• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Aya Aya Wae

Manajemen Politik yang Gagal: Saat Kepentingan Kekuasaan Mengorbankan Rakyat

Ali Syarief by Ali Syarief
July 28, 2025
in Aya Aya Wae, Birokrasi, Feature
0
KIM Klaim Bakal Peroleh Dua Anggota Baru

Foto Antara

Share on FacebookShare on Twitter

Di tengah harapan akan perubahan dan tata kelola pemerintahan yang lebih efektif, justru kita menyaksikan paradoks yang menyayat logika publik. Alih-alih menghadirkan kabinet kerja yang profesional dan fokus, yang terjadi justru parade rangkap jabatan, kooptasi jabatan publik oleh elite politik, serta sikap permisif terhadap konflik kepentingan yang mencolok. Yang menjadi korban tak lain adalah rakyat—yang setiap harinya dipaksa menerima kebijakan setengah hati, hasil dari para menteri dan wakil menteri yang tak benar-benar bekerja sepenuh hati.

Presiden terpilih Prabowo Subianto tampak nyaman dikelilingi oleh barisan pembantunya yang dulu adalah lawan politiknya sendiri. Ironisnya, mereka bukan sekadar mantan rival, tetapi pernah terlibat dalam perang politik brutal selama masa kampanye Pilpres—dengan narasi saling membunuh karakter, fitnah, dan pembelahan publik. Kini, para “komandan politik” itu kembali berbaris dalam satu barisan kabinet, masing-masing memimpin “pasukan” berbeda: partai politik mereka sendiri.

Lebih jauh, para menteri masih menjabat sebagai ketua umum partai, sebuah praktik rangkap jabatan yang dulu dilarang oleh Presiden Jokowi namun tak pernah benar-benar ditegakkan. Kini, praktik itu bukan hanya dilanjutkan oleh Prabowo, tetapi justru dilembagakan. Beberapa wakil menteri bahkan diberi jabatan tambahan sebagai komisaris utama di BUMN—tumpang tindih kewenangan yang tidak hanya merusak profesionalitas birokrasi, tetapi juga memperkuat patronase politik yang menjadikan BUMN sebagai arena pembagian kue kekuasaan.

Situasi ini menunjukkan dua krisis sekaligus: krisis manajemen dan krisis etika politik. Di satu sisi, tata kelola kementerian menjadi tidak fokus karena para menteri lebih sibuk menjaga posisi di partai dan menjalin manuver untuk Pilpres berikutnya. Di sisi lain, tidak ada integritas dalam pembentukan kabinet: profesionalisme dikorbankan demi rekonsiliasi kekuasaan.

Akibatnya, kebijakan publik kehilangan arah. Program-program kementerian tidak bergerak sebagai satu orkestrasi tunggal, melainkan sebagai proyek-proyek politik pribadi yang tidak saling terhubung. Koordinasi antar kementerian menjadi lemah, karena masing-masing menteri merasa lebih loyal kepada partai dibanding kepada Presiden atau rakyat.

Rakyat akhirnya menjadi penonton yang frustrasi dalam panggung sandiwara kekuasaan ini. Harga kebutuhan pokok tak terkendali, akses terhadap layanan kesehatan dan pendidikan masih timpang, dan pembangunan di daerah tertinggal tetap jalan di tempat. Sementara itu, para pejabat terus mengoleksi jabatan dan menumpuk privilese, seolah negeri ini milik mereka semata.

Paradoks ini harus disadari sebagai bentuk kegagalan manajemen politik. Negara tak bisa dikelola seperti persekutuan bisnis atau arena kompromi politik semata. Jika jabatan publik hanya dijadikan alat tawar-menawar kekuasaan, maka rakyat tak akan pernah mendapatkan pelayanan yang seharusnya menjadi hak mereka.

