• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Economy

Kemiskinan yang “Dipelihara” Negara* Antara Amanah Konstitusi dan Strategi Politik yang Licik

fusilat by fusilat
March 11, 2026
in Economy, Feature
0
Kemiskinan yang “Dipelihara” Negara* Antara Amanah Konstitusi dan Strategi Politik yang Licik
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Malika Dwi Ana
11 Maret 2026

Pasal 34 ayat (1) UUD 1945 menyatakan dengan tegas:
“Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.”

Frasa ini seharusnya menjadi komitmen suci negara untuk melindungi warga paling rentan, menjaga martabat manusia, dan memutus rantai kemiskinan lintas generasi. Namun, dalam realitas puluhan tahun terakhir—termasuk hingga awal 2026—frasa mulia itu kerap dibalik menjadi tuduhan getir: negara justru mempertahankan kemiskinan pada tingkat tertentu agar rakyat tetap bergantung, mudah dikendalikan, dan enggan mempertanyakan kebijakan yang merugikan.

Benarkah tuduhan itu?

Data Badan Pusat Statistik (BPS) September 2025 mencatat tingkat kemiskinan nasional turun menjadi 8,25 persen atau 23,36 juta jiwa—penurunan sekitar 490 ribu orang dibandingkan Maret 2025. Angka ini memang menggembirakan di permukaan. Namun, garis kemiskinan yang dipakai—sekitar Rp641 ribu per kapita per bulan—hanya mencerminkan batas survival minimum, bukan standar hidup layak. Jika menggunakan garis kemiskinan Bank Dunia atau ukuran yang lebih realistis, jutaan orang lagi akan masuk kategori miskin. Target pemerintahan Presiden Prabowo untuk menghapus kemiskinan ekstrem (di bawah US$2,15 per hari) pada akhir 2026 terdengar ambisius, tetapi banyak kalangan mengkritiknya sebagai ilusi karena minimnya reformasi struktural yang mendalam.

Pemerintah memang getol menyalurkan bantuan sosial (bansos): Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT), sembako, Bantuan Langsung Tunai (BLT), hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini mengalokasikan Rp223–335 triliun—setara sekitar 44 persen dari anggaran pendidikan nasional—di tengah narasi “efisiensi anggaran”. Bansos dan MBG memang krusial untuk mencegah kelaparan akut. Namun, kritik tajam muncul: keduanya lebih berfungsi sebagai alat politik transaksional ketimbang solusi jangka panjang. Menjelang pemilu, bansos mengalir deras; pasca-pemilu, banyak keluarga kembali ke kondisi semula. MBG pun dikritik sebagai “mesin uang” yang menguntungkan pihak tertentu sekaligus alat mempertahankan kekuasaan. Kedua program ini menciptakan ketergantungan sistematis: rakyat diberi ikan setiap hari, tetapi jarang diajari memancing—atau lebih parah, alat pancingnya dirampas oleh kartel pangan dan oligarki.

Mengapa kemiskinan struktural ini sulit diberantas?

Pertama, ketimpangan akses sumber daya tetap ekstrem. Lahan pertanian dikuasai segelintir konglomerat, petani kecil terjebak utang, sementara impor pangan terus merugikan produksi lokal. Kedua, pendidikan dan kesehatan di daerah pinggiran masih rendah kualitasnya, membuat mobilitas sosial nyaris mustahil. Stunting yang masih tinggi berarti generasi baru lahir sudah kalah start. Ketiga, pekerjaan informal mendominasi: upah rendah, tanpa jaminan sosial, tanpa jenjang karier. Kerja keras saja tidak cukup; sistem memang dirancang agar mayoritas tetap berada di lapisan bawah. Keempat, korupsi dan oligarki terus menikmati kue besar: anggaran infrastruktur megah mengalir deras, sementara bansos di daerah tertentu dipangkas dan tunjangan pejabat membengkak.

Ketika rakyat mulai mandiri—berpenghasilan stabil, berpendidikan baik, berakses informasi luas—mereka akan mulai bertanya: Mengapa korupsi merajalela? Mengapa konstitusi diacak-acak? Mengapa kebijakan lebih menguntungkan elite? Pertanyaan-pertanyaan itu berbahaya bagi kekuasaan yang bergantung pada kontrol massa. Maka, kemiskinan dijaga pada level “cukup menderita untuk bergantung, tapi tidak sampai meledak menjadi pemberontakan”.

Pemerintah sering membanggakan penurunan angka kemiskinan, tetapi realitas di lapangan bertolak belakang: biaya hidup melonjak, pekerjaan rapuh, ketimpangan (Gini ratio masih sekitar 0,36) tetap tinggi. Pidato di World Economic Forum (WEF) 2026 tentang “misi hidup memberantas kemiskinan ekstrem” terdengar mulia, tetapi tanpa reforma agraria sungguhan, pemberantasan kartel pangan, pendidikan vokasi massal, dan penegakan hukum anti-korupsi yang tegas, target nol kemiskinan ekstrem hanyalah jargon baru—mirip janji-janji sebelumnya yang berulang tanpa perubahan hakiki.

