Jakarta-FusilatNews — Eskalasi konflik bersenjata antara Iran dan Israel mulai menimbulkan efek domino terhadap perekonomian global. Salah satu dampak yang langsung dirasakan adalah melonjaknya biaya logistik internasional, yang pada akhirnya berpotensi mendorong kenaikan harga barang di Indonesia.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah—yang menjadi jalur strategis perdagangan dan energi dunia—membuat aktivitas pengiriman barang melalui laut dan udara menghadapi risiko yang lebih tinggi. Kondisi ini memaksa pelaku logistik mengubah rute pengiriman, meningkatkan premi asuransi kapal, hingga menanggung biaya operasional tambahan.
Jalur Logistik Dunia Terganggu
Konflik Iran–Israel membuat sejumlah jalur perdagangan vital berada dalam kondisi rawan, terutama di sekitar Teluk Persia dan Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur utama distribusi minyak dan barang global.
Dampaknya tidak hanya dirasakan negara-negara Timur Tengah, tetapi juga negara seperti Indonesia yang sangat bergantung pada kelancaran jalur logistik internasional. Para pelaku industri pelayaran memperingatkan bahwa gangguan keamanan di kawasan tersebut memaksa perusahaan logistik mengalihkan rute kapal atau menunda pengiriman.
Perubahan rute ini membuat biaya transportasi meningkat, baik karena jarak tempuh lebih panjang maupun karena meningkatnya biaya keamanan dan asuransi pengiriman.
Potensi Lonjakan Biaya Hingga 100 Persen
Pelaku industri logistik memperkirakan biaya pengiriman dapat melonjak tajam apabila konflik berkepanjangan. Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) memperingatkan bahwa jika ketegangan berlangsung lebih dari dua minggu, biaya logistik nasional bisa meningkat antara 50 dan 100 persen dibandingkan dengan kondisi normal.
Ketua Umum ALI Mahendra Rianto menjelaskan bahwa sebagian besar pengiriman kargo udara dari Indonesia ke Eropa dan Timur Tengah biasanya melalui hub di kawasan seperti Dubai atau Qatar. Namun karena konflik, sejumlah rute udara dihentikan sementara sehingga pelaku usaha harus mencari jalur alternatif melalui negara lain seperti Singapura atau Thailand—yang tentunya lebih mahal.
Gangguan serupa juga terjadi pada jalur laut, terutama jika ketegangan berdampak pada aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.
Ancaman Inflasi dan Harga Barang
Kenaikan biaya logistik hampir selalu berujung pada kenaikan harga barang di pasar. Dalam struktur harga barang di Indonesia, biaya distribusi dan logistik memiliki porsi besar sehingga kenaikan ongkos pengiriman akan cepat tercermin pada harga komoditas.
Ekonom memperingatkan bahwa jika konflik memicu kenaikan harga minyak dunia—yang diperkirakan dapat menembus US$100 per barel—maka biaya transportasi dan logistik akan ikut meningkat dan mendorong inflasi, terutama pada bahan pangan dan barang konsumsi.
Selain itu, pelemahan rantai pasok global akibat konflik geopolitik dapat mengganggu ekspor dan impor, sekaligus menambah tekanan terhadap stabilitas ekonomi domestik.
Pemerintah Cari Pasar Alternatif
Mengantisipasi dampak tersebut, pemerintah mulai menyiapkan strategi diversifikasi pasar ekspor. Kementerian Perdagangan berencana mempertemukan pemerintah dengan para eksportir untuk membahas kendala teknis yang muncul akibat gangguan logistik global.
Salah satu langkah yang disiapkan adalah mengarahkan pelaku usaha, terutama UMKM, untuk menjajaki pasar baru di negara-negara yang tidak terdampak langsung konflik di Timur Tengah. Upaya ini diharapkan dapat menjaga keberlanjutan ekspor Indonesia di tengah gangguan rantai pasok global.
Efek Domino Geopolitik
Konflik Iran–Israel sekali lagi menunjukkan betapa rapuhnya sistem perdagangan global yang sangat bergantung pada stabilitas geopolitik. Jalur energi dan logistik dunia yang terpusat di Timur Tengah membuat setiap eskalasi konflik di kawasan tersebut cepat menimbulkan dampak ekonomi lintas negara.
Bagi Indonesia, dampak itu bisa terasa dalam bentuk kenaikan biaya logistik, potensi inflasi, hingga tekanan terhadap perdagangan luar negeri. Jika konflik terus memanas, bukan tidak mungkin harga barang impor dan kebutuhan sehari-hari di dalam negeri ikut merangkak naik.

























