Dalam kosakata politik Indonesia, ada istilah yang akrab di telinga: “Hil yang mustahal.” Ungkapan pelawak almarhum Asmuni itu kembali menemukan panggungnya hari ini, tepat ketika kita mencoba—atau pura-pura mencoba—memisahkan figur Prabowo Subianto dari Joko Widodo. Dalam realitas politik yang penuh kalkulasi, kepentingan, dan simbiosis, hubungan keduanya bukan sekadar dekat; ia sudah menjelma menjadi satu tarikan napas. Memisahkan Prabowo dan Jokowi? Hil yang mustahal.
Pertama: Ambisi Seumur Hidup yang Tersangkut Pada Nama Jokowi
Prabowo adalah contoh klasik politisi yang ambisinya tak pernah padam. Empat kali ia maju sebagai calon presiden. Tiga kali ia gagal, dan pada setiap kegagalan itu, narasi tentang “takdir politik” sering muncul untuk melunakkan fakta keras bahwa publik belum memilihnya.
Namun pada pencalonan keempat, sesuatu berubah. Jokowi—yang pernah menjadi lawan, pernah dicap sebagai musuh politik, pernah ditantang begitu keras—justru menjadi kunci. Tanpa Jokowi, jalan menuju kemenangan Prabowo akan tetap berupa dinding tebal, bukan pintu yang terbuka.
Koalisi yang dirangkai Jokowi, restu yang diselipkan tersirat maupun tersurat, dan struktur kekuasaan yang sudah terbentuk selama satu dekade membuat kemenangan Pilpres 2024 bukan hanya kemenangan Prabowo, melainkan kemenangan mesin Jokowi yang memilih Prabowo sebagai penerus.
Karena itu, bagaimana mungkin Prabowo dipisahkan dari Jokowi? Kemenangan politiknya hari ini bukan hanya miliknya, tetapi juga milik orang yang dulu dua kali ia lawan.
Kedua: Bayang-Bayang Masa Lalu yang Membutuhkan Persahabatan Baru
Prabowo bukan sosok yang memasuki gelanggang politik dengan ransel kosong. Ada masa lalu yang terus mengikuti, terutama terkait isu pelanggaran HAM. Sejumlah kalangan sipil, aktivis, dan lembaga HAM terus mengingatkan bahwa ada pertanyaan-pertanyaan yang belum dijawab tuntas.
Dalam kondisi seperti ini, menjadi musuh bagi terlalu banyak pihak adalah risiko yang tak bisa ia tanggung. Maka, merangkul seluruh lini, termasuk rival paling keras sekalipun, adalah strategi bertahan. Jokowi adalah sosok yang di masa lalu ia serang habis-habisan, tetapi hari ini justru menjadi sandaran legitimasi politik.
Keterikatan ini bukan sekadar kedekatan personal; ia adalah kebutuhan politis. Prabowo tahu, untuk memenangkan masa depan, ia harus mengelola masa lalu. Dan Jokowi—dengan kekuasaan, pengaruh, dan jejaringnya—adalah sekutu paling berharga.
Ketiga: Tuduhan Korupsi dan Kepentingan Merawat Persepsi Bersih
Dalam politik modern, isu korupsi adalah racun yang tak boleh dihirup terlalu dalam. Nama Prabowo sesekali terseret dalam berbagai tudingan, salah satunya seperti yang pernah disampaikan Connie Rahakundini Bakrie dalam sejumlah pernyataannya. Tuduhan-tuduhan itu tidak pernah diproses secara hukum dan tetap berada di wilayah kontroversi publik.
Namun di titik inilah pentingnya Jokowi: mempunyai sahabat dalam kekuasaan adalah perisai paling efektif melawan erosi persepsi. Jokowi selama masa jabatannya dikenal lihai mengelola citra dan memoles narasi. Kedekatan ini membantu Prabowo membangun ulang kepercayaan publik, menetralkan riak-riak kecurigaan, dan menciptakan kesan stabilitas.
Prabowo membutuhkan Jokowi bukan hanya sebagai penghubung politik, tetapi sebagai penyangga reputasi dalam lanskap publik yang semakin kritis.
Penutup: Keduanya Kini Satu Paket Politik
Yang terjadi pada Prabowo dan Jokowi bukan sekadar aliansi. Ia adalah fusi kepentingan, perpaduan strategi, dan penyatuan narasi. Keduanya saling bergantung: Jokowi membutuhkan keberlanjutan agenda; Prabowo membutuhkan legitimasi dan jaringan kekuasaan.
Maka jangan lagi bertanya apakah keduanya bisa dipisahkan. Relasi politik mereka bukan seperti dua pohon yang berdiri berdekatan; mereka adalah dua akar yang kini saling lilit—menciptakan tegakan yang sama, batang yang saling menopang.
Memisahkan Prabowo dari Jokowi?
Hil. Yang. Mustahal.
























