• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Cross Cultural

Paradoks Indonesia dan Jepang: Ketika Perkawinan dan Perceraian Menari dalam Irama yang Sama

Ali Syarief by Ali Syarief
July 28, 2025
in Cross Cultural, Feature
0
Paradoks Indonesia dan Jepang: Ketika Perkawinan dan Perceraian Menari dalam Irama yang Sama
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Di sebuah pesta pernikahan sederhana di Bandung, seorang pengantin perempuan menatap masa depan dengan mata berbinar. Di bawah lantunan doa yang sakral, ia mengucapkan janji setia. “Semoga langgeng sampai akhir hayat,” ucap tamu-tamu bersahutan. Namun, tak jauh dari sana, di ruang sidang pengadilan agama, seorang ibu muda menyerahkan berkas gugatan cerai. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya menyimpan luka.

Dua adegan itu terjadi dalam hari yang sama. Di negara yang menjunjung tinggi perkawinan sebagai bagian dari ibadah dan kehormatan, angka perceraian justru melonjak dari tahun ke tahun. Inilah paradoks pertama: pernikahan dirayakan sebagai kesucian, tapi perceraian semakin dianggap lumrah.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), dalam setiap 100 pernikahan di Indonesia, sekitar 20 hingga 25 di antaranya berakhir di meja hijau. Ironisnya, sebagian besar perceraian itu terjadi di kalangan pasangan muda. Banyak yang menikah karena desakan keluarga, tuntutan sosial, atau karena kehamilan yang tidak direncanakan. Mereka menikah dengan cepat, tapi terpaksa bercerai dengan luka yang lama.

Di sisi lain dunia, Jepang menghadapi paradoks yang tak kalah mencengangkan. Di negeri sakura, pernikahan bukanlah prioritas utama bagi generasi muda. Banyak pria dan wanita memilih untuk hidup sendiri, bekerja, dan menikmati kebebasan tanpa komitmen. Mereka disebut sebagai “soshoku danshi” – pria herbivora yang tidak agresif secara seksual maupun emosional.

Namun, angka perceraian di Jepang tetap tinggi. Meski pasangan menikah pada usia yang relatif matang—bahkan seringkali lewat dari usia 30—perceraian tetap menghantui. Statistik menunjukkan bahwa perceraian di Jepang kerap terjadi pada tahun ke-5 hingga ke-10 pernikahan. Penyebabnya? Bukan perselingkuhan atau kekerasan, melainkan kesepian dalam kebersamaan, tekanan pekerjaan, dan komunikasi yang membeku.

Dua Negara, Dua Paradoks

Indonesia dan Jepang seperti dua kutub budaya yang berbeda, tapi menghadapi kegagalan institusi yang sama: perkawinan.

Di Indonesia, tekanan menikah muda masih kuat, terutama di daerah. Namun, negara dan masyarakat tidak benar-benar mempersiapkan anak muda dengan pendidikan pernikahan yang memadai. Perceraian akhirnya menjadi pelarian dari konflik yang tidak terselesaikan, ekonomi yang rapuh, dan relasi yang retak sejak awal.

Di Jepang, pendidikan dan kesiapan finansial bukan masalah. Pasangan yang menikah biasanya sudah memiliki pekerjaan dan rumah. Tapi ikatan emosional seringkali lemah. Komunikasi yang miskin, ekspresi perasaan yang kaku, dan budaya kerja yang menyita waktu menjadi bom waktu dalam rumah tangga.

Paradoks ini mencerminkan bahwa perkawinan tidak cukup hanya dengan kesiapan materi atau restu sosial. Ia membutuhkan kematangan emosional, kesalingpahaman, dan keberanian untuk terus belajar mencintai orang yang sama setiap hari.

Antara Harapan dan Kenyataan

Di tengah angka perceraian yang meningkat, baik di Indonesia maupun Jepang, perkawinan tetap menjadi impian banyak orang. Ia masih diyakini sebagai simbol kedewasaan, pencapaian, bahkan kebahagiaan. Tapi realitas membisikkan hal sebaliknya: bahwa cinta tak selalu menjamin kebersamaan, dan janji setia tak selalu mengikat selamanya.

Perkawinan dan perceraian kini berdiri berdampingan, seperti dua sisi mata uang. Di satu sisi ada harapan dan romantisme, di sisi lain ada ketidakpastian dan luka. Tapi mungkin, justru di sanalah letak keindahan sekaligus tragedinya: bahwa manusia terus mencoba mencintai, meski tahu bahwa bisa saja berakhir.

Dan di antara janji di altar dan air mata di pengadilan, manusia tetap menjadi makhluk yang selalu ingin dicintai—walau kadang tak tahu bagaimana cara mencintai.


 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Manajemen Politik yang Gagal: Saat Kepentingan Kekuasaan Mengorbankan Rakyat

Next Post

Perkawinan Politik Jokowi dan Prabowo: Membuka Sejarah, Menyingkap Kepentingan

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Birutė Galdikas dan Cara Ia Membaca Indonesia (Sebuah Catatan Personal)
Lingkungan Hidup

Birutė Galdikas dan Cara Ia Membaca Indonesia (Sebuah Catatan Personal)

April 24, 2026
Economy

Kesenjangan Ekonomi & Sosial, Dampak Kesenjangan Hukum & Politik (Saatnya Kebijakan Berpihak kepada Koperasi & UMKM dengan Dukungan Ekosistemnya)

April 24, 2026
Jangan Lawan Parpol!
Feature

Jangan Lawan Parpol!

April 24, 2026
Next Post
Saat Rakyat Menggemakan ‘Adili Jokowi’, Prabowo Teriak ‘Hidup Jokowi’: Loyalitas Kepada Siapa?

Perkawinan Politik Jokowi dan Prabowo: Membuka Sejarah, Menyingkap Kepentingan

Bunga Itu Kelamin

Bunga Itu Kelamin

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?
Law

RPP Tugas TNI: Wujud Remiliteriasi yang Bahayakan Kehidupan Demokrasi

by fusilat
April 24, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Masyarakat tengah menunggu putusan Mahkamah Konstitusi (MK) dalam judicial review (uji materiil) Undang-Undang (UU) No. 34 Tahun 2004...

Read more
Jangan Lawan Parpol!

Jangan Lawan Parpol!

April 24, 2026
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

April 23, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Memperluas Koter, Mempersempit Ruang Sipil

Memperluas Koter, Mempersempit Ruang Sipil

April 24, 2026
Birutė Galdikas dan Cara Ia Membaca Indonesia (Sebuah Catatan Personal)

Birutė Galdikas dan Cara Ia Membaca Indonesia (Sebuah Catatan Personal)

April 24, 2026
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

RPP Tugas TNI: Wujud Remiliteriasi yang Bahayakan Kehidupan Demokrasi

April 24, 2026

Kesenjangan Ekonomi & Sosial, Dampak Kesenjangan Hukum & Politik (Saatnya Kebijakan Berpihak kepada Koperasi & UMKM dengan Dukungan Ekosistemnya)

April 24, 2026
Jangan Lawan Parpol!

Jangan Lawan Parpol!

April 24, 2026

AMBIGUITAS ASAS DALAM HUKUM PIDANA INDONESIA

April 24, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Memperluas Koter, Mempersempit Ruang Sipil

Memperluas Koter, Mempersempit Ruang Sipil

April 24, 2026
Birutė Galdikas dan Cara Ia Membaca Indonesia (Sebuah Catatan Personal)

Birutė Galdikas dan Cara Ia Membaca Indonesia (Sebuah Catatan Personal)

April 24, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist