• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Birokrasi

Mengumumkan Kemenangan dari Statistik: Kekeliruan Prematur Cak Imin dalam Membaca Kemiskinan

Ali Syarief by Ali Syarief
July 28, 2025
in Birokrasi, Feature, Tokoh/Figur
0
Mengumumkan Kemenangan dari Statistik: Kekeliruan Prematur Cak Imin dalam Membaca Kemiskinan
Share on FacebookShare on Twitter

Pernyataan Muhaimin Iskandar atau Cak Imin yang menyebut bahwa “sebanyak 210.000 orang telah keluar dari belenggu kemiskinan” patut dipertanyakan secara serius, bukan hanya dari sudut pandang statistik, tetapi juga dari perspektif moral politik. Betapa tidak, kalimat tersebut seolah-olah merayakan sebuah keberhasilan monumental dalam pengentasan kemiskinan, padahal data yang dikutip hanya menunjukkan pergeseran angka sebesar 0,20 juta orang — penurunan yang sangat tipis dari 24,05 juta menjadi 23,85 juta penduduk miskin dalam kurun waktu enam bulan.

Apa yang luput dari narasi Cak Imin adalah kenyataan bahwa angka statistik tersebut tidak serta-merta menandakan keberhasilan yang substansial dalam meningkatkan taraf hidup rakyat. Pengeluaran hanya sedikit di atas garis kemiskinan—sekitar Rp 550.000 per kapita per bulan—tidak menjadikan seseorang seketika menjadi makmur atau aman secara ekonomi. Kategori “keluar dari kemiskinan” dalam konteks BPS hanyalah soal melewati garis batas pengeluaran tertentu, bukan soal peningkatan kualitas hidup, ketahanan ekonomi, apalagi martabat sosial.

Dalam konteks ini, pernyataan Cak Imin tidak hanya prematur, tetapi juga mengkhawatirkan. Ia merepresentasikan gaya kepemimpinan yang gemar memoles statistik menjadi narasi politik murahan. Padahal, setiap ekonom tahu bahwa garis kemiskinan itu bersifat teknokratik dan artifisial. Seorang kepala keluarga yang pengeluarannya naik Rp 10.000 saja dari garis kemiskinan akan dianggap “tidak miskin” oleh BPS. Apakah itu berarti ia telah terbebas dari belenggu kemiskinan? Jelas tidak.

Lebih celaka lagi, ketika politisi menjadikan angka statistik sebagai selebrasi, padahal yang dibutuhkan rakyat adalah kebijakan struktural yang menjamin kesinambungan penghidupan. Sebab dalam banyak kasus, mereka yang disebut “tidak miskin” hari ini, bisa kembali jatuh miskin esok hari akibat fluktuasi harga bahan pokok, kehilangan pekerjaan, atau bencana alam. Mereka adalah kelompok rentan—vulnerable group—yang hidup di tepian garis kemiskinan, rentan terhadap segala bentuk guncangan ekonomi.

Alih-alih memproklamasikan keberhasilan prematur, semestinya Cak Imin menempatkan dirinya sebagai pemimpin yang rendah hati dalam membaca data. Ia harusnya mengakui bahwa tugas negara belum selesai, bahwa tantangan ke depan justru lebih berat: bagaimana memastikan 210.000 orang yang baru saja “keluar” itu tidak kembali terseret arus kemiskinan. Bagaimana meningkatkan daya beli mereka, menciptakan pekerjaan yang layak, serta memberikan akses kesehatan dan pendidikan yang berkelanjutan.

Sayangnya, dalam logika politik elektoral, statistik selalu lebih menarik daripada penderitaan yang nyata. Maka tak mengherankan jika 210.000 orang dijadikan ornamen dalam pidato keberhasilan, padahal sejatinya mereka belum betul-betul bebas dari jerat kemiskinan. Yang terjadi bukan pelepasan belenggu, melainkan sekadar pergeseran dari satu bentuk penderitaan ke bentuk lainnya yang lebih samar.

Politik seperti ini berbahaya. Ia menciptakan ilusi kemajuan yang meninabobokan, alih-alih membangkitkan kesadaran untuk terus bekerja keras membenahi akar-akar ketimpangan. Dalam situasi inilah, bangsa ini tidak hanya membutuhkan data yang akurat, tetapi juga pemimpin yang jujur membaca realitas, bukan pemimpin yang sekadar pandai mengklaim kemenangan dari angka yang belum tentu bermakna.


 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Cak Imin: 210 Ribu Warga Keluar dari Kemiskinan, Fokus Selanjutnya adalah Kesejahteraan

Next Post

Manajemen Politik yang Gagal: Saat Kepentingan Kekuasaan Mengorbankan Rakyat

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Memperluas Koter, Mempersempit Ruang Sipil
Birokrasi

Memperluas Koter, Mempersempit Ruang Sipil

April 24, 2026
Birutė Galdikas dan Cara Ia Membaca Indonesia (Sebuah Catatan Personal)
Lingkungan Hidup

Birutė Galdikas dan Cara Ia Membaca Indonesia (Sebuah Catatan Personal)

April 24, 2026
Economy

Kesenjangan Ekonomi & Sosial, Dampak Kesenjangan Hukum & Politik (Saatnya Kebijakan Berpihak kepada Koperasi & UMKM dengan Dukungan Ekosistemnya)

April 24, 2026
Next Post
KIM Klaim Bakal Peroleh Dua Anggota Baru

Manajemen Politik yang Gagal: Saat Kepentingan Kekuasaan Mengorbankan Rakyat

Paradoks Indonesia dan Jepang: Ketika Perkawinan dan Perceraian Menari dalam Irama yang Sama

Paradoks Indonesia dan Jepang: Ketika Perkawinan dan Perceraian Menari dalam Irama yang Sama

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?
Law

RPP Tugas TNI: Wujud Remiliteriasi yang Bahayakan Kehidupan Demokrasi

by fusilat
April 24, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Masyarakat tengah menunggu putusan Mahkamah Konstitusi (MK) dalam judicial review (uji materiil) Undang-Undang (UU) No. 34 Tahun 2004...

Read more
Jangan Lawan Parpol!

Jangan Lawan Parpol!

April 24, 2026
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

April 23, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Memperluas Koter, Mempersempit Ruang Sipil

Memperluas Koter, Mempersempit Ruang Sipil

April 24, 2026
Birutė Galdikas dan Cara Ia Membaca Indonesia (Sebuah Catatan Personal)

Birutė Galdikas dan Cara Ia Membaca Indonesia (Sebuah Catatan Personal)

April 24, 2026
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

RPP Tugas TNI: Wujud Remiliteriasi yang Bahayakan Kehidupan Demokrasi

April 24, 2026

Kesenjangan Ekonomi & Sosial, Dampak Kesenjangan Hukum & Politik (Saatnya Kebijakan Berpihak kepada Koperasi & UMKM dengan Dukungan Ekosistemnya)

April 24, 2026
Jangan Lawan Parpol!

Jangan Lawan Parpol!

April 24, 2026

AMBIGUITAS ASAS DALAM HUKUM PIDANA INDONESIA

April 24, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Memperluas Koter, Mempersempit Ruang Sipil

Memperluas Koter, Mempersempit Ruang Sipil

April 24, 2026
Birutė Galdikas dan Cara Ia Membaca Indonesia (Sebuah Catatan Personal)

Birutė Galdikas dan Cara Ia Membaca Indonesia (Sebuah Catatan Personal)

April 24, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...