• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Economy

Paradoks Indonesia: Kaya Sumber Daya, Miskin Kemandirian

Ironi Impor: Ketika Negeri Kaya Bergantung pada Pintu Luar

fusilatnews by fusilatnews
May 23, 2026
in Economy, Feature
0
Menantang Prabowo: Bangsa ‘Besar’ yang Devisanya Terkikis Impor
Share on FacebookShare on Twitter

FusilatNews – Indonesia sering disebut negeri yang diberkahi rahmat melimpah. Tanahnya subur, lautnya luas, hutannya kaya, dan sumber daya alamnya bertebaran dari Sabang sampai Merauke. Di sekolah-sekolah kita diajarkan bahwa Indonesia adalah negara agraris sekaligus negara maritim besar. Namun semakin hari muncul sebuah paradoks yang sulit diabaikan: negeri yang kaya ini justru masih menggantungkan kebutuhan pentingnya pada negara lain.

Sebagai negara agraris, Indonesia masih mengimpor bawang putih dalam jumlah sangat besar. Ironinya, hampir seluruh kebutuhan nasional dipenuhi dari luar negeri. Padahal tanah Indonesia terbentang luas, iklimnya mendukung pertanian, dan jutaan penduduk hidup dari sektor pertanian. Lebih ironis lagi, berbagai jenis sayuran, buah-buahan, kedelai, hingga komoditas pangan lainnya pun masih harus didatangkan dari luar.

Persoalan menjadi lebih menyentak ketika berbicara tentang daging. Negeri dengan padang rumput luas, lahan pertanian besar, dan desa-desa yang sejak lama akrab dengan peternakan ternyata masih harus mengimpor daging sapi maupun sapi bakalan. Bahkan pakan ternak pun sebagian bahan bakunya masih bergantung pada impor. Akibatnya, peternakan nasional seperti bergerak dengan kaki sendiri namun bernapas dengan paru-paru milik bangsa lain.

Paradoks berikutnya terjadi di lautan. Indonesia memiliki garis pantai yang termasuk terpanjang di dunia. Laut mengelilingi negeri ini dari segala penjuru. Namun garam industri masih diimpor. Sebuah keadaan yang membuat banyak orang mengernyitkan dahi: bagaimana mungkin negeri maritim masih membeli garam dari negara lain?

Di sektor energi, ironi itu bahkan lebih keras terdengar. Indonesia pernah dikenal sebagai salah satu negara penghasil minyak. Namun kini Indonesia masih mengimpor minyak mentah maupun BBM. Di SPBU rakyat mengisi bahan bakar yang sebagian bahan bakunya datang dari luar. Sementara di bawah tanah negeri ini sendiri masih tersimpan cadangan energi yang seharusnya menjadi kekuatan nasional.

Hal serupa juga tampak pada industri tekstil. Indonesia pernah berjaya sebagai salah satu kekuatan industri tekstil dunia. Pabrik-pabrik tekstil berdiri di berbagai daerah dan menyerap jutaan tenaga kerja. Akan tetapi, bahan baku utamanya yakni kapas, sebagian besar masih harus diimpor. Akibatnya, industri yang tampak berdiri tegak itu sesungguhnya masih bertumpu pada fondasi dari luar negeri.

Belum cukup sampai di sana, bahan pangan seperti gandum yang menjadi dasar industri tepung terigu, mie instan, roti, dan berbagai produk makanan juga hampir seluruhnya bergantung pada impor. Begitu pula susu dan gula yang kebutuhannya belum sepenuhnya dapat dipenuhi oleh produksi dalam negeri.

Tentu perdagangan internasional bukan sesuatu yang salah. Semua negara melakukan ekspor dan impor. Amerika Serikat, Jepang, bahkan China pun melakukannya. Namun persoalannya menjadi berbeda ketika ketergantungan terjadi pada sektor-sektor strategis yang menyangkut hajat hidup masyarakat luas.

