• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

MILITERISME DI INDONESIA

Radhar Tribaskoro by Radhar Tribaskoro
March 21, 2025
in Feature, Politik
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Radhar Tribaskoro-Komite Eksekutif Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia

Istilah militerisme sering muncul dalam wacana politik Indonesia, terutama ketika figur militer aktif atau purnawirawan menempati posisi strategis di pemerintahan sipil. Namun, tidak semua keterlibatan militer dalam jabatan sipil dapat dikategorikan sebagai bentuk militerisme. Untuk memahami hal ini secara jernih, kita perlu meninjau definisi teoretis militerisme, mengkaji konteks kehadiran militer di sektor sipil, serta mempertimbangkan prinsip meritokrasi sebagai tolok ukur utama dalam pengisian jabatan publik.

Pengertian Teoretis Militerisme

Secara teoretis, militerisme adalah suatu paham atau praktik yang menempatkan militer dan nilai-nilai militer sebagai pusat dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Menurut Alfred Vagts, seorang sejarawan militer, militerisme bukan sekadar dominasi institusi militer dalam urusan negara, melainkan juga menyangkut meluasnya pengaruh cara berpikir, norma, dan budaya militer ke dalam masyarakat sipil. Dalam kondisi ekstrem, militerisme dapat mengarah pada subordinasi politik sipil di bawah kendali militer, di mana kekuasaan politik dan kebijakan negara dikendalikan oleh aparat berseragam, bukan oleh lembaga-lembaga sipil yang demokratis.

Di sisi lain, ada juga pengertian militerisme yang lebih longgar, yang sekadar merujuk pada kecenderungan mengandalkan pendekatan koersif, kekuatan militer, atau penempatan personel militer dalam ranah sipil. Namun, kedua pengertian ini tetap menempatkan supremasi militer di atas prinsip-prinsip demokrasi dan supremasi sipil.

Tentara di Jabatan Sipil Bukan Militerisme

Dalam konteks Indonesia, kecenderungan penempatan perwira militer aktif atau purnawirawan dalam jabatan sipil kerap disebut sebagai bentuk militerisme. Namun, penilaian semacam itu seringkali lebih bersifat persepsi daripada berbasis analisis mendalam. Kehadiran militer di sektor sipil tidak otomatis berarti negara ini menganut militerisme.

Pertama, dalam sistem politik Indonesia hari ini, supremasi sipil tetap terjaga. Presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan adalah figur sipil yang dipilih langsung oleh rakyat. Parlemen sebagai representasi kekuatan sipil memiliki fungsi legislasi dan pengawasan yang berjalan normal. Tidak ada indikasi bahwa militer mengendalikan lembaga-lembaga politik sipil atau memaksakan kehendaknya secara sistemik.

Kedua, banyak perwira militer yang diangkat ke jabatan sipil justru menduduki posisi tersebut melalui mekanisme legal formal yang diatur undang-undang, termasuk persyaratan administratif dan profesional yang berlaku. Jabatan itu diisi melalui proses seleksi yang mempertimbangkan kompetensi, pengalaman, dan integritas, bukan semata-mata asal-usul korps.

Fakta bahwa seorang perwira militer aktif atau purnawirawan mengisi jabatan sipil tidak lantas menunjukkan negara ini menganut militerisme. Dalam sejumlah kasus, mereka dipilih karena keahlian manajerial, kapasitas kepemimpinan, dan pengalaman di medan tugas yang menuntut disiplin tinggi serta pengambilan keputusan cepat dalam situasi krisis.

Meritokrasi Sebagai Tolok Ukur

Tolok ukur utama dalam pengisian jabatan publik seharusnya adalah meritokrasi. Dalam konsep ini, seseorang menduduki jabatan karena kemampuan, prestasi, dan integritasnya, bukan karena afiliasi politik, jaringan personal, atau asal-usul institusional semata. Prinsip ini berlaku universal, baik bagi sipil maupun militer.

Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto pada 2024 menunjukkan kecenderungan mengembalikan meritokrasi dalam tubuh militer yang sempat melemah di masa-masa sebelumnya. Sejak era reformasi, reformasi TNI berjalan menuju profesionalisme, tetapi problematika praktik patronase dan politisasi jabatan di lingkungan militer masih terjadi, terutama pada era pemerintahan sebelum Prabowo. Pengangkatan pejabat tinggi militer pada masa itu tidak selalu mencerminkan pertimbangan meritokrasi, melainkan lebih pada kedekatan politik atau afiliasi personal dengan penguasa.

