Jakarta Timur —Fusilatnews— Peringatan 52 tahun Peristiwa Malari (Malapetaka 15 Januari 1974) kembali digelar pada 15 Januari 2026 yg lalu. Tahun ini, peringatan tersebut dikemas dalam kerja sama antara Indonesian Democracy Monitor (Indemo) dan Universitas Paramadina, bertepatan dengan Dies Natalis ke-26 Universitas Paramadina.
Acara akan berlangsung di Kampus Universitas Paramadina, Jalan Raya Hankam, Setu, Cipayung, Jakarta Timur, dengan tema besar: “Korupsi Menghancurkan Negara, Demokrasi, dan Ekologi.” Panitia peringatan diketuai oleh Dr. Herdi Sahrasad.
Peristiwa Malari 1974 sendiri dikenal sebagai tonggak gerakan mahasiswa melawan rezim otoriter Orde Baru. Aksi tersebut dikordinir oleh Dr. Hariman Siregar, tokoh mahasiswa FKUI Salemba, yang kala itu menjadi figur sentral perlawanan terhadap kekuasaan Presiden Soeharto.
Paramadina: Kampus Kritis terhadap Korupsi
Mewakili Rektor Universitas Paramadina Prof. Dr. Didik J. Rochbini, Dr. Hari Aksan menyampaikan bahwa peringatan Malari memiliki makna strategis bagi dunia akademik.
“Dialog kebangsaan Malari bersifat konstruktif. Malari 1974 adalah cermin mahasiswa yang kritis terhadap korupsi. Universitas Paramadina sejak masa Rektor Prof. Dr. Anies R. Baswedan pernah menjadi pioner mata kuliah anti-KKN, sebuah gagasan yang hingga kini relevansinya tetap terasa, karena praktik korupsi masih menjadi persoalan serius,” ujarnya.
Hariman Siregar: Visi Jihad yang Sama
Sebagai keynote speaker, Dr. Hariman Siregar menegaskan bahwa kerja sama Indemo dan Universitas Paramadina terjalin secara alami karena memiliki visi perjuangan yang sejalan.
“Kerja sama ini otomatis, karena kita punya visi dan misi jihad yang sama. Kebetulan Universitas Paramadina juga sedang merayakan Dies Natalis,” kata Hariman.
Ia juga menyinggung sejarah lahirnya Indemo di Cikini bersama cendekiawan Muslim Prof. Nurcholish Madjid, yang sejak awal mengakomodasi gagasan bahwa kekuasaan harus dikontrol. Bahkan, wartawan asal Polandia pernah mencatat bahwa Indemo menjadi simbol tuntutan agar kekuasaan Orde Baru tidak dibiarkan tanpa pengawasan.
Hariman turut mengenang kedekatan Indemo dengan Presiden BJ Habibie, yang dikenal menolak Dwifungsi ABRI dan membuka jalan reformasi demokrasi.
Demokrasi Masih Dikuasai Oligarki
Dalam refleksinya, Hariman menilai demokrasi Indonesia masih berada dalam kendali oligarki.
“Kita butuh negara yang kuat, bukan kuat karena dinasti. Presiden seharusnya mendidik rakyat, bukan membangun kekuasaan keluarga. Demokrasi adalah alat, bukan tujuan. Ironisnya, pemberantasan KKN masih sebatas slogan,” tegasnya.
Film, Diskusi, dan Panel Tokoh Nasional
Rangkaian acara akan diawali dengan pemutaran film “Malari: Mengoreksi Orba”, dilanjutkan diskusi panel yang dimoderatori Dr. Herdi Sahrasad.
Panelis yang dijadwalkan hadir antara lain:
- Yenti Ganarsih
- Vhisnu Juwono
- Rocky Harun
- Prof. Yudi Latief
Peserta yang hadir akan mendapatkan kitab “Malari: Mengoreksi Orba”, kaos acara, makan siang, dan snack.
Daftar Tokoh yang Hadir
Sejumlah tokoh nasional dan aktivis dikonfirmasi hadir, di antaranya:
HMS Kaban, Bambang Wiwoho, Bursah Zarnubi, Jumhur Hidayat, Dr. Faisal, Isack Rafiq, Desy, Wandi, Chudri S., Syahganda Nainggolan, Gatot Nurmantyo, Sulhi KPI, Desy (MC), Ahmad Yani, Saididu, Umar Husen, Hataliwang, Zainal UI, Syafiq, Muslim Arbi, Conie, Odelis, Riyan, Hafitro, Irwan, Zenury Fami, Andre, Wagiran, Fery Yuliantoro, Sabili, Karman BM, Sabran, Taufiqurahman, Istri Nugroho, Adnan Belfas, dan Mahdi.
Menjaga Api Sejarah
Peringatan Malari 2026 tidak hanya menjadi momentum mengenang sejarah perlawanan mahasiswa, tetapi juga ruang refleksi atas kondisi demokrasi hari ini. Di tengah badai korupsi dan krisis kepercayaan publik, semangat Malari kembali dihidupkan sebagai pengingat bahwa kontrol terhadap kekuasaan adalah napas utama demokrasi.





















