• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Economy

Serangan Dollar Kepada Warga Desa

fusilatnews by fusilatnews
May 23, 2026
in Economy, Feature
0
Serangan Dollar Kepada Warga Desa
Share on FacebookShare on Twitter

FusilatNews – Dahulu, masyarakat desa mungkin bisa berkata dengan tenang, “Kami tidak memakai dolar.” Uang yang keluar dari saku mereka adalah rupiah. Mereka membeli beras di warung, pupuk di kios tani, solar untuk mesin penggiling, dan tempe dari pasar tradisional. Namun dunia telah berubah. Di era ekonomi modern, dolar tidak perlu hadir dalam bentuk lembaran hijau bergambar presiden Amerika untuk menyerang kehidupan desa. Ia datang diam-diam melalui harga barang, biaya produksi, dan kebutuhan sehari-hari.

Serangan dolar terhadap warga desa bukan serangan yang datang seperti ledakan bom. Ia bekerja seperti hujan gerimis yang turun perlahan, tetapi lama-kelamaan membasahi seluruh tubuh. Ketika nilai rupiah melemah terhadap dolar, masyarakat desa mungkin tidak langsung melihatnya di layar ponsel atau papan kurs bank. Namun beberapa minggu kemudian mereka mulai merasakan gejalanya: harga pupuk naik, pakan ternak naik, harga bahan bakar meningkat, dan biaya hidup terasa semakin berat.

Persoalannya sederhana: Indonesia masih sangat bergantung pada impor. Kedelai untuk tahu dan tempe sebagian besar berasal dari luar negeri. Pakan ternak banyak menggunakan bahan impor. Berbagai kebutuhan pertanian, obat-obatan, komponen elektronik, hingga bahan baku industri masih dibeli dengan mata uang dolar. Ketika dolar menguat dan rupiah melemah, biaya pembelian meningkat, dan kenaikan itu pada akhirnya jatuh ke pundak rakyat. Bukan hanya pengusaha besar di Jakarta, tetapi juga petani kecil di pelosok desa.

Ironisnya, desa selama ini sering dipersepsikan sebagai ruang yang terpisah dari dinamika ekonomi global. Seolah desa adalah dunia yang mandiri dan kebal dari gejolak pasar internasional. Padahal desa saat ini bukan lagi komunitas tertutup seperti puluhan tahun lalu. Desa telah masuk ke dalam rantai ekonomi nasional bahkan global. Petani membeli pupuk hasil industri. Nelayan menggunakan solar. Peternak membeli pakan yang terhubung dengan pasar dunia. Bahkan anak-anak desa menggunakan telepon pintar yang komponennya berasal dari berbagai negara.

Maka ketika dolar menyerang, sesungguhnya yang diserang bukan hanya nilai tukar mata uang, melainkan daya hidup masyarakat. Serangan itu menekan kemampuan membeli, mengurangi tabungan, dan memaksa keluarga menyesuaikan kebutuhan. Orang tua mulai mengurangi pengeluaran, petani mengurangi penggunaan pupuk, pedagang menaikkan harga dagangan, sementara masyarakat kecil kembali menjadi pihak yang harus menanggung beban paling besar.

Yang paling menyakitkan dari serangan ini adalah sifatnya yang tidak terlihat. Tidak ada suara sirene. Tidak ada peringatan darurat. Tidak ada asap hitam yang membubung ke langit. Namun perlahan, ia menyusup ke meja makan rakyat. Harga tahu naik sedikit, harga minyak naik sedikit, ongkos angkut bertambah sedikit. Tetapi ketika semua “sedikit” itu berkumpul, lahirlah kesulitan yang besar.

Karena itu, mengatakan warga desa tidak perlu khawatir terhadap dolar karena mereka tidak bertransaksi dengan dolar, sama seperti mengatakan seseorang tidak perlu takut hujan karena ia tidak tinggal di awan. Hujan memang turun dari langit, tetapi yang basah adalah bumi.

Di zaman sekarang, dolar tidak menyerang dengan cara masuk ke dompet warga desa. Ia menyerang melalui pintu belakang: melalui pasar, melalui pupuk, melalui energi, melalui makanan, dan melalui kebutuhan sehari-hari. Dan ketika pintu belakang itu terbuka, yang pertama kali merasakan dinginnya angin justru mereka yang hidupnya paling sederhana.

Serangan dolar kepada warga desa akhirnya bukan lagi soal kurs mata uang. Ia telah menjadi cerita tentang ketahanan hidup rakyat kecil. Sebab dalam ekonomi modern, yang paling jauh dari pusat kekuasaan sering kali justru yang paling dekat dengan penderitaan.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Tantangan dan Peluang Guru PAI dan Madrasah di Era Digital: Antara Pembatasan Gawai dan Kualitas Pembelajaran

Next Post

Paradoks Indonesia: Kaya Sumber Daya, Miskin Kemandirian

fusilatnews

fusilatnews

Related Posts

Menantang Prabowo: Bangsa ‘Besar’ yang Devisanya Terkikis Impor
Economy

Paradoks Indonesia: Kaya Sumber Daya, Miskin Kemandirian

May 23, 2026
Feature

Tantangan dan Peluang Guru PAI dan Madrasah di Era Digital: Antara Pembatasan Gawai dan Kualitas Pembelajaran

May 23, 2026
Potret Distorsi Kebijakan: Merawat Orang Sakit atau Sekadar “Membaca Buku”
Birokrasi

Potret Distorsi Kebijakan: Merawat Orang Sakit atau Sekadar “Membaca Buku”

May 23, 2026
Next Post
Menantang Prabowo: Bangsa ‘Besar’ yang Devisanya Terkikis Impor

Paradoks Indonesia: Kaya Sumber Daya, Miskin Kemandirian

Dukungan Anak Muda AS Berbelot ke Palestina

Dukungan Anak Muda AS Berbelot ke Palestina

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Aliansi Melawan Rezim Deformasi: Militerisme Bangkit, Reformasi Mati
Komunitas

Aliansi Melawan Rezim Deformasi: Militerisme Bangkit, Reformasi Mati

by Karyudi Sutajah Putra
May 21, 2026
0

Jakarta - FusilatNews.-- Dua puluh delapan tahun pasca-Reformasi 1998, demokrasi Indonesia justru bergerak mundur. Rezim hari ini mempertontonkan wajah kekuasaan...

Read more
Membaca Tanda-tanda Zaman: Prabowo Aman?

Membaca Tanda-tanda Zaman: Prabowo Aman?

May 21, 2026
Pembebasan 9 WNI yang Ditahan Israel Jadi Pertaruhan Prabowo

Pembebasan 9 WNI yang Ditahan Israel Jadi Pertaruhan Prabowo

May 21, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Dukungan Anak Muda AS Berbelot ke Palestina

Dukungan Anak Muda AS Berbelot ke Palestina

May 23, 2026
Menantang Prabowo: Bangsa ‘Besar’ yang Devisanya Terkikis Impor

Paradoks Indonesia: Kaya Sumber Daya, Miskin Kemandirian

May 23, 2026
Serangan Dollar Kepada Warga Desa

Serangan Dollar Kepada Warga Desa

May 23, 2026

Tantangan dan Peluang Guru PAI dan Madrasah di Era Digital: Antara Pembatasan Gawai dan Kualitas Pembelajaran

May 23, 2026
Potret Distorsi Kebijakan: Merawat Orang Sakit atau Sekadar “Membaca Buku”

Potret Distorsi Kebijakan: Merawat Orang Sakit atau Sekadar “Membaca Buku”

May 23, 2026
Benchmark: Ketika Listrik Mati Berjam-jam, Indonesia Masih Berjalan dengan Logika Abad Lalu dan Jepang Berlari ke Masa Depan

Benchmark: Ketika Listrik Mati Berjam-jam, Indonesia Masih Berjalan dengan Logika Abad Lalu dan Jepang Berlari ke Masa Depan

May 23, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Dukungan Anak Muda AS Berbelot ke Palestina

Dukungan Anak Muda AS Berbelot ke Palestina

May 23, 2026
Menantang Prabowo: Bangsa ‘Besar’ yang Devisanya Terkikis Impor

Paradoks Indonesia: Kaya Sumber Daya, Miskin Kemandirian

May 23, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist