Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)
JAKARTA – Hasil survei berbagai lembaga, PDI Perjuangan merupakan calon jawara Pemilu 2024. Hasil survei ini seperti balon yang ditiup: menggelembung!
Lembaga Survei Indonesia (LSI), misalnya, dalam hasil survei yang dirilis 4 September 2022, menempatkan PDIP sebagai pemenang Pemilu 2024 dengan angka fantastis 26,6 persen, disusul Partai Golkar 11,7 persen dan Partai Gerindra 9,9 persen.
Pemilu 2019 juga dimenangkan PDIP sebagaimana Pemilu 2014. Jika menang lagi di Pemilu 2024, maka PDIP berhasil menciptakan hattrick. Kini, PDIP menguasai 128 dari 557 kursi di DPR RI atau lebih dari 20 persen. Artinya, hanya PDIP yang berhak mengusung sendiri calon presiden 2024 sesuai ketentuan Pasal 222 Undang-Undang (UU) No 7 Tahun 2017 tentang Pemilu.
Sayangnya, banyak pula duri di PDIP yang sudah mulai menggembosi balon suara yang menggelembung itu. Alhasil, jika PDIP ternyata kalah di Pemilu 2024, maka tak perlu mencari faktor eksternal untuk disalahkan. Salahkan faktor internal yang memang sengaja menggembosi balon suara PDIP dari dalam.
Ibarat kapal Titanic yang tenggelam, penyebabnya bukan hantaman karang atau gunung es, melainkan lambung kapal itu dilubangi dari dalam oleh para anak buah kapal sendiri.
Lalu, siapa penggembos-penggembos balon suara PDIP itu? Ialah kader-kader PDIP sendiri yang tingkahnya tidak sesuai dengan ideologi partai, yakni Marhaenisme. Apalagi selama ini PDIP selalu mengklaim sebagai partainya “wong cilik” (rakyat kecil).
Wakil Rakyat Sejati
Yang teranyar tentu saja tingkah Said Abdullah. Betapa tidak?
Ulah Ketua Badan Anggaran DPR RI dari PDIP itu saat ini sedang menuai sorotan bahkan kecaman publik. Dalam video dan foto yang viral di media sosial, wakil rakyat dari Daerah Pemilihan Jawa Timur IX ini kedapatan menumpang pesawat jet pribadi. Bukan pesawat jet pribadi itu sendiri yang dipersoalkan, melainkan pula tingkah pola Said yang memamerkan kemewahan atau hedonisme.
Dalam video viral yang beredar, saat menumpang pesawat jet pribadi itulah Said Abdullah kedapatan merokok atau mengisap cerutu. “Yang penting di pesawat bisa merokok, itu nomor satu,” kata Said Abdullah dalam rekaman video itu.
Kemewahan itu pun ia pamerkan atau pertontonkan ke publik. Buktinya, video itu viral di media sosial. Berarti ada orang dekat atau bahkan dia sendiri yang patut diduga merekam dan/atau menyebarkannya. Kalau tidak sengaja disebarkan, tentu ia tidak mengizinkan difoto atau direkam video.
Hedonisme yang dipertontonkan Said Abdullah itu selaras dengan sikapnya yang tidak berpihak kepada wong cilik. Baru-baru ini ia mengusulkan, bahkan sempat mengklaim usulannya itu sudah menjadi keputusan pemerintah dan DPR, penghapusan daya listrik 450 volt Ampere (vA) yang merupakan alokasi bagi wong cilik.
Said boleh saja membantah itu foto atau video tahun 2020 yang kini “digoreng” lagi karena pihaknya mengusulkan penghapusan daya listrik 450 vA. Tapi bantahan itu tak mampu melemyapkan fakta bahwa ia menumpang pesawat jet pribadi, dan bahwa dirinya merokok di dalam pesawat mewah itu. Bukankah tahun 2020 Indonesia sudah memasuki masa krisis akibat pandemi Covid-19?
Apa yang dilakukan Said Abdullah itu merupakan ledekan bagi rakyat kecil yang hidupnya sedang menderita. Padahal rakyat kecil merupakan konstituen terbesar PDIP dari pemilu ke pemilu. Sebelumnya, penggembosan balon suara PDIP dilakukan kader PDIP yang duduk di Komisi I DPR RI, yakni Effendi Simbolon.
Dalam sebuah rapat dengan Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa, Senin (5/9/2022), Effendi Simbolon menyebut TNI seperti gerombolan dan lebih menyerupai ormas.
Effendi memang sempat minta maaf atas statemen kontroversialnya itu. Tapi permintaan maaf itu diyakini tak mampu menghapus “common sense” atau perasaan umum yang sudah terlanjur terluka dan opini publik yang sudah terlanjur terbentuk. Siap-siap saja pada Pemilu 2024 nanti PDIP kehilangan suara keluarga besar TNI, seperti anak dan istri/suami anggota TNI, dan purnawirawan TNI beserta keluarganya yang tentu saja kecewa bahkan sakit hati terhadap pernyataan Effendi.
Penggembos balon suara PDIP berikutnya adalah Arteria Dahlan. Anggota Komisi III DPR RI ini beberapa waktu lalu bertengkar dengan seseorang yang mengaku sebagai keluarga seorang jenderal TNI. Konflik yang sempat mencuat ke publik ini berakhir damai.
Belakangan ada kabar, Arteria Dahlan dikawal polisi saat berbelanja meubelair berbahan kayu jati di Jepara, Jawa Tengah. Kalau untuk keperluan pribadi saja sudah minta dikawal polisi, apalagi untuk tugas negara?
Penggembos-penggembos balon suara PDIP lainnya adalah kader-kader yang duduk di legislatif dan eksekutif yang terlibat korupsi.
Pola tingkah Said Abdullah, Effendi Simbolon dan Arteria Dahlan telah mencerninkan arogansi kekuasaan, suatu hal yang bertolak belakang dengan Marhaenisme, ideologi politik yang dianut PDIP, bahkan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri kerap mengklaim PDIP adalah partainya wong cilik.
Jadi, sekali lagi, ketika nanti PDIP ternyata kalah atau minimal perolehan suaranya turun di Pemilu 2024, jangan salahkan orang lain, tapi salahkanlah diri sendiri yang tak mampu membersihkan partai dari penggembos-penggembos yang datang dari dalam tubuh partai banteng itu sendiri. Sikap hedonis Said Abdullah serta arogansi yang dipertontonkan Effendi Simbolon dan Arteria Dahlan membuktikan bahwa mereka benar-benar wakil rakyat yang sempurna, wakil rakyat sejati.
Gaji rakyat yang mestinya besar sudah diwakili para wakil-wakilnya yang duduk di Senayan, sehingga mereka bisa menumpang pesawat jet pribadi. Kesejahteraan dan kemewahan rakyat sudah diwakili oleh wakil rakyat. Rakyat sendiri hidup megap-megap. Apalagi kini setelah ada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
Alhasil, PDIP jangan terninabobokan hasil survei. PDIP jangan terlena oleh 128 kursi yang dimilikinya di parlemen. Sebab suara rakyat adalah suara Tuhan, vox populi vox dei, dan suara rakyat tercermin dari suara wong cilik yang merupakan mayoritas warga bangsa ini. Jika terlena, maka kemenangan PDIP di pemilu tinggal kenangan. Itulah!























