Oleh: Firdaus Abdul Rahim (Jurnalis Tunanetra)
MAKASSAR, FusilatNews.com – Saya tidak melihat wajah-wajah yang memenuhi Musala Tarbiatul Ittihadul Umma pagi itu. Saya juga tidak menyaksikan senyum yang mengembang atau mata yang berkaca-kaca. Namun, saya mendengar semuanya.
Saya mendengar doa yang dipanjatkan dengan penuh khusyuk. Saya mendengar suara jemari yang mulai meraba lembar demi lembar Al-Qur’an Braille. Dan saya mendengar pekikan penuh semangat yang membuat ruangan mendadak hidup.
“Al-Qur’an! Braille! Semangat! Belajar!”
Pekikan itu bukan sekadar yel-yel. Bagi kami, para penyandang disabilitas netra, itu adalah penegasan bahwa keterbatasan penglihatan tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti mendekat kepada Kalamullah.
Ahad (19/7/2026) menjadi hari yang istimewa. Organisasi Gammara Inklusi bersama Panti Guna Yayasan Pembinaan Tunanetra Indonesia (YAPTI) Makassar resmi memulai Program Pembelajaran Al-Qur’an Braille yang akan berlangsung secara rutin setiap pekan. Sebuah ruang belajar yang selama ini sangat dirindukan oleh banyak sahabat tunanetra di Sulawesi Selatan.
Meraba Huruf, Menemukan Harapan
Bagi kebanyakan orang, membaca Al-Qur’an adalah aktivitas yang mungkin sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Namun bagi kami, setiap ayat diawali dengan satu titik kecil yang harus dikenali oleh ujung jemari.
Belajar Braille bukan hanya menghafal kombinasi titik-titik timbul. Ia membutuhkan kesabaran, latihan berulang, dan kesempatan yang selama ini tidak selalu tersedia.
Koordinator Pelatihan Gammara Inklusi, Andi Asrul, mengatakan program tersebut memang dirancang agar siapa pun bisa memulai dari nol.
“Kami memperkenalkan dari awal bagi teman-teman yang belum tahu sama sekali, baik pengenalan titik dasar maupun hurufnya. Di sini kita sama-sama belajar, mempererat silaturahmi, dan membantu teman-teman memahami Al-Qur’an Braille,” ujarnya.
Semangat itu terasa begitu nyata. Anak-anak usia sekolah dasar duduk berdampingan dengan para alumni senior YAPTI. Tidak ada rasa sungkan. Tidak ada sekat usia. Semua kembali menjadi murid.
Salah seorang peserta, Dimas Adrian, mengaku sangat antusias mengikuti pembelajaran tersebut.
“Pembelajaran ini sangat menyenangkan karena bisa belajar Al-Qur’an dari dasar, dari Iqra’. Selain itu saya senang bisa mengenal kakak-kakak senior dan pengurus Gammara Inklusi. Saya berharap program ini terus berjalan sampai saya bisa lancar membaca Al-Qur’an Braille,” katanya.
Akses yang Selama Ini Masih Terbatas
Mewakili Kepala Panti Guna YAPTI Makassar, Koordinator Asrama Heriansyah mengungkapkan bahwa pembelajaran Al-Qur’an Braille sebenarnya telah lama dilaksanakan secara internal setiap hari setelah salat Magrib. Namun, kehadiran Gammara Inklusi membuka peluang yang jauh lebih luas.
Menurutnya, wadah pembelajaran Al-Qur’an Braille di kawasan Indonesia Timur masih sangat terbatas sehingga banyak penyandang tunanetra di luar asrama yang belum memiliki akses belajar secara rutin.
“Kolaborasi ini memberikan ruang alternatif bagi teman-teman tunanetra yang selama ini ingin belajar tetapi tidak tahu harus ke mana. Kami berharap program ini nantinya tidak hanya ada di Makassar, tetapi juga berkembang ke berbagai kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan,” ujarnya.
Lebih dari Sekadar Belajar Membaca
Bagi Dewan Pembina Gammara Inklusi, Rahmat J., program ini bukan hanya soal kemampuan membaca huruf Braille.
Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bagian dari perjuangan menghadirkan kesetaraan hak bagi penyandang disabilitas netra dalam mengakses pendidikan agama.
“Pelatihan ini bukan sekadar belajar membaca Al-Qur’an Braille. Lebih dari itu, ini adalah ikhtiar bersama untuk menghadirkan akses yang setara bagi teman-teman tunanetra agar mereka bisa semakin dekat dengan Kalamullah,” tegas Rahmat.
Kami Mungkin Tak Melihat, Tetapi Kami Ingin Membaca
Sebagai seorang tunanetra, saya memahami betul bahwa cahaya tidak selalu hadir melalui mata.
Kadang cahaya itu datang melalui sentuhan jemari yang perlahan mengenali titik demi titik Braille. Dari sana, huruf berubah menjadi kata, kata menjadi ayat, dan ayat menjadi petunjuk kehidupan.
Hari itu saya menyadari bahwa yang sedang dibangun bukan sekadar kelas membaca Al-Qur’an. Yang sedang dibangun adalah harapan. Harapan bahwa tidak ada lagi saudara-saudara tunanetra yang kehilangan kesempatan mempelajari kitab sucinya hanya karena akses yang terbatas.
Di Musala Tarbiatul Ittihadul Umma, dari lembar-lembar Iqra’ Braille yang diraba dengan penuh kesabaran, cahaya itu mulai menyala.
Dan kami percaya, suatu hari nanti, cahaya itu akan menjangkau lebih banyak sahabat tunanetra di seluruh Indonesia Timur.
(Firdaus Abdul Rahim Reporter)
























