Oleh: Anwar Husen
Pemerhati Sosial | Dewan Pakar KAHMI Maluku Utara
Sehari sebelum laga final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina, saya menulis sebuah prediksi dengan nada setengah bercanda:
“Andai Argentina benar-benar berhasrat menjadi juara dengan segala cara seperti yang terkesan sejak awal turnamen, maka Spanyol akan memberi pelajaran kepada dunia bahwa lebih dari sekadar kemenangan, ada mimpi jutaan pasang mata di planet ini yang mendambakan martabat sepak bola ditegakkan dengan cara-cara terhormat. Menang tanpa meninggalkan cibiran. Skor 2-1 untuk Spanyol.”
Banyak yang menganggapnya sekadar tebakan. Namun bagi saya, prediksi itu lahir dari pembacaan terhadap perjalanan kedua tim sepanjang turnamen.
Argentina datang sebagai juara bertahan dengan beban sejarah yang besar. Namun, dalam pandangan banyak pecinta sepak bola, perjalanan mereka menuju final kembali diwarnai berbagai kontroversi yang memunculkan perdebatan luas. Sebaliknya, Spanyol tampil dengan proses, disiplin, dan kualitas permainan yang konsisten sejak fase grup hingga partai puncak.
Pada akhirnya, yang menang bukan hanya sebuah tim, melainkan sebuah filosofi sepak bola.
Ketika Piala Dunia Menyisakan Banyak Pertanyaan
Piala Dunia 2026 mungkin akan dikenang bukan hanya karena kualitas pertandingannya, tetapi juga karena begitu banyak cerita di luar lapangan.
Sejak fase grup hingga semifinal, perjalanan Argentina menjadi salah satu topik paling hangat diperbincangkan. Keputusan-keputusan wasit, insiden pertandingan, hingga berbagai teori mengenai keberpihakan terhadap sang juara bertahan menjadi konsumsi publik dunia.
Media internasional, potongan video yang viral, hingga diskusi para pengamat memenuhi ruang digital. Benar atau tidak, persepsi publik itu telah menjadi bagian dari narasi Piala Dunia kali ini.
Dalam sepak bola modern, persepsi sering kali berkembang lebih cepat daripada fakta.
Anti-Klimaks Seorang Legenda
Salah satu momen paling menyentuh datang setelah peluit panjang berbunyi.
Kamera BeIN Sports menangkap Lionel Messi duduk termenung di lapangan. Ia menundukkan kepala cukup lama sebelum satu per satu pemain Spanyol menghampirinya, menyalami, memeluk, dan memberikan penghormatan.
Di sisi lain lapangan, para pemain Spanyol larut dalam pesta juara.
Kontras dua gambar itu begitu kuat.
Messi, yang kini telah berusia 38 tahun, berjalan perlahan meninggalkan lapangan dengan raut wajah yang sulit disembunyikan.
Mungkin itulah Piala Dunia terakhirnya.
Sulit membayangkan Piala Dunia tanpa Lionel Messi. Selama hampir dua dekade ia telah menjadi ikon sepak bola dunia—paling berpengaruh, paling ditakuti lawan, sekaligus paling menghibur jutaan penonton.
Namun setiap zaman memiliki akhir.
Dan kali ini, sejarah memilih menulis bab penutupnya bukan dengan trofi, melainkan dengan penghormatan.
Tinta Emas Itu Bernama Proses
Kesuksesan sejati tidak pernah lahir secara instan.
Ia lahir dari pengorbanan, kesabaran, air mata, kegagalan, bahkan kritik yang panjang.
Itulah yang pantas disebut ditulis dengan tinta emas.
Dalam beberapa tahun terakhir, dunia menyaksikan transformasi Jepang, Maroko, dan kini Spanyol.
Jepang menunjukkan revolusi sistem pembinaan usia dini.
Maroko membuktikan bahwa Afrika mampu bersaing di level tertinggi.
Namun Spanyol memperlihatkan sesuatu yang lebih matang.
Mereka tidak sekadar menang.
Mereka mendominasi.
Dalam final, pasukan Luis de la Fuente menguasai hampir seluruh aspek permainan. Argentina dibuat kehilangan identitasnya sendiri.
Penguasaan bola timpang.
Organisasi permainan nyaris sempurna.
Serangan Argentina berhasil dipatahkan sebelum berkembang.
Spanyol tidak hanya mengalahkan Argentina.
Mereka memberi pelajaran tentang bagaimana sepak bola dimainkan.
Menang di Tengah Keraguan
Keberhasilan Spanyol justru lahir ketika banyak pemainnya datang dengan keraguan.
Pedri tidak selalu menjadi pilihan utama.
Lamine Yamal belum sepenuhnya pulih dari cedera.
Rodri baru kembali setelah cedera ligamen.
Merino sempat menepi berbulan-bulan.
Baena menjalani musim yang sulit.
Unai Simón bahkan terus dikritik sebelum akhirnya membuktikan diri sebagai salah satu kiper terbaik turnamen.
Laporte kembali menemukan performanya.
Cubarsí, yang masih berusia 19 tahun, tampil dewasa.
Ferran Torres, yang selama ini menjadi sasaran kritik, justru mencetak gol penentu kemenangan.