Di bawah pemerintahan Prabowo, penempatan pejabat tinggi di TNI mulai kembali menegakkan prinsip meritokrasi, di mana rekam jejak profesional, pendidikan militer, pengalaman lapangan, dan integritas menjadi faktor utama dalam promosi jabatan. Rekrutmen berbasis prestasi ini menciptakan suasana yang lebih sehat dalam tubuh TNI, sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap profesionalisme militer.

Keberhasilan ini berkontribusi pada citra militer yang kembali solid secara internal, sehingga wajar jika kemudian para perwira militer ini dianggap layak mengisi posisi-posisi penting di pemerintahan. Dalam banyak kasus, mereka membawa standar kerja berbasis kinerja dan disiplin yang tinggi, yang bisa menjadi teladan di sektor sipil.

Kritik kepada Kalangan Sipil

Namun, perlu juga disorot bahwa banyaknya personel militer di jabatan sipil justru mencerminkan problem mendasar di kalangan sipil sendiri. Minimnya tokoh sipil yang mampu bersaing dan menembus jabatan-jabatan strategis di pemerintahan menunjukkan ada masalah dalam kualitas sumber daya manusia di sektor sipil.

Pertama, banyak elite sipil yang tidak menunjukkan kapasitas kepemimpinan yang kuat, manajemen birokrasi yang efisien, dan komitmen terhadap kepentingan publik. Kerap kali jabatan diisi berdasarkan pertimbangan politik transaksional, bukan karena kualifikasi. Politisasi birokrasi sipil menyebabkan banyak figur potensial tersingkir atau tidak berkembang.

Kedua, sektor pendidikan dan pelatihan kepemimpinan di kalangan sipil tertinggal dibandingkan militer. TNI, misalnya, memiliki sistem pendidikan berjenjang dan kaderisasi yang jelas, terukur, dan berbasis kinerja. Di sektor sipil, mekanisme pengembangan karier sering kali tidak konsisten dan sarat intervensi politik. Akibatnya, tidak banyak lahir pemimpin sipil yang siap mengelola krisis, mengambil keputusan strategis, dan menjalankan birokrasi secara efektif.

Ketiga, rendahnya budaya kerja berbasis disiplin dan tanggung jawab di lingkungan sipil menambah panjang daftar tantangan. Dalam kondisi seperti itu, wajar jika Presiden atau kepala daerah lebih memilih figur militer yang sudah teruji dalam menghadapi tekanan dan target kerja yang jelas.

Kritik kepada kalangan sipil bukan berarti membenarkan dominasi militer di jabatan sipil. Justru ini menjadi catatan agar sektor sipil berbenah, meningkatkan kualitas SDM, dan memperbaiki sistem meritokrasi di lingkup mereka sendiri. Jika kalangan sipil mampu menunjukkan kapasitas yang setara atau bahkan lebih baik, tidak ada alasan bagi mereka untuk kalah bersaing dari figur militer.

Penyeimbangan Peran Sipil dan Militer

Meritokrasi tetap harus dijaga sebagai prinsip utama dalam pengisian jabatan publik. Dalam kerangka itu, keterlibatan militer di sektor sipil perlu dilihat secara objektif: apakah mereka layak secara kompetensi, ataukah semata-mata karena afiliasi politik? Pemerintahan Prabowo saat ini memberikan contoh bahwa meritokrasi yang ditegakkan dalam tubuh militer berdampak pada kualitas individu yang muncul ke permukaan, yang kemudian dianggap layak untuk memimpin sektor sipil.

Namun, tetap diperlukan keseimbangan. Pemerintahan yang sehat harus mengupayakan dominasi sipil di ruang-ruang politik dan pemerintahan. Supremasi sipil bukan hanya soal siapa yang lebih banyak menduduki jabatan, melainkan soal bagaimana proses politik berlangsung dalam koridor demokrasi. Penempatan personel militer aktif di jabatan sipil tetap harus mematuhi aturan hukum, seperti UU TNI yang mengatur tentang peran dan fungsi militer.

Pemerintahan Prabowo pun diharapkan tidak terjebak pada pragmatisme, di mana keberhasilan individu militer menjadi pembenaran untuk menempatkan semakin banyak militer dalam jabatan sipil. Sebaliknya, sistem kaderisasi di birokrasi sipil harus diperkuat agar tidak terjadi ketergantungan yang berlebihan pada kalangan militer.

Penutup

Militerisme bukan sekadar soal banyaknya militer di jabatan sipil, melainkan soal dominasi nilai dan cara kerja militer dalam seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Indonesia hari ini masih jauh dari gambaran itu. Kehadiran militer di ruang sipil lebih merupakan cerminan dari lemahnya kapasitas sipil, sekaligus keberhasilan meritokrasi di lingkungan TNI.

Kunci utama untuk menghindari kecenderungan militerisme adalah penegakan meritokrasi secara adil di semua sektor. Jika sipil dan militer bersaing secara setara dalam sistem berbasis prestasi, maka siapa pun yang layak akan tampil tanpa kecurigaan atau stigma. Dalam hal ini, pemerintahan Prabowo telah menunjukkan langkah positif dalam menata meritokrasi, khususnya di lingkungan militer, yang diharapkan menjadi contoh bagi birokrasi sipil di masa mendatang.===

Cimahi, 18 Maret 2025

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Ada Pemain Besar yang Belum Tersentuh dalam Kasus Korupsi Pertamina

Next Post

Penjelasan Badan Geologi Terkait Dahsyatnya letusan Gunung Lewotobi

Radhar Tribaskoro

Radhar Tribaskoro

Related Posts

Bagaimana Wapres Gibran Menyelesaikan Rupiah yang Terpuruk dan Ekonomi yang Memburuk?
Feature

Bagaimana Wapres Gibran Menyelesaikan Rupiah yang Terpuruk dan Ekonomi yang Memburuk?

June 12, 2026
Papua: Kaya untuk Jakarta, Miskin untuk Orang Papua
Feature

Papua: Kaya untuk Jakarta, Miskin untuk Orang Papua

June 12, 2026
Menantang Prabowo: Bangsa ‘Besar’ yang Devisanya Terkikis Impor
Politik

Gagal Berkali-kali, Ketika Jadi Presiden Gagal Lagi

June 12, 2026
Next Post
Gunung Lewotobi Muntahkan Guguran Lava Pijar Sejauh 1 Km

Penjelasan Badan Geologi Terkait Dahsyatnya letusan Gunung Lewotobi

Minyakita Langka Di Pasar, Harga Mencapai Diatas Rp17 ribu, KPPU Memulai Pra Penyelidikan

Mendag Perkuat Pengawasan Atasi Persoalan Minyakita

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Aktivis 98 Kutuk Teror Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus
Birokrasi

Vonis Kasus Andrie Yunus: Pelanggengan Impunitas dan Remiliterisasi

by Karyudi Sutajah Putra
June 12, 2026
0

Jakarta - FusilatNews.--Pengadilan Militer II-08 Jakarta akhirnya menjatuhkan vonis terhadap empat personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) setelah terbukti melakukan penyiraman...

Read more
IPW Desak Propam Polda Metro Jaya Sidangkan Penyidik Polres Depok

IPW Sarankan Judicial Review ke MK Jika Tak Puas dengan UU Polri Baru

June 12, 2026

Siapa SA Anggota DPR RI dari Madura yang Diduga Jual-Beli Titik MBG?

June 9, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Bagaimana Wapres Gibran Menyelesaikan Rupiah yang Terpuruk dan Ekonomi yang Memburuk?

Bagaimana Wapres Gibran Menyelesaikan Rupiah yang Terpuruk dan Ekonomi yang Memburuk?

June 12, 2026
Papua: Kaya untuk Jakarta, Miskin untuk Orang Papua

Papua: Kaya untuk Jakarta, Miskin untuk Orang Papua

June 12, 2026
Menantang Prabowo: Bangsa ‘Besar’ yang Devisanya Terkikis Impor

Gagal Berkali-kali, Ketika Jadi Presiden Gagal Lagi

June 12, 2026
Macet Sampi 19 Kilometer, Hingga Pemudik di Pelabuhan Merak Pingsan

Negara Jadi Pedagang, Rakyat Jadi Pelanggan: Untuk Apa Kita Memiliki Pemerintah?

June 12, 2026
Per 1 September 2023 Pertamina Naikkan Semua Harga BBM Non Subsidi

Kenaikan BBM dan Momentum Kerakusan

June 12, 2026

REVOLUSI KEDUA DAN UJIAN MORAL PARA VETERAN

June 12, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Bagaimana Wapres Gibran Menyelesaikan Rupiah yang Terpuruk dan Ekonomi yang Memburuk?

Bagaimana Wapres Gibran Menyelesaikan Rupiah yang Terpuruk dan Ekonomi yang Memburuk?

June 12, 2026
Papua: Kaya untuk Jakarta, Miskin untuk Orang Papua

Papua: Kaya untuk Jakarta, Miskin untuk Orang Papua

June 12, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...