Reformasi birokrasi yang dulu digadang-gadang kini hanya tinggal slogan. Dan dalam diam, kita menyaksikan kembalinya gaya pemerintahan Orde Baru: satu kaki di eksekutif, satu kaki di partai, satu tangan mengelola anggaran negara, tangan lain mengatur bisnis negara. Bedanya, kini dilakukan dengan justifikasi demokrasi dan dalih rekonsiliasi.


Yang dibutuhkan sekarang bukan kabinet gemuk berisi elit kompromi, melainkan kabinet ramping yang berani bekerja. Prabowo punya kesempatan untuk membuktikan bahwa kekuasaan bukan soal membagi-bagi jabatan, melainkan soal tanggung jawab terhadap rakyat. Jika tidak, maka sejarah akan mencatat pemerintahannya sebagai satu lagi babak tragis dari manajemen politik yang gagal—dan rakyat, seperti biasa, akan jadi korban abadi.


 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Mengumumkan Kemenangan dari Statistik: Kekeliruan Prematur Cak Imin dalam Membaca Kemiskinan

Next Post

Paradoks Indonesia dan Jepang: Ketika Perkawinan dan Perceraian Menari dalam Irama yang Sama

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Memperluas Koter, Mempersempit Ruang Sipil
Birokrasi

Memperluas Koter, Mempersempit Ruang Sipil

April 24, 2026
Economy

Kesenjangan Ekonomi & Sosial, Dampak Kesenjangan Hukum & Politik (Saatnya Kebijakan Berpihak kepada Koperasi & UMKM dengan Dukungan Ekosistemnya)

April 24, 2026
Jangan Lawan Parpol!
Feature

Jangan Lawan Parpol!

April 24, 2026
Next Post
Paradoks Indonesia dan Jepang: Ketika Perkawinan dan Perceraian Menari dalam Irama yang Sama

Paradoks Indonesia dan Jepang: Ketika Perkawinan dan Perceraian Menari dalam Irama yang Sama

Saat Rakyat Menggemakan ‘Adili Jokowi’, Prabowo Teriak ‘Hidup Jokowi’: Loyalitas Kepada Siapa?

Perkawinan Politik Jokowi dan Prabowo: Membuka Sejarah, Menyingkap Kepentingan

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?
Law

RPP Tugas TNI: Wujud Remiliteriasi yang Bahayakan Kehidupan Demokrasi

by fusilat
April 24, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Masyarakat tengah menunggu putusan Mahkamah Konstitusi (MK) dalam judicial review (uji materiil) Undang-Undang (UU) No. 34 Tahun 2004...

Read more
Jangan Lawan Parpol!

Jangan Lawan Parpol!

April 24, 2026
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

April 23, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Memperluas Koter, Mempersempit Ruang Sipil

Memperluas Koter, Mempersempit Ruang Sipil

April 24, 2026
Birutė Galdikas dan Cara Ia Membaca Indonesia (Sebuah Catatan Personal)

Birutė Galdikas dan Cara Ia Membaca Indonesia (Sebuah Catatan Personal)

April 24, 2026
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

RPP Tugas TNI: Wujud Remiliteriasi yang Bahayakan Kehidupan Demokrasi

April 24, 2026

Kesenjangan Ekonomi & Sosial, Dampak Kesenjangan Hukum & Politik (Saatnya Kebijakan Berpihak kepada Koperasi & UMKM dengan Dukungan Ekosistemnya)

April 24, 2026
Jangan Lawan Parpol!

Jangan Lawan Parpol!

April 24, 2026

AMBIGUITAS ASAS DALAM HUKUM PIDANA INDONESIA

April 24, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Memperluas Koter, Mempersempit Ruang Sipil

Memperluas Koter, Mempersempit Ruang Sipil

April 24, 2026
Birutė Galdikas dan Cara Ia Membaca Indonesia (Sebuah Catatan Personal)

Birutė Galdikas dan Cara Ia Membaca Indonesia (Sebuah Catatan Personal)

April 24, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...