Lalu ada Nico Williams.
Anak seorang pengungsi asal Ghana yang kedua orang tuanya menempuh perjalanan panjang melewati Gurun Sahara dan berusaha menembus pagar Melilla demi mencari kehidupan baru di Spanyol.
Di negeri yang menerima keluarganya sebagai pengungsi, Nico tumbuh menjadi pahlawan nasional.
Sepak bola kadang memang melahirkan kisah yang lebih indah daripada film mana pun.
Validasi Sebuah Kemenangan
Ada ungkapan menarik di kalangan pengamat sepak bola:
“Untuk mengalahkan tim besar, Anda harus memenangkan pertandingan lebih dari sekali.”
Spanyol melakukan itu.
Mereka mencetak gol.
Mereka tetap mencetak gol meski sempat dianulir.
Mereka terus menekan hingga kemenangan benar-benar tidak bisa diperdebatkan.
Mereka tidak menyisakan ruang bagi kontroversi.
Mereka memvalidasi kemenangan itu berkali-kali.
Luis de la Fuente: Sang Arsitek yang Sunyi
Nama yang paling sedikit mendapat sorotan justru adalah tokoh paling penting di balik semua keberhasilan ini.
Luis de la Fuente.
Ia bukan pelatih dengan reputasi glamor.
Ia tidak membangun karier di klub-klub elite Eropa.
Seluruh perjalanan kepelatihannya justru dipersembahkan bagi tim nasional Spanyol di berbagai kelompok umur.
Ia membawa Spanyol menjuarai Euro U-19, Euro U-21, meraih medali Olimpiade bersama tim U-23, sebelum akhirnya dipercaya menangani tim senior.
Hasilnya luar biasa.
Euro 2024.
Piala Dunia 2026.
Lebih penting lagi, sebagian besar pemain inti Spanyol adalah anak-anak yang pernah ia didik sendiri sejak usia muda.
Itulah makna sebenarnya dari pembangunan sepak bola.
Blueprint bagi Dunia
Kesuksesan Spanyol bukan sekadar soal trofi.
Ia adalah cetak biru tentang bagaimana sebuah negara membangun sepak bola.
Bukan dengan proyek jangka pendek.
Bukan dengan pergantian pelatih setiap kegagalan.
Melainkan melalui sistem pembinaan yang sabar, konsisten, dan berkelanjutan.
Investasi terbesar ternyata bukan membeli pemain mahal.
Melainkan mendidik anak-anak berbakat sejak dini.
Komposisi usia tim Spanyol yang masih relatif muda menunjukkan bahwa kisah ini bahkan mungkin baru saja dimulai.
Spanyol, Palestina, dan Simbol Kemanusiaan
Di luar lapangan, Piala Dunia kali ini juga menjadi ruang bagi berbagai pesan kemanusiaan.
Isu Palestina kembali hadir di tribun-tribun stadion, melalui bendera, syal, maupun berbagai bentuk solidaritas yang ditunjukkan penonton dari berbagai negara.
Dalam ranah diplomasi, pemerintah Spanyol telah mengakui Negara Palestina berdasarkan perbatasan 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya. Langkah tersebut menempatkan Spanyol di antara lebih dari 140 negara anggota PBB yang telah memberikan pengakuan serupa.
Kebijakan itu memang memicu ketegangan diplomatik dengan Israel. Namun pemerintah Spanyol menegaskan bahwa keputusan tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap hukum internasional dan solusi dua negara.
Di tengah atmosfer itu, kemenangan Spanyol ikut disambut oleh berbagai kalangan pendukung Palestina.
Bagi sebagian orang, termasuk sejumlah tokoh Palestina, keberhasilan Spanyol memiliki makna simbolik yang melampaui sepak bola.
Lamine Yamal sendiri kerap dipandang sebagai representasi generasi baru Spanyol yang multikultural. Latar belakang keluarganya yang beragam menjadikan dirinya simbol bahwa identitas modern Spanyol dibangun di atas keberagaman, kesempatan, dan integrasi sosial.
Terlepas dari berbagai tafsir politik yang menyertainya, Yamal telah membuktikan bahwa sepak bola mampu menghadirkan harapan bagi siapa pun, tanpa memandang asal-usulnya.
Sepak Bola yang Mengembalikan Martabat
Pada akhirnya, Piala Dunia bukan hanya tentang siapa yang mengangkat trofi.
Ia adalah tentang bagaimana trofi itu diraih.
Spanyol menunjukkan bahwa kemenangan yang dibangun melalui proses, kerja keras, kesabaran, dan kualitas permainan akan selalu memiliki tempat istimewa dalam sejarah.
Mereka tidak hanya menjadi juara dunia.
Mereka menjadi teladan bahwa sepak bola yang indah masih mungkin hadir di tengah berbagai kontroversi zaman.
Bagi saya, itulah makna sesungguhnya dari sebuah tim yang sempurna.
Timnas Spanyol bukan hanya menang. Mereka memuliakan sepak bola.
Wallāhu a’lam bi al-shawāb.

Oleh: Anwar Husen
























