• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Cross Cultural

Ngajeni Menurut Geertz: Ketika Hormat Kiai Menjadi Kekuasaan

fusilat by fusilat
October 10, 2025
in Cross Cultural, Feature
0
Ngajeni Menurut Geertz: Ketika Hormat Kiai Menjadi Kekuasaan
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Dalam kebudayaan Jawa, ngajeni bukan sekadar sopan santun. Ia adalah laku batin yang menandai peradaban: bagaimana seseorang menjaga jarak dengan halus, menundukkan ego di hadapan yang lebih tua, lebih berilmu, atau lebih suci. Dalam tata nilai itu, hormat adalah etika, bukan keterpaksaan. Tapi seperti banyak nilai luhur lainnya, ngajeni pun bisa tergelincir—dari penghormatan menjadi pengkultusan, dari kepatuhan menjadi penyerahan.

Clifford Geertz, antropolog yang menulis The Religion of Java pada 1960-an, menangkap lapisan-lapisan halus itu dengan jeli. Ia membagi masyarakat Jawa menjadi tiga golongan: abangan, priyayi, dan santri. Namun di antara ketiganya, kelompok santri memiliki satu karakter istimewa—hubungan yang sangat personal dengan kiai. Dalam pandangan Geertz, posisi kiai dalam masyarakat Jawa bukan hanya sebagai guru agama, tetapi juga sebagai figur sosial dan simbol kultural. Ia adalah rujukan moral, pusat nasihat, bahkan kadang penentu nasib.

Di situlah ngajeni menemukan bentuknya yang paling tinggi: penghormatan tanpa syarat kepada sang kiai. Tapi pada saat yang sama, di sanalah pula lahir bentuk kekuasaan yang paling halus—power through reverence. Dalam kehidupan sehari-hari, umat mendekati kiai dengan kepala menunduk, sujud pada tangannya, menyebutnya alim, mursyid, wali. Dalam bahasa rasa, itu adalah cinta. Tapi dalam bahasa sosial, itu adalah hierarki.

Di balik kelembutan budaya Jawa, ada struktur yang kokoh. Kiai tidak hanya dipandang sebagai penjaga moral, tetapi juga pengatur tatanan sosial. Ia dapat menentukan arah pilihan politik, mengelola ekonomi pesantren, bahkan mengatur ritme kehidupan warganya. Di banyak tempat, ucapan kiai menjadi hukum yang tak tertulis. Di situlah ngajeni berubah fungsi—dari nilai etis menjadi alat legitimasi. Hormat tak lagi membebaskan, tetapi membatasi.

Geertz sebenarnya tidak menuduh hubungan santri–kiai sebagai relasi yang salah. Ia justru menilai bahwa masyarakat Jawa membutuhkan keseimbangan antara iman dan tatanan. Namun, dalam dinamika modern, keseimbangan itu mulai rapuh. Ketika umat terlalu bergantung pada kiai, dan kiai terlalu menikmati kedudukan itu, ngajeni kehilangan makna sejatinya. Ia berhenti menjadi etika spiritual, dan bergeser menjadi mekanisme kekuasaan.

Kita melihat gejalanya dalam banyak peristiwa tragis: ketika santri bekerja tanpa upah atas nama ngalap berkah, ketika sumbangan untuk pesantren mengalir tanpa transparansi, atau ketika kelalaian dianggap sebagai takdir yang tak boleh dipertanyakan. Semua dibungkus dalam narasi “ridha kiai.” Dalam situasi semacam itu, agama bukan lagi sumber pembebasan, tetapi alat pembenaran.

Namun tentu, tidak semua kiai tergelincir dalam jebakan itu. Banyak di antara mereka tetap memelihara ngajeni dalam arti yang sejati: penghormatan yang menghidupkan, bukan menundukkan. Mereka adalah guru yang tidak menuntut pemujaan, tetapi mengajarkan kesadaran. Dalam tangan mereka, ngajeni menjadi jembatan antara iman dan akal, antara ketaatan dan kebebasan.

Barangkali di sinilah kritik Tan Malaka menemukan relevansinya tanpa perlu menolak agama. Ia pernah menulis bahwa pembebasan manusia hanya mungkin bila kesadarannya tidak lagi dibatasi oleh dogma yang membius. Dalam konteks Jawa, dogma itu tidak selalu datang dari kitab, tetapi dari figur. Dari mereka yang tanpa disadari telah menjelma menjadi simbol kebenaran tunggal.

