OLEH : ENTANG SASTRAATMADJA
Ada berita penting dan cukup mengagetkan harii ini. Kemarin Jum’at 7 Feb 2025 jam 17:45 telah terjadi pergantian Direktur Utama Perum Bulog dari Wahyu Soparyono kepada Mayor Jenderal TNI Novi Helmy Prasetya, S.I.P., M.I.P. seorang perwira tinggi TNI-AD, yang sejak 21 Februari 2024 mengemban amanat sebagai Asisten Teritorial Panglima TNI.
Pergantian ini menarik dicermati, mengingat saat ini, Perum Bulog diberi tugas khusus untuk menyerap gabah peyani setara 3 juta ton beras. Banyak pihak menilai target menyerap gabah sebesar itu, bukanlah hal yang mudah untuk ditempuh. Ditengah anjloknya produksi beras dalam dua tahun terakhir, menuntut kepada segenap pemangku kepentingan bidang pangan, untuk berjuang habis-habisan untuk mencapai target yang ditetapkan.
Badan Pusat Statistik (BPS) malah melaporkan, produksi beras secara nasional tahun 2024 lalu, hanya mencapai 30,41 juta ton. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan produksi beras tahun 2023, yang jumlahnya sebesar 31,10 juta ton. Artinya, terjadi penurunan produksi beras sekitar 700 ribu ton. Salaj satu biang kerok penurunan produksi, karena adanya sergapan Rl Nino.
Sadar akan hal demikian, menjadi sangat masuk akal, jika Kabinet Merah Putih dibawah kepemimpinan Presiden Prabowo telah menjadikan pencapaian swasembada pangan menjadi salah satu program prioritas dalam 5 tahun ke depan. Sebagai “pintu masuk” menuju swasembada pangan, utamanya beras, Presiden Prabowo telah mengawali dengan menugaskan Perum Bulog menyerap gabah setara 3 juta ton beras.
Menyerap gabah petani setara 3 juta ton beras, sebagaimana ditargetkan diatas, Perum Bulog membutuhkan semangat dan energi baru dari para petingginya, sehingga diperlukan ada penyegaran Dewan Pengawas dan Dewan Direksinya. Perum Bulog perlu direvitalisasi. Maksudnya, bukan hanya memberi “darah baru”, tapi juga mampu membawa Perum Bulog semakin profesional.
Untuk itu, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir telah melakukan pergantian Direksi Perum Bulog dan menetapkan Mayor Jenderal TNI Novi Helmy Prasetya sebagai Direktur Utama Perum Bulog. Keputusan tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri BUMN Nomor: SK-30/MBU/02/2025 tanggal 7 Februari 2025 yang mengakhiri masa jabatan Wahyu Suparyono sebagai Direktur Utama.
Tak hanya itu, Erick juga menunjuk Hendra Susanto yang dipercaya menjabat sebagai Direktur Keuangan Perum Bulog menggantikan posisi Iryanto Hutagaol. Untuk itu, Perum Bulog mengucapkan terima kasih atas dedikasi dan pengabdian Wahyu Suparyono dan Iryanto Hutagaol selama menjabat, dan menyambut baik kepemimpinan baru di bawah Direktur Utama Mayor Jenderal TNI Novi Helmy Prasetya dan Direktur Keuangan Hendra Susanto.
Perum Bulog, sebagai perusahaan milik negara atau sering juga disebit perusahaan plat merah ini, betul-betul mengemban tugas penting dan strategis, khususnya dalam memastikan ketersediaan pasokan bahan pangan dengan harga yang terjangkau oleh rakyat. Pada jamannya Bulog berkomitmen untuk jadi “sahabat sejati” para petani.
Seiring dengan terjadi nya perubahan lingkungan strategis di berbagai bidang kehidupan yang terus bergulir, Perum BULOG sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terus menata diri. Salah satu petinggi Perum Bulog sempat menyatakan, jajaran nya akan terus berupaya mengubah citra perusahaan yang dipimpinnya. Salah satunya Perum Bulog bakal masuk ke pasar beras premium.
Selama ini gudang yang Bulog miliki masih tergolong konvensional dengan kemampuan penyimpanan hanya sekitar 1.300 ton, sehingga jika gudang-gudang itu dipakai untuk menyimpan beras cukup lama, tentu akan mempercepat penurunan mutu. Gudang konvensional adalah benang merah dari citra beras Bulog yang mendapat cap kurang bagus dari mata masyarakat.
Saat ini, Bulog telah memiliki produk beras kualitas premium dengan merek dagang Tanak, Uenak, Befood, Slyp Super, Befood Setra Ramos, dan Pulen Wangi yang dijual tak hanya ke pasar-pasar tradisional, tetapi juga pasar modern dan digital. Keluarga Besar Perum Bulog optimis, BUMN ini akan menguasai pasar beras nasional melalui pembangunan infrastruktur pengolahan beras modern di berbagai daerah sentra produksi padi Indonesia.
Sebagai BUMN, Perum Bulog memang cukup berpengalaman dalam mengelola komoditas beras. Sejak kelahiran nya Bulog memiliki komitmen yang kuat untuk menjalankan fungsi pengadaan dan penyaluran beras, disamping juga menjaga stabilisasi harga. Bulog telah dititipi amanah untuk menjadi lembaga parastatal.
