Oleh: Karyudi Sutajah Putra
Jakarta, Fusilatnews – Lima pelukis dari Sanggar Garajas akan menggelar pameran di Institut Francais Indonesie, Jalan Wijaya I Nomor 48 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dengan tajuk “Betawi Punye Gaye”, 20 Juni-6 Juli 2024.
Pameran komunitas Sanggar Garajas, yang tahun ini memasuki usia ke-50 tahun, akan diisi dengan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan seni budaya, salah satunya adalah pameran yang akan menampilkan lima pelukis tersebut, yakni Aries Tanjung, Boan, Ernawan Prianggodo, Gadis Dharsono dan Jan Praba.
Menurut Jan Praba, tema “Betawi Punye Gaye” sengaja dipilih dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-497 Kota Jakarta, juga dalam rangkaian ulang tahun ke-50 Sanggar Garajas.
“Betawi adalah tempat bermuaranya budaya seluruh Nusantara bahkan budaya dunia. Beragamnya budaya Betawi tidak lepas dari peran sentralnya perekonomian yang terjadi pada masa lalu, banyak pendatang dari seluruh Nusantara dan dunia untuk berniaga. Berbaurnya masyarakat dunia di tanah Betawi adalah proses pembauran budaya atau penyerapan budaya dari luar terjadi sehingga menyatu dalam struktur masyarakat sehingga memperkaya budaya setempat,” kata Jan Praba kepada Fusilatnews.com, Selasa (18/6/2024).
Peradaban yang maju dari sebuah bangsa, kata pelukis berkepala pelontos itu, ditandai dengan kebudayaannya yang tinggi serta mempunyai nilai-nilai luhur bagi masyarakatnya.
“Budaya berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal). Merupakan juga keseluruhan sikap dan pola perilaku, kebiasaan serta pengetahuan yang diwariskan dan dimiliki oleh suatu anggota masyarakat tertentu,” cetusnya.
Sejarah panjang perjalanan masyarakat Betawi, kata Jan Praba, telah dimulai sejak jaman Neolitikum, yang mana daerah Jakarta dan sekitarnya terdapat aliran-aliran sungai besar seperti Ciliwung, Cisadane, Bekasi dan Citarum yang pada tempat-tempat tertentu sepanjang aliran sungai itu telah didiami/dihuni oleh masyarakat kuno yang menyebar di seluruh wilayah Jakarta. “Dari peninggalan alat-alat seperti kapak, beliung, pahat, pacul yang sudah cukup halus dan memakai gagang dari kayu, dapat disimpulkan bahwa masyarakat pada saat itu sudah mengenal pertanian dan bahkan mungkin sudah mengenal struktur organisasi kemasyarakatan yang teratur,” tukasnya.
“Dapat disimpulkan juga budaya sudah berkembang. Sungai-sungai besar yang di sekitar Jakarta merupakan sarana transportasi yang baik pada masa itu dan membuka peluang terjadinya pembauran serta pertukaran budaya dari masyarakat luar Jakarta. Hal ini ditandai dengan betapa kaya dan beragamnya seni budaya yang dimiliki oleh masyarakat Jakarta atau Betawi saat ini, tidak lain karena Betawi atau Jakarta telah menjadi pusat pertemuan budaya Nusantara bahkan dunia sejak dulu,” lanjutnya.
Rencananya, pameran “Betawi Punyé Gayé” ini akan dibuka secara resmi oleh Pustanto -Galeri Nasional pada 20 Juni 2024.
Pameran ini terselenggara berkat kerja sama antara Sanggar Garajas dan Institut Francais Indonesie Jakarta.
Alhasil, Betawi Culture and Heritage Painting Exhibition – Betawi Punyé Gayé, merupakan catatan sejarah perkembangan budaya dan seni dari masyarakat Betawi yang dituangkan ke dalam kanvas dari lima pelukis yang tergabung dalam Sanggar Garajas.

























