Fusilatnews – Operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap Wakil Menteri Ketenagakerjaan Immanuel Ebenezer — yang akrab disapa Noel — menjadi ujian pertama bagi rezim baru Presiden Prabowo Subianto. Noel bukan pejabat biasa. Ia adalah relawan garis keras Jokowi, sosok yang tumbuh dari jalanan politik dan kemudian masuk lingkar kekuasaan karena kedekatan personal dengan presiden sebelumnya.
Karena itu, penangkapan Noel di era Prabowo tidak bisa dilepaskan dari tafsir politik. Apakah KPK benar-benar ingin menghapus jejak rezim Jokowi yang penuh dengan relawan mendapat kursi? Atau justru ini adalah langkah Prabowo sendiri untuk unjuk gigi — menandai bahwa pemerintahannya tidak sama dengan Jokowi?
Era Baru, Gaya Baru
Sejak dilantik, Prabowo berulang kali menekankan komitmen pada tata kelola pemerintahan yang bersih. Penangkapan pejabat sekelas wakil menteri di awal pemerintahannya memberi sinyal keras: ia ingin memutus kesan bahwa negara hanya menjadi “bancakan” elite.
Menurut pengamat politik Refly Harun, momentum OTT Noel tidak bisa dilepaskan dari kebutuhan Prabowo untuk segera membangun diferensiasi dari Jokowi. “Prabowo butuh menunjukkan bahwa pemerintahannya tegas, tidak terikat utang budi pada siapapun. Relawan Jokowi yang kena OTT justru memperkuat pesan itu,” kata Refly.
Menghapus Jejak Jokowi
Noel adalah simbol loyalitas buta kepada Jokowi. Ia membela presiden dengan retorika keras, bahkan kerap menyerang lawan politik Jokowi secara frontal. Penangkapannya oleh KPK praktis membuat publik mengaitkan kasus ini dengan warisan Jokowi: relawan naik jabatan, lalu tersandung korupsi.
Menurut Emerson Yuntho dari ICW, “Kasus Noel ini harus dibaca sebagai cermin kegagalan tata kelola di era Jokowi. Relawan dijadikan pejabat, tanpa basis integritas birokratis yang kuat. Prabowo bisa mengambil keuntungan politik dengan membiarkan KPK bergerak.”
Dengan kata lain, KPK seperti sedang melakukan “operasi sanitasi” — membersihkan jejak kotor dari rezim sebelumnya, sambil memberi napas baru bagi Prabowo.
Prabowo Menjaga Jarak
Jika selama kampanye Prabowo begitu dekat dengan Jokowi, kini ia mulai menjaga jarak. Menjadi presiden artinya mengelola legitimasi sendiri, bukan terus berada di bawah bayang-bayang pendahulunya.
Analis politik Djayadi Hanan menilai, “Prabowo tentu tidak ingin mewarisi dosa politik Jokowi. Dengan membiarkan OTT terhadap orang dekat Jokowi, ia memperlihatkan bahwa pemerintahannya punya garis tegas. Ia menjaga jarak, dan itu penting untuk membangun identitas sebagai presiden yang independen.”
Unjuk Gigi KPK di Era Prabowo
KPK, yang sempat dianggap ompong di era Jokowi pasca-revisi UU 2019, kini mendapat momentum untuk mengembalikan taringnya. OTT Noel adalah ujian apakah KPK akan konsisten menyasar pejabat tanpa pandang bulu, atau hanya berhenti pada simbol-simbol tertentu.
Prof. Bivitri Susanti mengingatkan, “Kalau OTT ini berhenti di Noel, maka hanya akan terbaca sebagai sandiwara politik. Tetapi jika berlanjut ke jejaring lebih besar, ini bisa menjadi fondasi baru bagi KPK di era Prabowo.”
Kesimpulan: Era Dimulai dengan Ironi
OTT Noel adalah ironi. Ia dulu teriak membela Jokowi, kini jatuh di bawah rezim Prabowo. Tetapi ironi inilah yang bisa menjadi modal politik Prabowo: ia tampil sebagai presiden yang tidak segan membersihkan pejabat, meski berasal dari lingkaran kekuasaan sebelumnya.
Pertanyaannya kini, apakah Prabowo akan konsisten? Atau Noel hanya pion kecil yang dikorbankan untuk memberi pesan simbolik? Publik menunggu, apakah ini benar-benar langkah awal “era bersih” Prabowo, atau sekadar penghapusan jejak Jokowi untuk kepentingan politik jangka pendek.























