Reuters memuat artikel dengan judul “Indonesia presidential candidate Prabowo picks Jokowi’s son as running mate”. Disebut bagaimana Prabowo memilih Gibran di tengah “kemarahan” yang belum reda di dalam negeri karena keputusan Mahkamah Konstitusi
Waktu Prabowo head to head melawan dengan Capres Jokowi pada Pilpres 2019, gagah nian pekik suaranya. Sambil gebrak-gebrak meja, teriakan bak halilintar menggelegar gemuruh anti asing. Disusul dengan anti korupsi dengan istilah bobor bocor bocor. Ada lagi “kita tidak butuh kartu – kita butuh kerja – butuh makan dst,”.
Berbeda dengan kampanye saat ini, selain melenggak-gemulai-lenggokan tubuhnya yang gemoy, nampaknya ia sudah kehabisan narasi. Yang terucap adalah; “saya tidak akan bicara apa-apa lagi, kami berdua hanya akan menyerahkan seluruh jiwa raganya untuk bangsa dan negara”, begitu kira-kira dalam ungkapkan yang saya tangkap.
Nyata benar, kehadiran sang Gibran membuat kaku lidahnya. Ia tak bisa leluasa bicara soal korupsi lagi, sementara di kementriannya mulai terbuka ada indikasi kearah sana. Mau bicara pertumbuhan ekonomi? Apa design ekonomi barunya, padahal konsepnya ingin melanjutkan program-program Jokowi. Tahun 2024, pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi hanya 4.5%, artinya gagal memenuhi target 5.5%. Food estate yang ia pimpin adalah potret kegagalan dirinya, yang tidak bisa dielakan dengan dalil apapun – kecuali program itu gagal total. Merugikan keungan Negara. Merusak Hutan dan Lingkungan.
Media asing memuat pemberitaan soal pemilihan presiden (pilpres) RI, terkait bakal calon presiden (capres) Prabowo Subianto dan wakil presidennya (wapres) yang sudah terpilih, Gibran Rakabuming Raka.
Reuters memuat artikel dengan judul “Indonesia presidential candidate Prabowo picks Jokowi’s son as running mate”. Disebut bagaimana Prabowo memilih Gibran di tengah “kemarahan” yang belum reda di dalam negeri karena keputusan Mahkamah Konstitusi (MK).
Akankah pidato heroic seperti ini, terjadi lagi? – Lalu apa yang akan dilakukannya kedepan?
“Saudara-saudara, kita masih upacara, kita masih menyanyikan lagu kebangsaan, kita masih pakai lambang-lambang negara, gambar-gambar pendiri bangsa masih ada di sini.”
“Tetapi di negara lain, mereka sudah bikin kajian-kajian di mana Republik Indonesia sudah dinyatakan tidak ada lagi tahun 2030. Bung, mereka ramalkan kita ini bubar!”
Demikian kata Prabowo dalam acara konferensi dan temu kader nasional Partai Gerindra di Bogor, Jawa Barat, Oktober tahun 2017.
Dalam pidato yang lain, Prabowo Subianto mengajukan argumen-argumen tentang penguasaan tanah dan kekayaan.
“Elite kita ini merasa bahwa 80% tanah seluruh negara dikuasai 1% rakyat kita, tidak apa-apa. Bahwa hampir seluruh aset dikuasai 1%, tidak apa-apa.”
“Bahwa sebagian besar kekayaan kita diambil ke luar negeri, tidak tinggal di Indonesia, tidak apa-apa. Ini yang merusak bangsa kita, saudara-saudara,” ujarnya.
Merujuk pernyataan Prabowo, menurut Wakil Ketua Umum Gerindra, Ferry Juliantono, rasio gini tanah nasional yang disebutnya 0,8% merupakan salah satu prasyarat bubarnya Indonesia.
Ia memaknai perkataan Prabowo sebagai peringatan. “Artinya, 1% penduduk Indonesia menguasai 80% tanah di Indonesia. Satu persen itu segelintir,” tuturnya.
Selain ketimbangan penguasaan tanah, Juliantono juga menyebut beban keuangan Indonesia telah mencapai nominal yang mengkhawatirkan. “Sekarang sudah Rp4.000 triliun padahal APBN saja Rp 2.000 triliun. Bagaimana bayarnya?”
Mulut”Kemudian gini rasio penguasaan aset 0,43. Belum lagi sumber-sumber daya kita di bawa ke luar dalam bentuk bahan baku, bahan mentah,” ucapnya.