Yang patut dipertanyakan bukan mengapa Indonesia mengimpor, melainkan mengapa ketergantungan itu terus berlangsung di negeri yang memiliki sumber daya begitu besar. Apakah persoalannya terletak pada kebijakan? Pada pembangunan sektor hulu yang tidak serius? Pada minimnya teknologi? Ataukah pada arah pembangunan yang terlalu sibuk mengejar hal-hal besar sementara kebutuhan dasarnya sendiri belum berdiri kokoh?

Indonesia bukan negeri miskin sumber daya. Yang sering dipersoalkan adalah apakah bangsa ini telah cukup mampu mengelola kekayaan yang dimilikinya. Sebab ironi terbesar bukanlah ketika sebuah negara membeli barang dari luar negeri. Ironi terbesar adalah ketika negara yang kaya raya tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Serangan Dollar Kepada Warga Desa

Next Post

Dukungan Anak Muda AS Berbelot ke Palestina

fusilatnews

fusilatnews

Related Posts

Serangan Dollar Kepada Warga Desa
Economy

Serangan Dollar Kepada Warga Desa

May 23, 2026
Feature

Tantangan dan Peluang Guru PAI dan Madrasah di Era Digital: Antara Pembatasan Gawai dan Kualitas Pembelajaran

May 23, 2026
Potret Distorsi Kebijakan: Merawat Orang Sakit atau Sekadar “Membaca Buku”
Birokrasi

Potret Distorsi Kebijakan: Merawat Orang Sakit atau Sekadar “Membaca Buku”

May 23, 2026
Next Post
Dukungan Anak Muda AS Berbelot ke Palestina

Dukungan Anak Muda AS Berbelot ke Palestina

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Aliansi Melawan Rezim Deformasi: Militerisme Bangkit, Reformasi Mati
Komunitas

Aliansi Melawan Rezim Deformasi: Militerisme Bangkit, Reformasi Mati

by Karyudi Sutajah Putra
May 21, 2026
0

Jakarta - FusilatNews.-- Dua puluh delapan tahun pasca-Reformasi 1998, demokrasi Indonesia justru bergerak mundur. Rezim hari ini mempertontonkan wajah kekuasaan...

Read more
Membaca Tanda-tanda Zaman: Prabowo Aman?

Membaca Tanda-tanda Zaman: Prabowo Aman?

May 21, 2026
Pembebasan 9 WNI yang Ditahan Israel Jadi Pertaruhan Prabowo

Pembebasan 9 WNI yang Ditahan Israel Jadi Pertaruhan Prabowo

May 21, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Dukungan Anak Muda AS Berbelot ke Palestina

Dukungan Anak Muda AS Berbelot ke Palestina

May 23, 2026
Menantang Prabowo: Bangsa ‘Besar’ yang Devisanya Terkikis Impor

Paradoks Indonesia: Kaya Sumber Daya, Miskin Kemandirian

May 23, 2026
Serangan Dollar Kepada Warga Desa

Serangan Dollar Kepada Warga Desa

May 23, 2026

Tantangan dan Peluang Guru PAI dan Madrasah di Era Digital: Antara Pembatasan Gawai dan Kualitas Pembelajaran

May 23, 2026
Potret Distorsi Kebijakan: Merawat Orang Sakit atau Sekadar “Membaca Buku”

Potret Distorsi Kebijakan: Merawat Orang Sakit atau Sekadar “Membaca Buku”

May 23, 2026
Benchmark: Ketika Listrik Mati Berjam-jam, Indonesia Masih Berjalan dengan Logika Abad Lalu dan Jepang Berlari ke Masa Depan

Benchmark: Ketika Listrik Mati Berjam-jam, Indonesia Masih Berjalan dengan Logika Abad Lalu dan Jepang Berlari ke Masa Depan

May 23, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Dukungan Anak Muda AS Berbelot ke Palestina

Dukungan Anak Muda AS Berbelot ke Palestina

May 23, 2026
Menantang Prabowo: Bangsa ‘Besar’ yang Devisanya Terkikis Impor

Paradoks Indonesia: Kaya Sumber Daya, Miskin Kemandirian

May 23, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist