JAKARTA – FusilatNews.-– Pemerintah Indonesia mempercepat langkah diversifikasi sumber energi dengan menjajaki pembelian minyak mentah dan gas petroleum cair (LPG) dari Rusia. Langkah ini ditempuh di tengah gejolak pasar energi global akibat memanasnya konflik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak dunia melonjak tajam.
Ketidakpastian pasokan energi dipicu oleh eskalasi perang antara Iran dan Israel yang mengganggu stabilitas kawasan Teluk Persia. Ancaman terhadap kelancaran pelayaran di Selat Hormuz—jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia—menimbulkan kekhawatiran terhadap terganggunya rantai pasok energi internasional. Kondisi tersebut mendorong harga minyak mentah dunia melonjak hingga mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam situasi itulah Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan kenegaraan ke Rusia dan bertemu Presiden Vladimir Putin di Istana Kremlin, Moskow, pada Senin, 13 April 2026. Pertemuan kedua kepala negara membahas berbagai agenda strategis, mulai dari kerja sama ekonomi, investasi, pertahanan, hingga ketahanan energi sebagai respons terhadap dinamika geopolitik global.
Diplomasi Energi Berlanjut di Tingkat Menteri
Sehari setelah pertemuan kedua presiden, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengadakan pertemuan bilateral dengan Menteri Energi Rusia Sergey Tsivilev di Moskow.
Pertemuan tersebut dihadiri pula oleh sejumlah perusahaan energi besar Rusia, antara lain Rosneft, Ruschem, Zarubezhneft, dan Lukoil. Agenda utama pembicaraan adalah penjajakan kerja sama pasokan minyak mentah, LPG, investasi sektor energi, pembangunan kilang minyak, fasilitas penyimpanan (storage), hingga peluang kerja sama di bidang kelistrikan dan energi nuklir sipil.
Dalam keterangannya, Bahlil mengatakan Indonesia memperoleh hasil yang positif dari negosiasi tersebut.
“Kita mendapatkan hasil yang cukup baik. Kita bisa mendapatkan tambahan cadangan crude (minyak mentah), di samping juga akan memperoleh pasokan LPG,” ujar Bahlil dalam keterangan resmi Kementerian ESDM.
Menurut Bahlil, kerja sama tersebut dirancang melalui dua skema, yakni government-to-government (G2G) dan business-to-business (B2B), sehingga memberi fleksibilitas dalam implementasi sekaligus menjamin kepastian pasokan energi nasional.
Menjaga Ketahanan Energi Nasional
Pemerintah menilai diversifikasi sumber impor minyak menjadi kebutuhan mendesak mengingat konsumsi energi Indonesia terus meningkat, sementara produksi minyak domestik belum mampu memenuhi kebutuhan nasional.
Indonesia saat ini masih mengimpor sebagian besar minyak mentah dan hampir 85 persen kebutuhan LPG nasional. Pada 2026, kebutuhan LPG diperkirakan mencapai sekitar 10 juta ton, sedangkan produksi dalam negeri hanya sekitar 1,6 juta ton. Kesenjangan tersebut membuat Indonesia harus mencari sumber pasokan alternatif yang lebih aman dan berkelanjutan.
Selain pembelian minyak mentah, Rusia juga menyatakan kesiapan berinvestasi dalam pembangunan kilang minyak serta fasilitas penyimpanan minyak di Indonesia. Langkah ini dinilai dapat memperkuat cadangan strategis energi nasional sekaligus mengurangi risiko gangguan pasokan akibat konflik geopolitik di masa mendatang.
Bagian dari Strategi Diversifikasi
Kementerian ESDM menegaskan bahwa penjajakan kerja sama dengan Rusia bukan berarti Indonesia mengalihkan seluruh sumber impornya, melainkan memperluas pilihan pemasok agar tidak bergantung pada kawasan tertentu.
Strategi diversifikasi ini dinilai penting mengingat konflik geopolitik dapat mengganggu jalur distribusi energi internasional kapan saja. Dengan memiliki lebih banyak mitra pemasok, pemerintah berharap ketahanan energi nasional menjadi lebih kuat sekaligus mampu menjaga stabilitas harga bahan bakar di dalam negeri.
Apabila negosiasi teknis dan komersial berjalan sesuai rencana, pasokan minyak mentah dari Rusia diproyeksikan mulai masuk ke Indonesia pada April 2026, sementara pembahasan mengenai volume impor LPG masih dalam tahap finalisasi.























