• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

NEGERI PARA MALIN KUNDANG

fusilat by fusilat
October 10, 2025
in Feature, Politik
0
Share on FacebookShare on Twitter

Yus Dharman, S.H., M.M., M.Kn.
Advokat / Ketua Dewan Pengawas FAPRI (Forum Advokat & Pengacara Republik Indonesia)

Menurut data statistik, jumlah rakyat miskin di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Hutang negara membengkak, pengangguran bertambah, dan lapangan pekerjaan justru semakin sulit dicari. Ironisnya, peningkatan utang tidak berbanding lurus dengan bertambahnya kesempatan kerja.

Jakarta, 10 Oktober 2025 – Pertanyaannya, di mana letak kesalahannya? Mengapa Indonesia hingga kini belum juga beranjak menjadi negara maju?


1. Penerapan Teori Top-Down yang Keliru

Pemerintah masih terjebak dalam paradigma top-down, di mana insentif dan fasilitas lebih banyak diberikan kepada pengusaha besar — mulai dari tarif listrik dan gas yang lebih murah, bunga pinjaman rendah, hingga fasilitas tax haven.
Kebijakan ini melahirkan ekonomi kapitalistik-liberal yang justru tanpa sadar disubsidi oleh negara, namun gagal menciptakan trickle-down effect — teori ekonomi yang menyatakan bahwa keuntungan bagi kalangan kaya akan “menetes” ke masyarakat bawah melalui penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi.

Sayangnya, teori ini hanya menjadi mitos di Indonesia. Korupsi telah menggerus harapan itu.
Banyak pengusaha besar berubah menjadi “Malin Kundang” — enggan berbakti pada tanah air, enggan berinvestasi di negeri sendiri, dan lebih memilih menanam modal di Tiongkok, Vietnam, Thailand, atau Kamboja yang dinilai lebih efisien.

Sebagian lainnya justru menjadi bohir dan merangkap politisi, membentuk oligarki ekonomi dan politik yang menguasai sektor bisnis dari hulu ke hilir. Akibatnya, UMKM kalah bersaing dan terjadilah pemiskinan struktural.

Sebaliknya, di Tiongkok, pengusaha dilarang menjadi penguasa. Pemisahan peran sangat tegas. Siapa pun yang ingin masuk ke ranah kekuasaan harus melalui sistem meritokrasi Partai Komunis yang ketat. Tidak ada jalan pintas, sekalipun dekat dengan presiden.
Tiongkok bahkan memberikan subsidi ekspor (rebate export) sebesar 13% bagi UMKM yang berorientasi ekspor — hasilnya, sektor UMKM mereka tumbuh pesat dan kuat di pasar global.


2. Ledakan Penduduk yang Tidak Terkontrol

Pertumbuhan penduduk Indonesia yang tinggi menjadi beban besar bagi ekonomi nasional. Program BKKBN terbukti tidak efektif menahan laju pertumbuhan. Akibatnya, banyak keluarga terjebak dalam ekonomi biaya tinggi, dan pemerintah pun kesulitan menyediakan lapangan kerja bagi angkatan muda yang terus bertambah.


3. Ketergantungan Impor yang Kronis

Indonesia masih terlalu bergantung pada impor. Defisit perdagangan terus melebar, memperlambat laju pertumbuhan ekonomi dan memperlemah ketahanan nasional di bidang pangan, energi, dan industri dasar.


4. Salah Arah dalam Prioritas Pembangunan

Sebagai negeri tropis dengan sinar matahari sepanjang tahun, tanah subur, air melimpah, dan laut yang kaya, Indonesia seharusnya menjadikan pertanian, peternakan, hortikultura, dan perikanan sebagai tulang punggung ekonomi.
Namun yang terjadi justru sebaliknya: Indonesia terlalu cepat melompat menjadi negara industri, tanpa kesiapan sumber daya manusia yang memadai.

Birokrasi yang seharusnya menjadi motor pembangunan malah berubah menjadi calo dan perantara kepentingan. Akibatnya, cita-cita mewujudkan pemerintahan yang clean and good semakin jauh dari harapan, sementara negara tetangga melesat meninggalkan kita.


5. Pengelolaan Utang yang Amburadul

Alih-alih menjadi instrumen pembangunan, utang negara justru berubah menjadi beban fiskal. Tanpa perencanaan yang matang dan akuntabilitas yang kuat, utang hanya memperbesar defisit tanpa menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.


