FusilatNews – Indonesia sering disebut negeri yang diberkahi rahmat melimpah. Tanahnya subur, lautnya luas, hutannya kaya, dan sumber daya alamnya bertebaran dari Sabang sampai Merauke. Di sekolah-sekolah kita diajarkan bahwa Indonesia adalah negara agraris sekaligus negara maritim besar. Namun semakin hari muncul sebuah paradoks yang sulit diabaikan: negeri yang kaya ini justru masih menggantungkan kebutuhan pentingnya pada negara lain.
Sebagai negara agraris, Indonesia masih mengimpor bawang putih dalam jumlah sangat besar. Ironinya, hampir seluruh kebutuhan nasional dipenuhi dari luar negeri. Padahal tanah Indonesia terbentang luas, iklimnya mendukung pertanian, dan jutaan penduduk hidup dari sektor pertanian. Lebih ironis lagi, berbagai jenis sayuran, buah-buahan, kedelai, hingga komoditas pangan lainnya pun masih harus didatangkan dari luar.
Persoalan menjadi lebih menyentak ketika berbicara tentang daging. Negeri dengan padang rumput luas, lahan pertanian besar, dan desa-desa yang sejak lama akrab dengan peternakan ternyata masih harus mengimpor daging sapi maupun sapi bakalan. Bahkan pakan ternak pun sebagian bahan bakunya masih bergantung pada impor. Akibatnya, peternakan nasional seperti bergerak dengan kaki sendiri namun bernapas dengan paru-paru milik bangsa lain.
Paradoks berikutnya terjadi di lautan. Indonesia memiliki garis pantai yang termasuk terpanjang di dunia. Laut mengelilingi negeri ini dari segala penjuru. Namun garam industri masih diimpor. Sebuah keadaan yang membuat banyak orang mengernyitkan dahi: bagaimana mungkin negeri maritim masih membeli garam dari negara lain?
Di sektor energi, ironi itu bahkan lebih keras terdengar. Indonesia pernah dikenal sebagai salah satu negara penghasil minyak. Namun kini Indonesia masih mengimpor minyak mentah maupun BBM. Di SPBU rakyat mengisi bahan bakar yang sebagian bahan bakunya datang dari luar. Sementara di bawah tanah negeri ini sendiri masih tersimpan cadangan energi yang seharusnya menjadi kekuatan nasional.
Hal serupa juga tampak pada industri tekstil. Indonesia pernah berjaya sebagai salah satu kekuatan industri tekstil dunia. Pabrik-pabrik tekstil berdiri di berbagai daerah dan menyerap jutaan tenaga kerja. Akan tetapi, bahan baku utamanya yakni kapas, sebagian besar masih harus diimpor. Akibatnya, industri yang tampak berdiri tegak itu sesungguhnya masih bertumpu pada fondasi dari luar negeri.
Belum cukup sampai di sana, bahan pangan seperti gandum yang menjadi dasar industri tepung terigu, mie instan, roti, dan berbagai produk makanan juga hampir seluruhnya bergantung pada impor. Begitu pula susu dan gula yang kebutuhannya belum sepenuhnya dapat dipenuhi oleh produksi dalam negeri.
Tentu perdagangan internasional bukan sesuatu yang salah. Semua negara melakukan ekspor dan impor. Amerika Serikat, Jepang, bahkan China pun melakukannya. Namun persoalannya menjadi berbeda ketika ketergantungan terjadi pada sektor-sektor strategis yang menyangkut hajat hidup masyarakat luas.
Yang patut dipertanyakan bukan mengapa Indonesia mengimpor, melainkan mengapa ketergantungan itu terus berlangsung di negeri yang memiliki sumber daya begitu besar. Apakah persoalannya terletak pada kebijakan? Pada pembangunan sektor hulu yang tidak serius? Pada minimnya teknologi? Ataukah pada arah pembangunan yang terlalu sibuk mengejar hal-hal besar sementara kebutuhan dasarnya sendiri belum berdiri kokoh?
Indonesia bukan negeri miskin sumber daya. Yang sering dipersoalkan adalah apakah bangsa ini telah cukup mampu mengelola kekayaan yang dimilikinya. Sebab ironi terbesar bukanlah ketika sebuah negara membeli barang dari luar negeri. Ironi terbesar adalah ketika negara yang kaya raya tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri.























