGUGAT ETIKA KELUARGA DALAM RUANG NEGARA

April 27, 2026
Next Post
MERENUNG ATAS PERINGATAN HARI KARTINI

MERENUNG ATAS PERINGATAN HARI KARTINI

Kasus Mafia Minyak Goreng, Kejagung Siap-siap Memberikan Kejutan

Kasus Mafia Minyak Goreng, Kejagung Siap-siap Memberikan Kejutan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan
Crime

IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

by fusilat
April 27, 2026
0

Jakarta-FusilatNews.- Suharyono alias Dobrak (42), yang sehari-hari bekerja sebagai buruh harian lepas, kini menyandang status tersangka berdasarkan Surat Ketetapan Tersangka...

Read more
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

April 24, 2026
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

RPP Tugas TNI: Wujud Remiliteriasi yang Bahayakan Kehidupan Demokrasi

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Prabowo Itu Mau Apa? Merampingkan atau Menggemukan Kabinet di Tengah Kinerja yang Dipertanyakan

Prabowo Itu Mau Apa? Merampingkan atau Menggemukan Kabinet di Tengah Kinerja yang Dipertanyakan

April 27, 2026

Kejujuran Menang di Jepang, Mungkinkah di Indonesia?

April 27, 2026

MENGGUGAT ETIKA KELUARGA DALAM RUANG NEGARA

April 27, 2026
Prabowo Lantik 6 Pejabat Baru Kabinet Merah Putih di Istana Negara

Prabowo Lantik 6 Pejabat Baru Kabinet Merah Putih di Istana Negara

April 27, 2026
RPP Manajemen ASN: Karpet Merah Dwifungsi dan Ilusi Resiprokalitas yang “Omong Kosong”

RPP Manajemen ASN: Karpet Merah Dwifungsi dan Ilusi Resiprokalitas yang “Omong Kosong”

April 27, 2026
Pelantikan Senyap di Istana: Siapa Digeser, Siapa Diselamatkan?

Pelantikan Senyap di Istana: Siapa Digeser, Siapa Diselamatkan?

April 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Prabowo Itu Mau Apa? Merampingkan atau Menggemukan Kabinet di Tengah Kinerja yang Dipertanyakan

Prabowo Itu Mau Apa? Merampingkan atau Menggemukan Kabinet di Tengah Kinerja yang Dipertanyakan

April 27, 2026

Kejujuran Menang di Jepang, Mungkinkah di Indonesia?

April 27, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist