Oleh, Ferdinand Marcos Ujang Rajagukguk
Semua ikut sinting. Bukan karena penyakit. Tapi karena sistem. Karena aturan yang dibelokkan. Karena idealisme yang dirantai. Dan karena mimpi anak kampung yang dulu cuma ingin lulus sekolah demi membanggakan emak—kini dijual lunas dengan kebon, sapi perah, dan beberapa kerbau jalang.
Ada yang memang sejak awal bermimpi jadi sinting. Cita-citanya bukan jadi insinyur atau guru, tapi jadi bagian dari lingkaran itu: yang duduk-duduk, nyengir sambil menandatangani proyek fiktif. Yang kerjanya bukan membuat negeri ini waras, tapi merancang kegilaan lebih rapi.
Ada pula yang memilih pasrah. “Yah, beginilah hidup,” katanya. Ia pikir realistis, padahal nihil. Ia pikir kompromi, padahal sudah masuk jurang.
Ada yang pusing tujuh keliling. “Moal hayang lieur,” katanya. Tapi tetap lieur. Karena otaknya waras, tapi dikelilingi oleh sistem yang bikin mual.
Ada yang dianggap oon karena tidak dapat nanaonan. Karena ia menolak ikut upacara kemunafikan berjubah identitas. Karena ia ogah menanggalkan nalar demi jabatan honor.
Dan di tengah semua ini, ada yang main cantik. Jubahnya syar’i, langkahnya moderat, senyumnya menawan. Tapi diam-diam ia lihai dalam peras memeras. Peras dengan alasan syiar, meras demi cita-cita umat. Tapi ujung-ujungnya: transfer.
Yang jual sapi perah di kampung, dulu bersiul sembari memeras susu. Kini ingat masa lalu itu saat sedang memeras rakyat, lewat peraturan dan pajak absurd. Dulu pakai otot, sekarang cukup melotot. Dulu hasilnya susu, sekarang hasilnya kursi. Dulu buat hidup, sekarang buat jabatan.
Lalu bakat pun menurun. Turun-temurun. Satu guru satu ilmu, satu lingkar satu kerjaan. Disiplin dan istiqomah—bukan pada kebenaran, tapi pada jalur komando. Putra-putri kesayangan para setan berlagak patriot.
Susu di kampung jadi uang, suara rakyat di kota dijadikan alat dagang. Rakyat yang bersuara dianggap hama. Yang diam diberi jabatan. Yang kritis dibungkam. Semua diolah, semua diperah.
Dulu sapi perah dan kerbau jalang membajak sawah. Sekarang mereka sudah lunas ditebus. Tapi yang malak tak pernah putus. Dulu bajak tanah, sekarang bajak APBN.
Semua ikut sinting. Hanya segelintir yang belum. Tapi jangan senang dulu, mereka pun sedang antri. Lebih lambat. Tapi tetap menuju rombongan para sinting. Karena di negeri ini, waras hanya selingan, bukan budaya.
Dan saat semua waras sudah punah, kita tinggal menghitung hari menuju tawa—tawa getir para sapi perah, yang akhirnya sadar: mereka tak pernah bebas. Mereka cuma bahan, dalam pabrik kegilaan yang dipoles jadi pemerintahan.
Merdeka?
Atau hanya bebas memilih sinting yang mana?






