Dari berbagai literatur dikenali lembaga parastatal merupakan organisasi pemegang saham terbesar adalah negara. Kekuasaan eksekutif dapat memiliki sebagian atau seluruh modal saham. Perusahaan parastatal beroperasi sebagai perusahaan swasta, dengan undang-undang resmi, warisannya, objek, denominasi dan tujuan, tetapi di bawah pengawasan Negara.
Karakteristik utama organisasi parastatal adalah sebagai berikut:
– Mereka bukan bagian dari Administrasi Publik, memanfaatkan kepentingan publik. Ini, tidak seperti lembaga swasta yang mengikuti tujuan tertentu; seperti keuntungan dalam kasus perusahaan.
- Mereka memiliki otonomi yang lebih besar daripada badan-badan Administrasi Publik yang harus dilakukan. Dalam pengertian itu, mereka memiliki aset sendiri, misalnya.
- Mereka menciptakan atas inisiatif Pemerintah, dengan keputusan atau undang-undang.
Mereka menanggapi Pemerintah, bekerja sama dengannya untuk mencapai tujuan tertentu. Misalnya, yang bersifat ekonomi atau sosial; seperti inklusi keuangan yang lebih besar atau pemberian kredit kepada orang-orang dengan pendapatan lebih rendah.
Jenis institusi ini akan memiliki keuntungan dari tingkat otonomi yang lebih besar dalam manajemen, independen dari kekuatan politik, yang akan mendukung efisiensi yang lebih besar.
Atas hal yang demikian, Bulog tentu harus memposisikan diri sebagai “saudara” petani. Bulog perlu menjaga dan memelihara persahabatan dengan petani sepanjang waktu. Bulog perlu menjadi dewa penolong petani, jika harga jual di tingkat petani dipermainlan oleh para tengkulak, sehingga petani dirugikan.
Sebagai BUMN yang dituntut menjalankan fungsi bisnis dan tanggungjawab sosial secara bersamaan, bukanlah hal yang cukup mudah untuk diwujudkan. Terlebih-lebih bila dihubungkan dengan masa lalu Bulog sebagai Lembaga Pemerintah Non Departemen/Kementerian (LPND/LPNK). Sebagai LPND/LPNK Bulog tidak pernah diminta untuk berbisnis. Yang diutamakan adalah bagaimana Bulog mampu menjalankan fungsi sosial nya.
Pada jaman nya Bulog memang tampil prima dan memperlihatkan kinerja yang baik bagi pelayanan publik. Fungsi pengadaan di saat panen raya padi dapat dilakulan dengan baik. Bulog benar-benar mampu menolong petani dengan membeli gabah petani di atas harga dasar yang ditetapkan Pemerintah. Begitu pun di saat musim paceklik tiba, dimana harga beras meroket di atas harga atap, Bulog selalu tampil dengan operasi pasar sehingga stabilisasi harga beras dapat dikendalikan.
Sekarang, bagaimana kabar Bulog setelah menjadi sebuah BUMN ? Inilah yang cukup menarik untuk dijadikan bahan perbincangan. Terus terang, sejak Bulog jadi BUMN, hampir tidak pernah Bulog mendapatkan keuntungan yang signifikan atas bisnis yang dirancangkan. Malah salah satu kegiatan bisnis nya menyebabkan beberapa orang petinggi Bulog harus berhadapan dengan Aparat Penegak Hukum dan beberapa waktu terpaksa harus bersantai di Hotel Pordeo.
Hal ini wajar terjadi. Pegawai Bulog adalah para “amtenar” yang telah teruji sebagai pelayan rakyat. Namun begitu, mereka sama sekali belum terlatih untuk menjadi pebisnis ulung. Itu sebab nya, ketika dilakukan perubahan orientasi dari LPND/LPNK menjadi BUMN, Bulog seolah-olah kehilangan jati diri yang sesungguh nya. Bulog tidak mampu tampil sebagai pebisnis yang handal untuk dapat bersaing dengan para pelaku bisnis lain nya.
Yang tak kalah penting untuk dicermati adalah bagaimana sebetul nya sikap para pegawai Bulog atas suasana yang ada pada waktu itu ? Lalu, apa yang mereka kehendaki ke depan nya ? Dari beberapa perbincangan dengan pegawai Bulog, ternyata mereka lebih senang bila Bulog tetap sebagai LPND/LPNK ketimbang menjadi sebuah BUMN. Mereka sadar, tidak mungkin bisa jadi pebisnis handal jika sejak awal mereka bergabung dengan Bulog, dituntut untuk menjadi seorang amtenar.
Bulog memang jago dan sangat piawai dalam mengelola gabah atau beras. Dibanding dengan lembaga lain, Bulog memang yang cukup handal dalam menyelenggarakan pengadaan dan penyaluran gabah atau beras. Dengan berbagai penugasan Pemerintah yang diberikan, Bulog betul-betul mampu unjuk gigi dan menunjukan kelas nya sebagai lembaga parastatal yang handal.
Oleh karena itu, jika memang ada kemauan politik agar Bulog hari ini lebih memfokuskan bisnis nya kepada beras, maka hal ini bukanlah pikiran yang mengada-ada. Bulog memang harus berada di posisi itu. Kelas Bulog ada disitu. Kesimpulan nya, apa yang dirancang Bulog terkait dengan Tata Kelola Perberasan yang modern dan profesional, ada bagus nya kita beri dukungan penuh. Citra Bulog memang ada disana. (PENULIS, KETUA DEWAN PAKAR DPD HKTI JAWA BARAT).





















