By Paman BED
Ada satu pemandangan yang selalu berulang setiap Ramadhan.
Masjid kembali ramai.
Grup keluarga mendadak religius.
Media sosial penuh ayat dan doa.
Kalender sesak dengan agenda buka bersama.
Ramadhan datang seperti tamu agung—disambut meriah, dipuja sebulan, lalu dilepas tanpa air mata.
Namun ada satu pertanyaan sunyi yang jarang kita ajukan dengan jujur:
Apakah kita benar-benar sadar bahwa Ramadhan ini adalah nikmat yang belum tentu terulang?
Sebab di sekitar kita, banyak yang dulu ikut sahur bersama,
kini hanya tinggal nama dalam doa.
Ketika Ramadhan Menjadi Impian Penghuni Kubur
Beberapa tahun terakhir, lingkar kehilangan kita makin luas.
Grup pengajian keluarga besar tak lagi seramai dulu.
Host yang biasa bercanda sebelum kajian dimulai kini tak pernah “online” lagi.
Tak ada lagi nasihat ayahanda yang menembus hati.
Tak ada senyum teduh ibunda yang menenangkan jiwa.
Kakak, adik, sahabat, rekan kerja, tetangga—sebagian mendahului kita, tanpa melihat usia.
Dulu mereka berpuasa bersama kita.
Dulu mereka juga berharap bertemu Ramadhan tahun ini.
Namun takdir berkata lain.
Ibnu al-Jauzi menulis dengan nada yang mengguncang kesadaran:
“Seandainya penghuni kubur diberi satu angan-angan,
niscaya mereka hanya meminta satu hari di bulan Ramadhan.”
Satu hari.
Bukan sebulan.
Bukan sepuluh malam terakhir.
Satu hari yang sering kita jalani sambil lalu.
Nikmat yang Terlalu Akrab untuk Disyukuri
Masalah kita bukan kurang nikmat.
Masalah kita: terlalu terbiasa dengan nikmat.
Masih hidup → biasa.
Masih sehat → standar.
Masih bisa puasa → rutinitas.
Padahal, di luar sana, ada yang ingin berada di posisi kita…
dan tak pernah diberi kesempatan itu.
Setiap Ramadhan sejatinya adalah undangan khusus.
Dan undangan itu tidak otomatis diperpanjang.
Ramadhan dan Ego yang Menyamar
Ironisnya, Ramadhan juga bisa menjadi panggung ego.
Kita mulai membandingkan:
“Dia jarang tarawih.”
“Dia puasanya bolong.”
“Alhamdulillah, aku lebih rajin.”
Kalimat-kalimat itu terdengar religius.
Padahal di situlah ujub tumbuh tanpa suara.
Ibn Qayyim al-Jawziyya mengingatkan:
Dosa paling berbahaya adalah dosa yang membuat pelakunya merasa aman.
Ramadhan seharusnya melembutkan hati,
bukan mengeraskannya.
Puasa: Melatih Lapar, Menguji Kejujuran
Puasa bukan sekadar menahan makan.
Ia adalah latihan integritas.
Apakah kita tetap jujur saat tak ada yang melihat?
Tetap amanah saat ada celah?
Tetap bersih saat peluang curang terbuka?
Al-Ghazali menulis dalam Ihya Ulumiddin:
puasa sejati adalah puasa yang mematahkan dominasi ego.
Jika setelah seharian puasa kita masih ringan berbohong,
mudah marah,
dan gemar menyakiti—
barangkali yang lapar baru perut, belum hati.
Ketika Amal Menjadi Konten
Zaman berubah.
Ibadah pun ikut berganti wajah.
Sedekah difoto.
Tarawih direkam.
Tadarus diposting.
Tidak salah berbagi kebaikan.
Yang berbahaya adalah bisikan halus di dalam hati:
“Lihat, aku rajin.”
“Lihat, aku peduli.”
Di situlah pahala bisa bocor tanpa suara.
Rasulullah ﷺ mengingatkan:
Allah tidak melihat rupa dan harta,
tapi hati dan amal.
Yang diuji bukan tampilannya.
Yang diuji adalah niatnya.
Ramadhan: Titik Balik, Bukan Tempat Singgah
Setiap tahun kita berjanji:
“Tahun ini aku mau berubah.”
Lalu rajin sebulan,
lalai sebelas bulan.
Kita merasa hijrah,
padahal baru singgah.
Ramadhan bukan garis finis.
Ia garis start.
Bukan puncak spiritual,
melainkan kamp pelatihan.
Jika setelah Ramadhan cara kita bekerja, memimpin, dan mengambil keputusan tetap sama—
maka puasa kita hanya memindahkan jadwal makan.
Nikmat yang Menuntut Jawaban
Setiap nikmat akan ditanya:
Umur—untuk apa?
Sehat—dipakai apa?
Ramadhan—diisi bagaimana?
Al-Qur’an bertanya dengan lembut, tapi menghunjam:
“Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
Mendustakan nikmat tidak selalu dengan menolak.
Sering kali justru dengan mengabaikan.
Ramadhan didustakan saat ia datang, kita santai.
Dan saat ia pergi, kita lupa.
Penutup
Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah.
Ia adalah kesempatan hidup.
Ia adalah jawaban atas doa yang belum tentu terulang.
Ia adalah mimpi banyak jiwa yang telah lebih dulu pulang.
Kita masih diberi waktu.
Masih diberi napas.
Masih diberi peluang.
Bukan karena kita paling pantas,
melainkan karena Allah masih memberi kesempatan.
Dan kesempatan itu mahal.
Catatan Reflektif: Menjaga Nikmat Sebelum Dicabut
Syukuri dengan amal, bukan sekadar ucapan
Kurangi membandingkan, perbanyak memperbaiki
Pilih satu amal, jaga setahun
Luruskan niat di balik setiap kebaikan
Ingat kematian, tanpa kehilangan harapan
Semoga kita tidak termasuk orang yang merindukan Ramadhan
setelah tak lagi bisa menjalaninya.
Dan semoga, saat Ramadhan pergi nanti,
ia meninggalkan kita lebih jujur,
lebih rendah hati,
dan lebih dekat kepada Allah.
Jika ini Ramadhan terakhirmu,
apa satu hal yang ingin kau ubah hari ini?
Referensi * Al-Qur’an Al-Karim * Hadits dalam Shahih Muslim * Ibnu al-Jauzi, At-Tabshirah * Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin * Ibn Qayyim al-Jawziyya, Madarij as-Salikin * Kajian Ulama tentang Puasa dan Tazkiyatun Nafs
By Paman BED
























