Menurut Hotman Paris ada dugaan pelaku lain karena ia menerima juga berbagai aduan dari korban lain yang mendapat perlakuan serupa, yaitu diculik dan dianiaya oknum aparat.
Jakarta – Fusilatnews – Kuasa hukum keluarga Imam Masykur, Hotman Paris Hutapea.menegaskan berdasarkan penyidikan kasus penculikan disertai pembunuhan terhadap Imam Masykur oleh oknum Paspampres Praka Riswandi Manik dan rekan-rekannya ditemukan dugaan adanya pelaku lain diluar tiga tersangka tersebut
Menurut Hotman Paris ada dugaan pelaku lain karena ia menerima juga berbagai aduan dari korban lain yang mendapat perlakuan serupa, yaitu diculik dan dianiaya oknum aparat.
“Saya sudah posting di Instagram saya para korban-korban agar datang juga. Tapi semuanya pada takut,” ungkap Hotman di Kelapa Gading, Jakarta Pusat, Selasa (26/9) seperti dikutip dari Pojok Satu.
Hotman melanjutkan dalam pengakuannya, para korban itu mendapat perlakuan dan modus yang sama dari para pelaku, yang diduga juga aparat.
“Ada yang telepon, tapi enggak mau ngomong namanya. Hanya ngomong ‘saya juga korban’,” sambungnya.
Para pelaku ini juga kerap menagih sejumlah uang dengan ancaman pembunuhan apabila permintaannya tidak dipenuhi.
“Tim Hotman 911 banyak menerima aduan dan telepon dari korban ini, tapi enggak berani (mengungkap). Ya, mungkin masih ada pelaku lain,” paparnya.
Imam Masykur, warga Aceh, menjadi korban penculikan dan penyiksaan hinnga tewas oleh Praka Riswadi Manik Cs pada 12 Agustus lalu.
Dalam kasus ini, 3 oknum anggota TNI dinyatakan sebagai tersangka. Ketiganya adalah Praka Riswandi Manik (anggota Paspampres), Praka Heri Sandi (anggota Direktorat Topografi TNI AD), dan Praka Jasmowir yang merupakan anggota dari Kodam Iskandar Muda.
Selain itu, 3 warga sipil turut diduga terlibat dalam kasus itu. Salah satunya bernama Zulhadi Satria Saputra yang merupakan merupakan kakak ipar Praka Riswandi Manik.
Komandan Pomdam Jaya Kolonel Cpm Irsyad Hamdie Bey Anwar menegaskan tindakan 3 oknum anggota TNI menculik dan menganiaya Imam Masykur didasari motif pemerasan.
Irsyad menyebut para pelaku awalnya melancarkan aksinya dengan berpura-pura sebagai anggota polisi. Mereka berdalih hendak menangkap Imam lantaran diduga menjual obat ilegal.





















