Dalam perspektif Islam, segala yang ada di dunia ini adalah ciptaan Allah yang diberikan untuk umat manusia sebagai amanah untuk dimanfaatkan dengan bijaksana dan penuh rasa syukur. Salah satu sumber daya alam yang sangat melimpah di Indonesia adalah laut, yang menutupi sekitar 70% dari total wilayah negara. Laut memiliki potensi luar biasa yang tidak hanya dapat dimanfaatkan untuk keperluan ekonomi dan energi, tetapi juga sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui pemanfaatan yang benar dan optimal.
Allah SWT dalam Al-Qur’an telah berfirman tentang pentingnya pemanfaatan laut sebagai bagian dari karunia-Nya yang harus disyukuri dan digunakan dengan baik. Salah satu ayat yang sangat relevan adalah surat An-Nahl ayat 14:
“Dan Dia-lah yang menundukkan lautan untukmu, agar kamu dapat makan darinya daging yang segar, dan kamu dapat mengeluarkan darinya perhiasan yang kamu pakai. Dan kamu melihat kapal-kapal berlayar di atasnya, agar kamu mencari sebagian karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.” (Q.S. An-Nahl: 14)
Ayat ini mengingatkan umat Islam bahwa laut adalah salah satu nikmat besar yang diberikan Allah, dan kita diminta untuk memanfaatkannya dengan tujuan yang baik, yaitu untuk memenuhi kebutuhan hidup dan mencari karunia Allah. Selain itu, perintah untuk bersyukur dalam ayat ini menegaskan bahwa segala bentuk nikmat yang ada di dunia, termasuk kekayaan alam seperti laut, harus digunakan dengan cara yang benar dan tidak merusak lingkungan.
Dalam konteks pemanfaatan energi surya berbasis laut (sea-based solar energy), hal ini dapat dilihat sebagai bagian dari upaya manusia untuk memenuhi kebutuhan energi dengan cara yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Penggunaan teknologi ini dapat menjadi salah satu wujud syukur atas karunia Allah yang telah memberikan sumber daya alam yang melimpah, termasuk sinar matahari dan lautan. Pemanfaatan energi terbarukan dari laut, yang tidak hanya mengurangi ketergantungan pada energi fosil tetapi juga tidak merusak lingkungan, dapat dianggap sebagai bentuk amanah yang dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
Selain itu, pemanfaatan laut secara optimal juga terkait erat dengan prinsip menjaga kelestarian alam dalam Islam. Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan bahwa manusia bukanlah pemilik mutlak alam semesta ini, tetapi hanya sebagai khalifah yang bertugas untuk merawat dan mengelola alam dengan baik. Dalam surat Al-Baqarah ayat 11-12, Allah berfirman:
“Apabila dikatakan kepada mereka: ‘Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi,’ mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang hanya membuat perbaikan.’ Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” (Q.S. Al-Baqarah: 11-12)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa segala tindakan yang merusak lingkungan atau tidak memperhatikan keberlanjutan alam adalah suatu bentuk kerusakan yang dilarang dalam Islam. Oleh karena itu, ketika kita memanfaatkan laut, kita harus memperhatikan keberlanjutannya agar tidak merusak ekosistem laut yang sangat penting bagi kehidupan makhluk hidup, baik di daratan maupun di lautan.
Pemanfaatan laut untuk energi surya berbasis terapung (floating solar energy) merupakan contoh yang baik dari cara-cara yang ramah lingkungan dalam menggunakan sumber daya alam. Dengan memanfaatkan lautan sebagai tempat pemasangan panel surya, kita tidak hanya memanfaatkan karunia Allah dengan cara yang efisien, tetapi juga menjaga kelestarian alam dengan meminimalisir kerusakan yang dapat terjadi jika penggunaan lahan darat digunakan secara berlebihan. Selain itu, proyek ini dapat membuka peluang bagi masyarakat untuk memperoleh akses energi yang lebih murah dan berkelanjutan, yang pada gilirannya akan meningkatkan kesejahteraan umat manusia, sebagaimana Allah berfirman dalam surat Al-Mulk ayat 15:
“Dia-lah yang menjadikan bumi itu rendah hati bagi kalian, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah rezeki yang diberikan Allah. Kepada-Nyalah kamu akan kembali.” (Q.S. Al-Mulk: 15)
Ayat ini mengingatkan umat Islam untuk memanfaatkan bumi, termasuk laut, sebagai sarana untuk mencari rezeki, namun harus dilakukan dengan cara yang tidak melanggar batas-batas yang ditetapkan oleh Allah. Pemanfaatan laut untuk energi surya terapung adalah salah satu cara untuk menggali karunia-Nya tanpa merusak alam, dan ini merupakan salah satu bentuk bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah.
Selain itu, dalam konteks dakwah Islam, pemanfaatan laut yang ramah lingkungan ini bisa menjadi contoh nyata bagaimana umat Islam dapat menjalankan amanah sebagai khalifah di bumi. Dengan mengembangkan teknologi yang tidak hanya menguntungkan manusia, tetapi juga menjaga kelestarian alam, umat Islam dapat menunjukkan kepada dunia bahwa Islam tidak hanya mengajarkan ibadah ritual semata, tetapi juga bagaimana menjaga dan merawat bumi sebagai amanah yang diberikan Allah.
Sebagai penutup, pemanfaatan laut secara optimal untuk energi surya berbasis terapung adalah salah satu bentuk syukur kepada Allah yang harus kita jaga dan kelola dengan baik. Dengan memanfaatkan sumber daya alam secara bijaksana dan ramah lingkungan, kita tidak hanya menjaga kelestarian alam, tetapi juga menjalankan perintah Allah untuk menjadi khalifah yang bertanggung jawab atas bumi ini. Ini adalah bentuk dakwah yang sangat relevan di zaman modern ini, di mana manusia dituntut untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian alam demi keberlanjutan hidup di masa depan.


























