• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Paradoks Jepang: Kekurangan Tenaga Kerja, Tetapi Menolak Pendatang

Ali Syarief by Ali Syarief
July 26, 2026
in Feature, Japanese Supesharu
0
Paradoks Jepang: Kekurangan Tenaga Kerja, Tetapi Menolak Pendatang
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ali Syarief

Jepang sedang menghadapi sebuah paradoks yang menarik sekaligus mengkhawatirkan. Di satu sisi, negeri ini mengalami krisis tenaga kerja akibat populasi yang terus menua dan angka kelahiran yang semakin rendah. Di sisi lain, ketika jumlah pekerja asing dan wisatawan meningkat untuk mengisi kekosongan itu, sebagian masyarakat justru mulai menunjukkan sikap yang semakin dingin terhadap orang asing.

Paradoks inilah yang diangkat The Economist dalam artikelnya berjudul Why Is Japan Souring on Foreign Workers and Tourists?

Selama beberapa dekade, Jepang dikenal sebagai negara yang relatif tertutup terhadap imigrasi. Berbeda dengan Amerika Serikat, Kanada, atau Australia yang sejak lama menjadi negara tujuan migran, Jepang lebih memilih mempertahankan homogenitas masyarakatnya.

Namun kenyataan demografi memaksa Jepang mengubah sikap.

Penduduk Jepang kini terus menyusut. Dari sekitar 128 juta jiwa pada 2010, jumlahnya diperkirakan turun menjadi sekitar 87 juta pada 2070. Hampir sepertiga penduduknya berusia di atas 65 tahun. Setiap tahun, jumlah kematian jauh melampaui jumlah kelahiran.

Artinya sederhana.

Tidak ada cukup orang Jepang untuk mengerjakan seluruh pekerjaan yang dibutuhkan negaranya sendiri.

Membuka Pintu untuk Dunia

Pemerintahan mendiang Shinzo Abe mulai menyadari persoalan ini. Sejumlah kebijakan dilonggarkan untuk menerima lebih banyak tenaga kerja asing, terutama di sektor konstruksi, manufaktur, pertanian, keperawatan, dan pelayanan.

Hasilnya cukup signifikan.

Jumlah warga negara asing yang tinggal di Jepang kini mencapai sekitar 3,7 juta orang, angka tertinggi dalam sejarah modern Jepang. Di saat yang sama, sektor pariwisata berkembang pesat. Sebelum pandemi, dan kembali pulih setelahnya, Jepang menerima sekitar 40 juta wisatawan mancanegara setiap tahun.

Ekonomi memperoleh manfaat besar.

Hotel penuh.

Restoran hidup.

Pusat-pusat perbelanjaan ramai.

Banyak perusahaan akhirnya dapat bertahan karena kehadiran pekerja asing.

Ketika Tamu Dianggap Mengganggu

Namun keberhasilan itu melahirkan persoalan baru.

Di Kyoto, penduduk mulai mengeluhkan bus kota yang selalu penuh wisatawan sehingga mereka kesulitan berangkat bekerja atau sekolah.

Di Gunung Fuji, pemerintah bahkan memasang pagar untuk mencegah wisatawan berfoto di lokasi yang dianggap mengganggu ketertiban.

Di berbagai kota, muncul keluhan mengenai sampah, kebisingan, pelanggaran etika, hingga meningkatnya harga properti dan biaya hidup.

Sebagian media mulai menggunakan istilah overtourism.

Lambat laun, keresahan terhadap pariwisata berkembang menjadi keresahan terhadap orang asing secara umum.

Politik Menemukan Musuh Baru

Di sinilah politik mulai bermain.

Sebagian politisi memanfaatkan kecemasan masyarakat dengan menyederhanakan persoalan. Orang asing dijadikan kambing hitam atas berbagai masalah sosial, mulai dari kriminalitas, kenaikan harga, hingga perubahan budaya.

Padahal data menunjukkan bahwa sebagian besar pekerja asing justru mengisi pekerjaan yang tidak lagi diminati warga Jepang sendiri.

Tanpa mereka, banyak restoran tidak dapat beroperasi.

Rumah sakit kekurangan perawat.

Ladang pertanian kehilangan pekerja.

Pabrik mengalami kekurangan tenaga produksi.

Ironinya, Jepang membutuhkan mereka lebih daripada sebelumnya.

Krisis Identitas Bangsa

Persoalan sebenarnya bukanlah jumlah orang asing.

Persoalannya adalah Jepang sedang mengalami krisis identitas.

Selama ratusan tahun masyarakat Jepang terbiasa hidup dalam lingkungan yang sangat homogen. Kehadiran jutaan orang dari Vietnam, Indonesia, Filipina, Nepal, China, Korea, hingga berbagai negara lain mengubah wajah kota-kota Jepang.

Perubahan selalu melahirkan kegelisahan.

Sebagian masyarakat melihat keberagaman sebagai kekayaan.

Sebagian lainnya melihatnya sebagai ancaman.

Fenomena ini sebenarnya tidak hanya terjadi di Jepang. Eropa dan Amerika Serikat juga mengalami gelombang populisme yang memanfaatkan isu imigrasi untuk memperoleh dukungan politik.

Bedanya, Jepang selama ini dikenal sebagai bangsa yang santun, tertib, dan relatif jauh dari retorika anti-imigran.

Kini, gejala itu mulai tampak.

Pelajaran bagi Indonesia

Indonesia sering memandang Jepang sebagai model keberhasilan pembangunan.

Kita mengagumi kereta cepatnya.

Kebersihan kotanya.

Disiplin masyarakatnya.

Teknologinya.

Namun Jepang mengajarkan satu hal penting: kemajuan ekonomi tidak pernah menghapus persoalan sosial.

Ketika jumlah penduduk terus menurun, sebuah negara tidak punya banyak pilihan selain membuka diri terhadap dunia.

Tetapi membuka pintu saja tidak cukup.

Yang jauh lebih sulit adalah membuka hati.

Karena menerima pekerja asing bukan hanya soal mengisi lowongan kerja. Ia adalah soal menerima perubahan budaya, keberagaman, dan kenyataan bahwa masa depan sebuah bangsa tidak lagi dapat dibangun sendirian.

Jepang hari ini sedang berdiri di persimpangan sejarah.

Apakah ia akan tetap menjadi negeri yang terbuka terhadap dunia demi mempertahankan kemakmurannya?

Ataukah ia akan kembali menutup diri demi mempertahankan identitasnya?

Jawaban atas pertanyaan itu bukan hanya akan menentukan masa depan Jepang, tetapi juga menjadi pelajaran berharga bagi banyak negara yang kelak menghadapi krisis demografi serupa.

Paradoks Jepang mengingatkan kita bahwa ancaman terbesar bagi suatu bangsa sering kali bukan datang dari orang asing, melainkan dari ketidakmampuan menerima kenyataan bahwa dunia telah berubah.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Dari Rumah Sakit ke Industri Seks: Potret Kelam Jepang Modern

Next Post

Jepang dan Wajah Baru Perceraian

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Heler Padi: Untung Rp 2 Triliun Sebulan dan Matematika Kekuasaan
Economy

Heler Padi: Untung Rp 2 Triliun Sebulan dan Matematika Kekuasaan

July 26, 2026
Gibran Syah Secara Legal (Hans Kelsen) dan Akan Rubuh Karena Tidak Legitimate (Max Weber)
Feature

Deklarasi Gibran Wapres Dua Periode: Politik yang Kehilangan Rasa Tahu Diri

July 26, 2026
Jepang dan Wajah Baru Perceraian
Cross Cultural

Jepang dan Wajah Baru Perceraian

July 26, 2026
Next Post
Jepang dan Wajah Baru Perceraian

Jepang dan Wajah Baru Perceraian

Bisik-Bisik Pemakzulan: Prabowo dan Dua Wajah Kabinet yang Menyimpan Agenda

PBHI: Presiden Harus Hentikan Penghinaan terhadap Warga Negara

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Habis Nanik, Terbitlah Hotman
Feature

Habis Nanik, Terbitlah Hotman

by Karyudi Sutajah Putra
July 23, 2026
0

Jakarta - Setelah Nanik S Deyang, kini giliran pengacara kondang Hotman Paris Hutapea yang menyatakan mundur. Jika Nanik mundur dari...

Read more
Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

July 11, 2026
AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

July 10, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Heler Padi: Untung Rp 2 Triliun Sebulan dan Matematika Kekuasaan

Heler Padi: Untung Rp 2 Triliun Sebulan dan Matematika Kekuasaan

July 26, 2026
Gibran Syah Secara Legal (Hans Kelsen) dan Akan Rubuh Karena Tidak Legitimate (Max Weber)

Deklarasi Gibran Wapres Dua Periode: Politik yang Kehilangan Rasa Tahu Diri

July 26, 2026
Bisik-Bisik Pemakzulan: Prabowo dan Dua Wajah Kabinet yang Menyimpan Agenda

PBHI: Presiden Harus Hentikan Penghinaan terhadap Warga Negara

July 26, 2026
Jepang dan Wajah Baru Perceraian

Jepang dan Wajah Baru Perceraian

July 26, 2026
Paradoks Jepang: Kekurangan Tenaga Kerja, Tetapi Menolak Pendatang

Paradoks Jepang: Kekurangan Tenaga Kerja, Tetapi Menolak Pendatang

July 26, 2026
Dari Rumah Sakit ke Industri Seks: Potret Kelam Jepang Modern

Dari Rumah Sakit ke Industri Seks: Potret Kelam Jepang Modern

July 26, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Heler Padi: Untung Rp 2 Triliun Sebulan dan Matematika Kekuasaan

Heler Padi: Untung Rp 2 Triliun Sebulan dan Matematika Kekuasaan

July 26, 2026
Gibran Syah Secara Legal (Hans Kelsen) dan Akan Rubuh Karena Tidak Legitimate (Max Weber)

Deklarasi Gibran Wapres Dua Periode: Politik yang Kehilangan Rasa Tahu Diri

July 26, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...