• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Perlombaan Senjata Nuklir dan Gerakan Anti-Perang

Karyudi Sutajah Putra by Karyudi Sutajah Putra
December 11, 2022
in Feature
0
Perlombaan Senjata Nuklir dan Gerakan Anti-Perang

Ilustrasi senjata nuklir(Thinkstock)

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Wahyu Suryodarsono, Tentara Nasional Indonesia

Jakarta – Isu perlombaan senjata nuklir kembali menguat akhir-akhir ini. Kantor berita Reuters memberitakan pada 6 Desember 2022 bahwa Menteri Pertahanan China menegaskan, laporan yang dirilis Amerika Serikat (AS) terkait pengembangan senjata nuklir Negeri Tirai Bambu tersebut hanyalah sebuah gestur fiktif dan spekulasi belaka.

Dalam sebuah laporan bulan lalu, pihak Pentagon (AS) menyampaikan bahwa China kemungkinan akan memiliki 1.500 hulu ledak nuklir pada tahun 2035, jika kecepatan pembangunan senjata nuklirnya tetap konsisten seperti saat ini.

Kementerian Pertahanan China merespons dengan mengatakan bahwa pihak AS seharusnya berkaca pada kebijakan pengembangan nuklirnya sendiri, terutama karena AS memiliki jumlah persenjataan nuklir terbesar di dunia saat ini.

Menurut data dari lembaga think-tank Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), AS memiliki sekitar 3.700 persediaan hulu ledak nuklir. Dari jumlah itu, sekitar 1.740 di antaranya telah dikerahkan ke berbagai wilayah.

Secara provokatif, Kementerian Pertahanan China juga menjuluki AS sebagai “pembuat masalah terbesar” dalam hal keamanan global saat ini. Dalam salah satu artikel The Washington Post pada 30 November 2022, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, mengatakan bahwa Rusia memutuskan untuk menunda pembicaraan terkait keberlanjutan pakta Strategic Arms Reduction Treaty (START), sebuah perjanjian yang lahir pasca Perang Dingin untuk memberlakukan pembatasan senjata nuklir.

Meskipun masa berlaku perjanjian tersebut baru akan berakhir pada Februari 2026, nyatanya inspeksi rutin yang diamanatkan dalam pakta tersebut belum diadakan lagi selama hampir tiga tahun terakhir. Alasan pertama adalah akibat merebaknya pandemi virus Covid-19. Kedua, tentu karena hubungan kedua negara tersebut yang memanas setelah pecahnya konflik Rusia-Ukraina.

Zakharova meminta AS agar melakukan cipta kondisi atau stabilisasi agar pembahasan terkait pakta tersebut dapat dilaksanakan tahun depan. Memanasnya hubungan AS dengan Rusia dan China dalam hal pengembangan hulu ledak nuklir tentu menimbulkan spekulasi akan semakin gencarnya perlombaan senjata antar-ketiga negara superpower tersebut di masa yang akan datang.

Dalam sejarah, masih membekas di ingatan dunia akan dampak senjata nuklir yang pernah digunakan untuk mengakhiri Perang Dunia II di Hiroshima dan Nagasaki pada awal Agustus 1945. Hanya dengan dua bom atom saja, AS menewaskan 150.000 warga Jepang pada saat itu, serta melukai ribuan orang lainnya.

Walaupun implikasi penggunaan bom atom tersebut belum diketahui pada awalnya, kejadian di Hiroshima dan Nagasaki membuka perdebatan dunia terkait etika dalam penggunaan senjata pemusnah massal tersebut.

Memuculkan Gerakan Menentang Perang

Ledakan dashyat yang memunculkan perdebatan pasca-tewasnya ratusan ribu jiwa tersebut akhirnya tidak hanya melahirkan kecaman terhadap penggunaan senjata nuklir, tetapi juga semakin menggencarkan berbagai kampanye pasifis, maupun anti-perang di seluruh dunia. Gerakan anti-perang sebenarnya telah lahir sejak meletusnya Perang Dunia I, saat sebagian warga Inggris menolak untuk ikut serta dalam wajib militer dan maju ke medan pertempuran.

Oleh pemerintah Inggris, para penentang perang ini dijuluki dengan istilah Conscientious Objector (CO) atau Conchies. Kelompok itu berasal dari berbagai latar belakang pendidikan, sosial, agama, maupun politik.

