FusilatNews – Dalam dunia politik negeri ini, ada satu hal yang tak pernah gagal membuat rakyat terpana: kebiasaan para “pejuang politik” dan “pelindung rakyat” berdiskusi tentang masa depan bangsa di tempat yang paling relevan—hotel-hotel mewah. Kali ini, yang sedang dibahas adalah Rancangan Undang-Undang (RUU) TNI, sebuah regulasi krusial yang seharusnya menentukan arah institusi pertahanan negara ke depan. Namun, alih-alih dibahas di kampus-kampus—tempat logika dan intelektualitas masih hidup—para anggota DPR RI yang terhormat dan petinggi TNI memilih ruang diskusi yang lebih nyaman, dengan pencahayaan temaram, layanan eksklusif, dan hidangan lima bintang.
Tentu, kita tak boleh berburuk sangka. Mungkin para wakil rakyat ini memang membutuhkan suasana yang kondusif untuk berpikir jernih. Tidak mungkin mereka berkonsentrasi jika harus mendengar suara mahasiswa yang bertanya kritis atau akademisi yang mengoreksi argumen mereka dengan data. Perdebatan di kampus hanya akan membuat mereka kewalahan menjelaskan logika yang sebenarnya tidak ada. Lebih baik mereka rapat di tempat yang sepi dari suara-suara intelektual, supaya tidak terganggu oleh sesuatu yang bernama akal sehat.
Yang lebih menarik lagi, konon ada perdebatan soal peran TNI dalam ranah sipil. Sebagian ingin menambah wewenang, sebagian pura-pura keberatan, dan sisanya diam saja karena yang penting jatah anggaran tetap mengalir. Semua ini dibahas dengan serius di ruang ber-AC, jauh dari kerumunan rakyat yang konon mereka lindungi. Seolah-olah keputusan tentang rakyat lebih baik diambil tanpa kehadiran rakyat itu sendiri.
Jika ditanya, mereka mungkin akan menjawab bahwa membahas RUU TNI di hotel mewah adalah bagian dari “efisiensi kerja” atau “upaya menciptakan suasana kondusif.” Tentu saja, logika ini hanya bisa dimengerti oleh mereka yang hidup dalam gelembung kekuasaan. Rakyat, sayangnya, tak akan pernah bisa memahami keistimewaan semacam ini. Kampus, tempat intelektual sejati bertukar gagasan, dianggap terlalu ramai, terlalu penuh pemikiran kritis, dan tentu saja, terlalu murah untuk kelas mereka.
Parodi ini terus berulang. Elite politik dan elite militer selalu menemukan kesamaan dalam satu hal: menikmati keistimewaan tanpa merasa perlu mempertanggungjawabkannya. Sementara itu, mahasiswa, akademisi, dan masyarakat sipil hanya bisa menonton dari kejauhan, berharap ada sedikit saja ruang bagi akal sehat dalam kebijakan negeri ini. Tapi, tentu saja, harapan seperti itu terlalu naif untuk para pejuang politik dan pelindung rakyat yang lebih nyaman berjuang di bawah lampu kristal dan alunan musik jazz.
Selamat berdiskusi, wahai para pemimpin. Semoga rakyat tidak mengganggu kenyamanan kalian dengan pertanyaan-pertanyaan yang terlalu sulit untuk dijawab.





















