Jakarta – FusilatNews .–Sandyakala (atau terkadang disebut sandikala) adalah istilah dari bahasa Sanskerta yang berarti “cahaya merah ketika senja” atau “pertemuan waktu” antara siang dan malam. Sandyakalaning berarti senja kalanya.
Analog, sandyakala melambangkan meredupnya kejayaan seseorang. Terutama tokoh-tokoh yang selama ini dianggap berjaya, seperti Hotman Paris Hutapea, misalnya.
Dan Hotman Paris pun kini sedang berada di dalam masa senja kala itu. Kejayaannya nyaris dapat dipastikan akan meredup. Semua gegara “mulutmu harimaumu”.
Misalnya, saat menggelar konferensi pers usai mendampingi kliennya, Febrie Adriansyah diperiksa sebagai tersangka oleh Kejaksaan Agung, Jumat (17/7/2026), Febrie mencatut nama Presiden Prabowo Subianto demi menyelamatkan kliennya. Bekas Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) itu Hotman sebut sebagai sosok kebanggaan Prabowo. Sebab itu, ia menyesalkan ketika Polri tidak meminta restu atau izin ke Prabowo terlebih dulu sebelum menetapkan Febrie sebagai tersangka korupsi.
Saat menjawab berondongan pertanyaan wartawan, jawaban Hotman justru melecehkan atau merendahkan martabat profesi wartawan. Misalnya, dia berkata, “Lu punya otak enggak?”
Sontak, lima organisasi wartawan mereaksi keras pernyataan Hotman itu. Hotman pun akhirnya minta maaf.
Maaf, diterima. Tapi proses hukum jalan terus. Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) akhirnya melaporkan Hotman Paris ke Polda Metro Jaya.
Kantor pengacara Hotman di kawasan Karet, Sudirman, juga didemonstrasi oleh sekelompok massa.
Tidak itu saja. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi meminta Hotman agar tidak mengait-ngaitkan Febrie dengan Prabowo. Untuk memeriksa pejabat, katanya, tak perlu izin dari Prabowo.
Partai Gerindra juga melakukan hal yang sama. Partai yang ketua umumnya Prabowo ini minta Hotman jangan menyeret-nyeret nama Prabowo dalam kasus Febrie.
Hotman pun akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka melalui akun Instagram-nya kepada Prabowo, Jaksa Agung, Kapolri dan Kapolda Metro Jaya.
Kini kondisi Hotman Paris bak sudah jatuh tertimpa tangga pula. Sudah dibantah Istana, didemo massa, masih dilaporkan ke Polda Metro Jaya pula.
Hotman yang mengaku bayarannya super mahal itu mengklaim sudah 25 tahun menjadi pengacara Prabowo dan keluarganya, termasuk Hashim Djojohadikusumo, adik kandung Prabowo.
Itulah barangkali titik kulminasi Hotman. Kini ia sedang menuju titik nadir. Prabowo sudah tidak menghargainya. Polisi akan memeriksanya. Febrie pun kemungkinan besar akan mencabut surat kuasanya. Sudah tidak kondusif lagi Hotman membela Febrie.
Hotman pun akan disibukkan oleh urusan dengan kepolisian. Polisi diyakini sudah tidak respek lagi terhadap Hotman. Apalagi takut.
Selanjutnya, Hotman akan merasa kesepian di antara asisten-asisten pribadinya yang cantik-cantik. Bersama tumpukan harta kekayaannya. Bersama cincin-cincin berliannya yang bling-bling. Bersama…?


