Negara bukan musuh rakyat. Namun ketika negara memilih mempertahankan ketergantungan daripada memberdayakan, ia menjadi bagian dari masalah. Amanah Pasal 34 UUD 1945 bukan untuk “memelihara” kemiskinan sebagai komoditas politik, melainkan untuk menghapusnya secara bermartabat. Selama bansos dan MBG lebih diprioritaskan daripada reformasi struktural, selama elite terus menikmati privilege sementara rakyat hanya diberi remah-remah, tuduhan bahwa kemiskinan dipelihara negara akan terus bergema—bukan sebagai konspirasi, melainkan analisis pahit atas realitas yang kita alami bersama.

Sudah saatnya rakyat berhenti sekadar menerima bantuan dan mulai menuntut keadilan sistemik. Karena ketika rakyat mandiri, barulah negara benar-benar takut—bukan pada kemiskinannya, melainkan pada kesadaran kolektif yang tak lagi bisa dibeli.

Malika Dwi Ana adalah pengamat sosial politik dan penulis lepas.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Perang Iran–Israel Mengguncang Jalur Perdagangan Dunia, Biaya Logistik RI Terancam Melonjak

Next Post

Tekanan Darah dan Rahasia Umur Panjang Catatan Kesehatan dari Dr. Tom Frieden tentang Enam Kebiasaan yang Menyelamatkan Hidup

fusilat

fusilat

Related Posts

Retorika yang Berulang, Realitas yang Berjalan: Membaca Diksi Pembangunan Prabowo
Feature

Terkaget-kagetnya Prabowo

July 21, 2026
Feature

Membangun Kembali Kepercayaan Publik (Ketika Strategi Komunikasi Berhadapan dengan Due Process of Law)

July 21, 2026
Anies Janjikan Bikin Hotline Paris. Kata Hotman Mau Bersaing Dengan Hotman 911?
Feature

Sandyakalaning Hotman Paris

July 21, 2026
Next Post
Tekanan Darah dan Rahasia Umur Panjang Catatan Kesehatan dari Dr. Tom Frieden tentang Enam Kebiasaan yang Menyelamatkan Hidup

Tekanan Darah dan Rahasia Umur Panjang Catatan Kesehatan dari Dr. Tom Frieden tentang Enam Kebiasaan yang Menyelamatkan Hidup

Obesitas, Sains, dan Mitos “Cukup Diet dan Olahraga”

Obesitas, Sains, dan Mitos “Cukup Diet dan Olahraga”

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?
Feature

Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

by Karyudi Sutajah Putra
July 11, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2024 Jakarta - Akhirnya, Febrie Adriansyah berhasil diamputasi. Jaksa Agung Muda Bidang Tindak...

Read more
AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

July 10, 2026
Geng Trunojoyo Vs Geng Gedung Bundar, Siapa Menang?

Geng Trunojoyo Vs Geng Gedung Bundar, Siapa Menang?

July 9, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Ocean Institute of Indonesia Resmi Berdiri, KKP Satukan 11 Kampus Vokasi Cetak SDM Kelautan Berdaya Saing Global

Ocean Institute of Indonesia Resmi Berdiri, KKP Satukan 11 Kampus Vokasi Cetak SDM Kelautan Berdaya Saing Global

July 21, 2026
Retorika yang Berulang, Realitas yang Berjalan: Membaca Diksi Pembangunan Prabowo

Terkaget-kagetnya Prabowo

July 21, 2026

Membangun Kembali Kepercayaan Publik (Ketika Strategi Komunikasi Berhadapan dengan Due Process of Law)

July 21, 2026
Bentrok Berdarah di NTT: Hentikan Ekspansi Militer dalam Program Ekonomi Desa!

Bentrok Berdarah di NTT: Hentikan Ekspansi Militer dalam Program Ekonomi Desa!

July 21, 2026
Kasus Febrie dan Hotman: Integritas Penegakan Hukum, Martabat Wartawan, dan Kualitas Komunikasi Publik

Polda Metro Mulai Selidiki Laporan PWI terhadap Hotman Paris, Ketua Umum PWI: Ini Soal Martabat Profesi Wartawan

July 21, 2026
IPW Desak Propam Polda Metro Jaya Sidangkan Penyidik Polres Depok

Febrie Adriansyah Tak Ditahan, IPW Geram

July 21, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Ocean Institute of Indonesia Resmi Berdiri, KKP Satukan 11 Kampus Vokasi Cetak SDM Kelautan Berdaya Saing Global

Ocean Institute of Indonesia Resmi Berdiri, KKP Satukan 11 Kampus Vokasi Cetak SDM Kelautan Berdaya Saing Global

July 21, 2026
Retorika yang Berulang, Realitas yang Berjalan: Membaca Diksi Pembangunan Prabowo

Terkaget-kagetnya Prabowo

July 21, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...