By Paman BED
“Merawat Akal Sehat, Menjaga Nurani Bangsa.”
“Membumikan Nilai-Nilai Al-Qur’an dalam Tata Kelola Kehidupan.”
Tidak semua orang jatuh karena uang. Ada yang jatuh karena pujian.
Di sebuah pagi cerah di Nirwana Bali Golf Club, seorang pimpinan perusahaan negara berdiri di tee box sebuah signature hole Par 3 yang sulit. Green nyaris tak terlihat, hanya hamparan hijau kecil di balik tebing dan laut lepas.
Pukulan dilakukan. Bola melayang, lalu sorak-sorai pecah.
“Hole in One!”
Tepuk tangan, ucapan selamat, dan kegembiraan mengiringi sang pejabat. Namun belakangan ia sadar, yang dirayakan bukan hanya pukulan itu, melainkan skenario yang dirancang untuk mencairkan jarak dan membangun kedekatan.
Sejak itu, hubungan profesional perlahan berubah menjadi hubungan personal. Jamuan makin sering, percakapan melebar ke urusan pribadi, dan jarak yang dulu dijaga mulai hilang.
Padahal ia dikenal tegas dan independen. Bentengnya bukan runtuh oleh ancaman, melainkan oleh sanjungan.
Dalam tata kelola, ini disebut familiarity threat: ancaman terhadap independensi akibat hubungan yang terlalu akrab dengan pihak berkepentingan. Tidak ada amplop, tidak ada transaksi terang-terangan, tetapi objektivitas perlahan melemah.
Al-Qur’an mengingatkan:
“…Dan janganlah kebencianmu ataupun kecintaanmu kepada suatu kaum mendorong kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”(QS. Al-Ma’idah: 8).
Kedekatan yang berlebihan pun bisa merusak keadilan. Rasulullah SAW juga mengingatkan agar pemegang amanah menjaga diri dari hadiah dan perlakuan istimewa yang memengaruhi objektivitas.
Tulisan ini hanyalah ilustrasi, tetapi polanya nyata: hubungan personal yang terlalu dekat sering menjadi pintu masuk konflik kepentingan. Ironisnya, golf sendiri adalah olahraga yang menuntut kejujuran. Justru di lapangan yang menjunjung integritas itulah integritas seseorang bisa runtuh.
Kesimpulan
Lapangan golf bukan masalahnya. Yang harus dijaga adalah batas antara hubungan profesional dan pribadi. Integritas jarang runtuh seketika; ia terkikis oleh pujian, perhatian, dan rasa nyaman.
Korupsi tidak selalu diawali uang. Sering kali ia diawali oleh rasa istimewa.
Saran
Pejabat di BUMN, pemerintah, maupun swasta perlu waspada terhadap konflik kepentingan, termasuk kedekatan yang berlebihan. Prinsip Good Corporate Governance (GCG) dan budaya integritas harus dijalankan setiap hari.
Banyak orang tidak jatuh saat menerima suap.
Mereka jatuh saat mulai menikmati perlakuan istimewa.
Referensi
Al-Qur’an, Surah Al-Ma’idah ayat 8.
Hadis riwayat Ahmad dan Abu Dawud tentang larangan hadiah bagi pejabat.
Mochtar Lubis, Manusia Indonesia (Pidato Kebudayaan, 1977).
The Institute of Internal Auditors, Global Internal Audit Standards (GIAS), 2024.
OECD Guidelines for Managing Conflict of Interest in the Public Service.
By Paman BED






















