FusilatNews – Dahulu, masyarakat desa mungkin bisa berkata dengan tenang, “Kami tidak memakai dolar.” Uang yang keluar dari saku mereka adalah rupiah. Mereka membeli beras di warung, pupuk di kios tani, solar untuk mesin penggiling, dan tempe dari pasar tradisional. Namun dunia telah berubah. Di era ekonomi modern, dolar tidak perlu hadir dalam bentuk lembaran hijau bergambar presiden Amerika untuk menyerang kehidupan desa. Ia datang diam-diam melalui harga barang, biaya produksi, dan kebutuhan sehari-hari.
Serangan dolar terhadap warga desa bukan serangan yang datang seperti ledakan bom. Ia bekerja seperti hujan gerimis yang turun perlahan, tetapi lama-kelamaan membasahi seluruh tubuh. Ketika nilai rupiah melemah terhadap dolar, masyarakat desa mungkin tidak langsung melihatnya di layar ponsel atau papan kurs bank. Namun beberapa minggu kemudian mereka mulai merasakan gejalanya: harga pupuk naik, pakan ternak naik, harga bahan bakar meningkat, dan biaya hidup terasa semakin berat.
Persoalannya sederhana: Indonesia masih sangat bergantung pada impor. Kedelai untuk tahu dan tempe sebagian besar berasal dari luar negeri. Pakan ternak banyak menggunakan bahan impor. Berbagai kebutuhan pertanian, obat-obatan, komponen elektronik, hingga bahan baku industri masih dibeli dengan mata uang dolar. Ketika dolar menguat dan rupiah melemah, biaya pembelian meningkat, dan kenaikan itu pada akhirnya jatuh ke pundak rakyat. Bukan hanya pengusaha besar di Jakarta, tetapi juga petani kecil di pelosok desa.
Ironisnya, desa selama ini sering dipersepsikan sebagai ruang yang terpisah dari dinamika ekonomi global. Seolah desa adalah dunia yang mandiri dan kebal dari gejolak pasar internasional. Padahal desa saat ini bukan lagi komunitas tertutup seperti puluhan tahun lalu. Desa telah masuk ke dalam rantai ekonomi nasional bahkan global. Petani membeli pupuk hasil industri. Nelayan menggunakan solar. Peternak membeli pakan yang terhubung dengan pasar dunia. Bahkan anak-anak desa menggunakan telepon pintar yang komponennya berasal dari berbagai negara.
Maka ketika dolar menyerang, sesungguhnya yang diserang bukan hanya nilai tukar mata uang, melainkan daya hidup masyarakat. Serangan itu menekan kemampuan membeli, mengurangi tabungan, dan memaksa keluarga menyesuaikan kebutuhan. Orang tua mulai mengurangi pengeluaran, petani mengurangi penggunaan pupuk, pedagang menaikkan harga dagangan, sementara masyarakat kecil kembali menjadi pihak yang harus menanggung beban paling besar.
Yang paling menyakitkan dari serangan ini adalah sifatnya yang tidak terlihat. Tidak ada suara sirene. Tidak ada peringatan darurat. Tidak ada asap hitam yang membubung ke langit. Namun perlahan, ia menyusup ke meja makan rakyat. Harga tahu naik sedikit, harga minyak naik sedikit, ongkos angkut bertambah sedikit. Tetapi ketika semua “sedikit” itu berkumpul, lahirlah kesulitan yang besar.
Karena itu, mengatakan warga desa tidak perlu khawatir terhadap dolar karena mereka tidak bertransaksi dengan dolar, sama seperti mengatakan seseorang tidak perlu takut hujan karena ia tidak tinggal di awan. Hujan memang turun dari langit, tetapi yang basah adalah bumi.
Di zaman sekarang, dolar tidak menyerang dengan cara masuk ke dompet warga desa. Ia menyerang melalui pintu belakang: melalui pasar, melalui pupuk, melalui energi, melalui makanan, dan melalui kebutuhan sehari-hari. Dan ketika pintu belakang itu terbuka, yang pertama kali merasakan dinginnya angin justru mereka yang hidupnya paling sederhana.
Serangan dolar kepada warga desa akhirnya bukan lagi soal kurs mata uang. Ia telah menjadi cerita tentang ketahanan hidup rakyat kecil. Sebab dalam ekonomi modern, yang paling jauh dari pusat kekuasaan sering kali justru yang paling dekat dengan penderitaan.
























