Jakarta, Fusilatnews.com – Pengobatan alternatif kini menjadi fenomena di masyarakat. Teranyar adalah Ida Dayak yang diklaim bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit mulai dari patah tulang hingga stroke. Tak heran, ketika terdengar Ida Dayak asal Kalimantan mau buka praktik pengobatan gratis di Markas Kostrad, Cilodong, Depok, Jawa Barat, Senin (3/4/2023), ribuan orang datang berbondong-bondong. Bahkan ada yang jauh dari luar kota seperti Lampung. Kini, ketika pengobatan alternatif menjadi fenomena, maka dokter yang “disalahkan”.
Sebelumnya, di media sosial. beredar video yang memperlihatkan Ida Dayak berhasil meluruskan tangan yang bengkok. Tak cuma Ida Dayak, pengobatan patah tulang di Cimande, Jawa Barat, juga kerap jadi langganan warga untuk menangani cedera tulang.
Terkait hal ini, Ketua Dewan Pakar Perhimpunan Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi Indonesia (PABOI) Prof Dr dr Ferdiansyah SpOT(K) berpendapat, banyak warga berobat ke pengobatan alternatif, katakanlah “dukun”, salah satu alasannya adalah karena jumlah dokter ortopedi masih terbatas di Indonesia.
“Sekarang jumlah ortopedi itu ada 1.400-an, 1.500an-lah. Belum banyak sih memang kalau kita bandingkan dengan jumlah penduduk. Salah satu penyebab adalah kurangnya rasio antara jumlah dokter dan pasien,” kata dr Ferdiansyah dalam konferensi pers, Rabu (5/4/2023), seperti dilansir sejumlah media.
Sementara itu, sosiolog Universitas Indonesia (UI) Ida Ruwaida menilai masyarakat tidak bisa disalahkan apabila memilih berobat ke penyehat tradisional seperti Ida Dayak. “Sebetulnya tidak bisa disalahkan juga ketika masyarakat berekspektasi melalui Ida Dayak bahwa penyakit yang mereka derita itu bisa terobati atau tersembuhkan,” ujar Ida Ruwaida, Rabu (5/4/2023), di Sapa Pagi Indonesia Kompas TV, dikutip media ini.
Fenomena pengobatan alternatif, kata Ida, bukan muncul kali ini saja, namun sudah dipercaya turun-temurun sesuai budaya masing-masing daerah. Bagi seorang pasien yang sudah memiliki penyakit menahun atau sulit disembuhkan, kata Ida, akan memandang pengobatan alternatif sebagai sesuatu yang rasional. Apalagi, kini, dengan bantuan sosial media, video praktik pengobatan tradisional bisa dilihat oleh semua kalangan. “Di masyarakat ada yang namanya ‘seeing is believing’. Mereka melihat itu menjanjikan treatment-nya, dan ternyata memang bisa sembuh dalam hitungan waktu cepat,” jelaspnya.
Oleh karena itu, menurutnya, pengobatan alternatif menciptakan harapan baru bagi masyarakat, terlebih pasien yang sudah sakit menahun. “Mungkin kalau di pengobatan modern itu tidak membuahkan hasil atau pun ada, ada keterbatasan untuk mengakses ke sana, misalkan secara ekonomi,” ucapnya.
Ida menyebut, banyaknya masyarakat yang berobat ke Ida Dayak juga bisa sebagai gambaran akan sikap masyarakat terhadap pengobatan modern. “Akses terhadap pelayanan pengobatan modern atau medikalisasi, saya kira memang masih terbatas ya, meskipun sudah ada fasilitas negara misalnya melalui BPJS,” terangnya.
“Tapi kalau kita lihat dalam konteks tertentu, bukan hanya sekadar akses layanan, tapi juga treatment (pelayanan) untuk pengobatan,” lanjut dia.
Terlebih, katanya, Ida Dayak tidak memungut biaya, hanya menganjurkan untuk membeli minyak Bintang khas Kalimantan.




