Maka, tugas kita bukan menolak kiai, melainkan memulihkan makna ngajeni. Mengembalikannya pada akar: penghormatan yang lahir dari kesadaran, bukan ketakutan. Hormat yang menumbuhkan, bukan menundukkan. Karena hanya dalam ruang itulah agama bisa kembali menjadi cahaya, bukan bayang-bayang kekuasaan.

Dan mungkin, jika Geertz menulis kembali The Religion of Java hari ini, ia akan menambahkan satu bab baru: tentang bagaimana ngajeni yang dulu menjadi perekat sosial, kini berubah menjadi cermin paling halus dari bagaimana kekuasaan bekerja dalam kebudayaan Jawa yang tampak tenang, namun penuh ketegangan di dalamnya.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Kemenangan yang Berlumur Duka: Analepsis Tragedi 894 Petugas KPPS di Balik Pilpres 2019

Next Post

Bobby Nasution Pastikan Gaji ASN dan PPPK Aman Meski Anggaran Sumut Dipotong Rp1,1 Triliun

fusilat

fusilat

Related Posts

News

Siapa SA Anggota DPR RI dari Madura yang Diduga Jual-Beli Titik MBG?

June 9, 2026
Di Jepang – Tuhan Bersemayam di Toilet
Feature

Di Jepang – Tuhan Bersemayam di Toilet

June 9, 2026
Feature

MBG, Memutar Ulang Dosa Sejarah

June 9, 2026
Next Post
Panggung Keadilan Gelap Saat Harus Menghadirkan Bobby Nasution

Bobby Nasution Pastikan Gaji ASN dan PPPK Aman Meski Anggaran Sumut Dipotong Rp1,1 Triliun

Said Didu Dipayungi Hukum Untuk Menyampaikan Haknya dan Hak Saudara-Saudaranya

Bebaskan Polisi dari Cengkeraman PARCOK dan Hentikan Polisi Jadi TERMUL

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
News

Siapa SA Anggota DPR RI dari Madura yang Diduga Jual-Beli Titik MBG?

by Karyudi Sutajah Putra
June 9, 2026
0

Jakarta - FusilatNews.-Banyak pihak, baik di eksekutif maupun legislatif, kini sedang ketar-ketir menunggu kelanjutan proses hukum dugaan tindak pidana korupsi...

Read more
Pembubaran Perkemahan Ahmadiyah di Karangnganyar: Negara Kembali Tunduk Pada Kelompok Intoleran

Pembubaran Perkemahan Ahmadiyah di Karangnganyar: Negara Kembali Tunduk Pada Kelompok Intoleran

June 7, 2026

Pancasila: Lahir untuk Mati!

June 2, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Diskusi RUU Parpol, PERMAHI Jakarta Timur Tekankan Penguatan Demokrasi dan Kaderisasi

Diskusi RUU Parpol, PERMAHI Jakarta Timur Tekankan Penguatan Demokrasi dan Kaderisasi

June 9, 2026

Siapa SA Anggota DPR RI dari Madura yang Diduga Jual-Beli Titik MBG?

June 9, 2026
Di Jepang – Tuhan Bersemayam di Toilet

Di Jepang – Tuhan Bersemayam di Toilet

June 9, 2026

MBG, Memutar Ulang Dosa Sejarah

June 9, 2026
Peduli Orang Jepang Karena Rupiah Melemah

Peduli Orang Jepang Karena Rupiah Melemah

June 8, 2026
50 Anak Muda Difabel Netra Ikuti Aksi Penanaman Mangrove dalam Green Justice Youth Program

50 Anak Muda Difabel Netra Ikuti Aksi Penanaman Mangrove dalam Green Justice Youth Program

June 8, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Diskusi RUU Parpol, PERMAHI Jakarta Timur Tekankan Penguatan Demokrasi dan Kaderisasi

Diskusi RUU Parpol, PERMAHI Jakarta Timur Tekankan Penguatan Demokrasi dan Kaderisasi

June 9, 2026

Siapa SA Anggota DPR RI dari Madura yang Diduga Jual-Beli Titik MBG?

June 9, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist