Oleh: Ali Syarief
Selama puluhan tahun, Jepang dikenal sebagai negeri yang tertib, aman, dan makmur. Dunia mengenalnya melalui teknologi mutakhir, disiplin masyarakatnya, kereta api yang selalu tepat waktu, hingga umur panjang penduduknya. Namun, di balik citra itu, terdapat sisi lain yang jarang dibicarakan: industri seks yang begitu besar dan telah menjadi bagian dari denyut kehidupan perkotaan.
Kisah Mai, seorang perempuan berusia 34 tahun di Tokyo, menggambarkan kenyataan tersebut. Sebelum pandemi COVID-19, ia bekerja di sebuah rumah sakit. Namun ketika gelombang pasien terus berdatangan, tekanan psikologis yang luar biasa membuatnya tidak sanggup bertahan. Sebagai ibu tunggal, ia juga harus memastikan keluarganya tetap hidup.
Pilihan yang diambilnya mungkin mengejutkan banyak orang.
Mai meninggalkan profesinya sebagai tenaga kesehatan dan memasuki industri hiburan dewasa. Awalnya ia menjadi aktris film dewasa, kemudian bekerja sebagai deriheru (delivery health), istilah dalam bahasa Jepang untuk layanan pendamping yang mendatangi pelanggan di rumah atau hotel. Dalam satu sesi selama dua jam, ia memperoleh sekitar ¥30.000, atau sekitar Rp 3.300.000, jauh lebih besar dibandingkan dengan penghasilannya sebagai pekerja rumah sakit.
Mai bukanlah pengecualian.
Ia hanyalah satu dari ratusan ribu perempuan yang bekerja di industri seks Jepang. Nilai bisnis ini diperkirakan mencapai ¥2 triliun hingga ¥5 triliun per tahun, setara sekitar US$12–31 miliar. ( Atau sekitar Rp220 triliun hingga Rp550 triliun setiap tahun). Besarnya angka tersebut menunjukkan bahwa industri ini bukan sekadar bisnis pinggiran, melainkan salah satu sektor ekonomi yang hidup berdampingan dengan kehidupan modern Jepang.
Pandemi Mengubah Banyak Hal
Pandemi COVID-19 tidak hanya mengguncang sistem kesehatan, tetapi juga mengguncang kehidupan ekonomi masyarakat Jepang.
Banyak perempuan kehilangan pekerjaan di sektor jasa, restoran, hotel, dan ritel. Sebagian harus menopang keluarga sendirian. Di tengah mahalnya biaya hidup di kota-kota besar seperti Tokyo dan Osaka, sebagian memilih pekerjaan yang menawarkan penghasilan cepat.
Fenomena ini bahkan mendapat perhatian pemerintah Jepang. Sejumlah lembaga bantuan perempuan melaporkan meningkatnya jumlah perempuan muda yang memasuki industri seks karena tekanan ekonomi setelah pandemi.
Budaya yang Sudah Mengakar
Industri seks di Jepang bukanlah fenomena baru.
Sejarahnya dapat ditelusuri sejak zaman Edo (1603–1868), ketika distrik-distrik hiburan seperti Yoshiwara berkembang menjadi pusat prostitusi yang diatur pemerintah. Setelah Perang Dunia II, bentuknya berubah, tetapi tidak pernah benar-benar hilang.
Kini industri tersebut tampil dalam berbagai bentuk: klub hostess, soapland, fashion health, pink salon, hingga layanan delivery health, yang berkembang pesat berkat teknologi digital dan aplikasi daring.
Yang menarik, sebagian besar layanan tersebut berada di wilayah abu-abu hukum. Jepang memiliki Anti-Prostitution Law sejak 1956 yang melarang hubungan seksual berbayar secara langsung, tetapi banyak jenis layanan seksual lainnya tetap dapat beroperasi melalui celah-celah hukum.
Akibatnya, industri ini terus tumbuh dengan berbagai variasi.
Bagian dari Budaya Sosial Laki-Laki?
Sebuah survei pada tahun 2022 menunjukkan bahwa 48 persen laki-laki Jepang pernah membayar layanan seksual, jauh lebih tinggi dibandingkan Inggris yang berada di angka sekitar 11 persen.
Angka ini memperlihatkan bahwa penggunaan jasa seksual di Jepang tidak selalu dipandang sebagai perilaku menyimpang.
Hagiwara, seorang pria berusia 63 tahun di Tokyo, mengenang ketika pertama kali masuk bekerja di sebuah perusahaan besar. Rekan-rekan seniornya mengajak dirinya ke sebuah rumah bordil sebagai bagian dari “ritual kedewasaan” atau bentuk penerimaan dalam lingkungan kerja.
Emu, pria berusia tiga puluhan, bahkan mengatakan bahwa hampir semua laki-laki di lingkungannya pernah menggunakan layanan tersebut setidaknya sekali.
Pernyataan-pernyataan ini menunjukkan bahwa bagi sebagian kalangan, industri seks telah menjadi bagian dari budaya sosial laki-laki Jepang, meskipun generasi muda mulai menunjukkan pola yang berbeda.
Ironi Negeri yang Kesepian
Namun persoalannya tidak sesederhana transaksi ekonomi.
Jepang kini menghadapi fenomena yang disebut banyak sosiolog sebagai epidemi kesepian. Angka pernikahan terus menurun, kelahiran berada pada titik terendah sepanjang sejarah, sementara jumlah penduduk lanjut usia terus meningkat.
Semakin banyak orang hidup sendirian.
Hubungan emosional menjadi semakin langka.
Dalam situasi seperti itu, industri seks tidak hanya menjual layanan fisik, tetapi juga menjual ilusi kedekatan, perhatian, dan keberadaan seseorang yang bersedia mendengarkan.
Sebagian pelanggan datang bukan semata mencari kepuasan seksual, melainkan mencari teman berbicara selama beberapa jam.
Kesepian berubah menjadi komoditas.
Pelajaran bagi Indonesia
Bagi Indonesia, fenomena Jepang memberikan pelajaran penting.
Kemajuan ekonomi ternyata tidak otomatis menghadirkan kebahagiaan sosial. Pendapatan tinggi tidak selalu mampu menggantikan kehangatan keluarga. Kota yang modern belum tentu melahirkan masyarakat yang saling terhubung.
Di balik gedung-gedung pencakar langit Tokyo, terdapat banyak orang yang merasa sendirian.
Di balik kemajuan teknologi, ada manusia yang kehilangan tempat berbagi.
Kisah Mai bukan sekadar cerita tentang seorang perempuan yang berganti profesi. Ia adalah potret bagaimana krisis ekonomi, tekanan psikologis, perubahan budaya kerja, dan kesepian dapat bertemu dalam satu titik.
Jepang sering dipuji karena kemajuannya.
Tetapi seperti negara mana pun, kemajuan selalu memiliki bayangan. Dan kadang-kadang, bayangan itu justru mengajarkan bahwa kesejahteraan manusia tidak hanya diukur dari besarnya Produk Domestik Bruto (PDB), melainkan juga dari kuatnya ikatan keluarga, komunitas, dan rasa memiliki satu sama lain.
Mungkin di situlah pelajaran terbesar dari Jepang: sebuah bangsa bisa sangat maju secara teknologi, tetapi tetap bergulat dengan kesepian yang tidak dapat disembuhkan oleh uang.


























