Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Terdapat keserupaan yang sama antara Mohamed Bouazizi (26) di Tunisia dan Suderajat (50) di Indonesia. Keduanya sama-sama dizalimi aparatur negara.
Bouazizi adalah penjual buah dan sayur dengan gerobak di pasar di Tunisia yang pada 17 Desember 2010 dirampas timbangannya oleh aparat dengan dalih tak punya izin berdagang.
Sedangkan Suderajat adalah penjual es gabus keliling di Johar Baru, Kemayoran, Jakarta Pusat, yang dituduh menggunakan spons sebagai bahan dagangannya sehingga diduga dianiaya aparat TNI dan Polri beberapa hari lalu.
Atas perlakuan tak adil aparat, Bouazizi melakukan protes ke kantor gubernur setempat. Namun tak ditanggapi. Frustrasi, Bouazizi pun membakar diri sehingga akhirnya mati.
Bouazizi adalah tulang punggung keluarga karena ayahnya meninggal dunia sejak ia berumur 3 tahun karena gagal jantung.
Massa di Tunis dan berbagai kota lain di Tunisia pun protes turun ke jalan dan berhasil menggulingkan Ben Ali dari kursi Presiden yang sudah diduduki selama 23 tahun pada 14 Januari 2011 atau 10 hari setelah Bouazizi meninggal.
Aksi bakar diri Bouazizi memicu revolusi di negara-negara Arab atau lebih dikenal dengan istilah Arab Spring (Musim Semi Arab).
Sejarah kemudian mencatat, Arab Spring menjadi salah satu revolusi paling besar abad ini. Arab Spring bertujuan untuk menggulingkan rezim-rezim di negara Timur Tengah yang otoriter dan berkuasa sejak puluhan tahun.
Dari Tunisia, api revolusi itu merembet ke Mesir, Libya, Yaman dan sebagainya.
Apakah Arab Spring yang pernah terjadi di Timur Tengah akan merembet ke Indonesia yang dipicu oleh kesewenang-wenangan aparat terhadap rakyat kecil seperti Suderajat yang juga merupakan tulang punggung keluarga?
Semoga tidak. Tapi kalau dalam penyelesaiannya tidak adil, bukan tidak mungkin rakyat akan protes turun ke jalan dan terjadilah Arab Spring di Indonesia.
Babinsa dan Babinkamtibmas yang diduga menganiaya Suderajat sudah minta maaf. Polres Depok, Jawa Barat, juga sudah menghadiahi Suderajat dengan 1 unit sepeda motor dan sejumlah uang untuk modal usaha.
Namun itu saja tidak cukup. Oknum-oknum aparat yang telah menzalimi Suderajat harus dijatuhi sanksi, baik disiplin maupun pidana jika memang ada deliknya.
Apalagi ada kesewenang-wenangan lain yang dilakukan polisi di Indonesia. Polres Sleman, DI Yogyakarta, menjadikan Yogi tersangka karena mengejar dua penjahat yang menjambret tas istrinya. Dua jambret itu meninggal setelah motornya menabrak.
Kondisi Indonesia saat ini mirip dengan Tunisia saat itu. Harga barang-barang kebutuhan pokok mahal. Hukum juga tidak adil. Banyak aparatur negara yang sewenang-wenang.
Kendati demikian, semoga Arab Spring tidak terjadi di Indonesia. Potensi revolusi itu mudah-mudahan tetap menjadi potensi saja. Semoga!

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)


