6. Minimnya Investasi pada Pendidikan dan Riset

Rendahnya perhatian terhadap pendidikan — terutama riset dan teknologi — menyebabkan kualitas SDM Indonesia tertinggal jauh. Akibatnya, tenaga kerja Indonesia hanya mampu mengisi lapangan kerja di level rendah, bahkan di luar negeri sebagai TKI/TKW.
Kondisi ini menempatkan Indonesia sebagai negara konsumen, bukan produsen. Ketergantungan pada impor semakin kuat, sementara kemampuan inovasi nasional berjalan di tempat.


7. Ekonomi Ekstraktif dan Kerusakan Lingkungan

Ketergantungan pada sektor tambang — batubara, nikel, dan mineral lain — menciptakan ekonomi yang tidak berkelanjutan. Kebijakan hilirisasi yang hanya sebatas jargon malah membuka ruang ekspor bahan mentah tanpa nilai tambah.
Keuntungan jangka pendek ini tidak sebanding dengan biaya sosial dan ekologis yang harus ditanggung. Jurang antara si kaya dan si miskin semakin lebar, sementara ekonomi inklusif sulit tumbuh.


8. Kebijakan Fiskal dan Moneter yang Tidak Sinkron

Kebijakan fiskal dan moneter belum efektif dalam mendorong sektor riil berorientasi ekspor. Nilai ekspor produk jadi jauh lebih kecil dibanding impor, sehingga neraca perdagangan terus defisit dan daya saing industri nasional melemah.


9. Paradigma Pembangunan yang Salah Kaprah

Model pembangunan yang diadopsi dari negara maju sering kali diterapkan tanpa penyesuaian terhadap konteks Indonesia. Akibatnya, alih-alih mempercepat kemajuan ekonomi yang inklusif, kebijakan tersebut justru memperlebar kesenjangan sosial dan meningkatkan angka kemiskinan.


Penutup: Kembali ke Amanat Konstitusi

Kesalahan terbesar Indonesia terletak pada penyimpangan arah pembangunan dari amanat konstitusi.
Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 dengan tegas menyatakan:

“Bumi dan air serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.”

Namun realitas menunjukkan sebaliknya. Kekayaan alam justru dikuasai korporasi, sementara rakyat hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri.
Negeri ini perlahan menjelma menjadi “Negeri Para Malin Kundang” — anak-anak bangsa yang lupa daratan, lupa ibu pertiwi, dan menolak pulang setelah kaya di negeri orang.


Apakah Indonesia masih punya harapan?
Jawabannya: masih.
Namun harapan itu hanya akan tumbuh jika bangsa ini berani menatap cermin, mengakui kesalahan, dan kembali setia kepada cita-cita kemerdekaan — memakmurkan rakyat, bukan segelintir penguasa.


 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Sigit Listyo dan Manuver di Ujung Kekuasaan

Next Post

Awal Baru bagi Timur Tengah

fusilat

fusilat

Related Posts

Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.
Feature

Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.

April 16, 2026
Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif
Feature

Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

April 15, 2026
Pariwisata Inklusif: Kebijakan Nyata atau Sekadar Ilusi?
Feature

Pariwisata Inklusif: Kebijakan Nyata atau Sekadar Ilusi?

April 15, 2026
Next Post
Awal Baru bagi Timur Tengah

Awal Baru bagi Timur Tengah

Jokowi di Ujung Senja: Ketika Kekuasaan Tak Lagi Menjadi Tameng

Horor yang Menghantui Pejabat-pejabat Indonesia: Khawatir di Nepalkan

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”
Crime

Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

by Karyudi Sutajah Putra
April 15, 2026
0

Jakarta--FusilatNews - Kasus kekerasan seksual yang terjadi di Universitas Indonesia (UI) serta ekspresi misoginis dan seksis yang mengarah pada normalisasi...

Read more
Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

April 13, 2026
Jawaban Nasdem Terkait Tudingan Uang Rp 30 M  Disita KPK, Akan Digunakan Untuk Keluarga Nyaleg

Tertipu, Ahmad Sahroni Berkasus dengan KPK?

April 11, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

April 16, 2026
Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

April 16, 2026
Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.

Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.

April 16, 2026
Dua Partai di Amerika Sepakat Pangkas Pajak, Partai Indonesia Sepakatnya Memungut Lebih Banyak

Dua Partai di Amerika Sepakat Pangkas Pajak, Partai Indonesia Sepakatnya Memungut Lebih Banyak

April 16, 2026
Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

April 15, 2026
Pariwisata Inklusif: Kebijakan Nyata atau Sekadar Ilusi?

Pariwisata Inklusif: Kebijakan Nyata atau Sekadar Ilusi?

April 15, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

April 16, 2026
Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

April 16, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...