Conscientious Objectors memiliki arti “penolak berdasarkan hati nurani”. Mereka menolak untuk ikut serta dalam tugas negara (sering kali saat pemaksaan wajib militer) dengan alasan pandangan pribadi. Pandangan pribadi tersebut bisa berasal dari nilai-nilai agama, moral, maupun ideologi politik tertentu.

Dalam Perang Dunia I, sebagian pihak menganggap mereka sebagai pengecut, tetapi di saat yang bersamaan memberanikan diri untuk melawan apa yang tidak sesuai dengan keyakinan dan hati nuraninya.

Para penolak perang ini biasanya menghadapi pilihan yang sulit ketika berhadapan dengan pemerintah: tetap ikut dinas kemiliteran tetapi ditempatkan sebagai non-combatant, dipaksa bertugas untuk membantu peperangan di sektor lainnya, atau dipenjara. Hal ini jelas mengekang kebebasan berpikir, sebagaimana yang terdapat dalam konsep hak asasi manusia.

Seiring berjalannya waktu, para penolak perang terus bersuara dan mendapatkan perhatian dunia, tak terkecuali saat Perang Dunia II dan Perang Dingin. Menurut Mary Kaldor dalam buku New and Old Wars, kedua perang ini termasuk dalam periode old war. Keduanya sama-sama mulai menggunakan kemajuan teknologi sebagai bagian dari persenjataan.

Senjata nuklir, menurut Lyn Smith dalam buku Voices Against War: A Century of Protest, merupakan salah satu pendorong semakin gencarnya gerakan anti-perang dan perlucutan senjata nuklir.

Menentang Senjata Nuklir

Terjadinya bencana bom atom Hiroshima dan Nagasaki pada 6 dan 9 Agustus 1945 menandai berakhirnya periode perang konvensional, dan mengawali dimulainya nuclear age, sebuah zaman saat perkembangan senjata nuklir meningkat secara tajam.

Saat itu, dimensi peperangan menjadi lebih menakutkan akibat dari jumlah korban tewas yang dihasilkan dari serangan senjata nuklir. Tak hanya korban jiwa, beberapa korban selamat pun merasakan efek yang sangat fatal akibat radiasi yang ditimbulkan ledakan bom tersebut. Hal itu membuat gerakan-gerakan anti-perang berevolusi ke tingkat yang lebih tinggi, dengan mengecam senjata nuklir sebagai sebuah “kejahatan baru terhadap kemanusiaan”.

Setelah Perang Dunia II berakhir, perlombaan senjata berubah menjadi bipolar serta didominasi oleh AS dan Uni Soviet, dua poros kekuatan baru yang saling bertentangan secara ideologis. Hal ini menandai dimulainya Perang Dingin, yang memiliki ciri khas adanya kompetisi antar-ideologi, penggunaan spionase, banyaknya perang proxy, dan perlombaan senjata nuklir dari tahun 1945 hingga 1990.

Selain itu, perekrutan prajurit dengan sistem wajib militer juga masih terus terjadi di berbagai belahan dunia. Protes publik pun akhirnya menyeruak dan melahirkan berbagai gerakan pasifis, anti-perang, anti-kekerasan, sekaligus kampanye perlucutan senjata nuklir.

Di Inggris, sebuah kelompok pasifis kecil dari Peace Pledge Union (PPU) membentuk suatu komisi anti-kekerasan, yang kemudian berubah menjadi organisasi bernama Operation Gandhi (dan selanjutnya berubah menjadi Direct Action Committee (DAC)). Mereka meminta diakhirinya program nuklir, keluarnya Inggris dari keanggotaan NATO, serta menuntut AS untuk angkat kaki dari negaranya.

Aksi itu semakin gencar dengan tetap dilaksanakannya berbagai pengetesan bom hidrogen, baik oleh AS maupun Uni Soviet. Perhatian publik yang besar pasca-pengetesan bom-bom hidrogen oleh AS akhirnya melahirkan Campaign for Nuclear Disarmament (CND) pada tanggal 17 Februari 1958. Gerakan DAC dan CND akhirnya berjalan secara beriringan.

Tuntutan mereka kepada pemerintah Inggris, AS, serta Uni Soviet pun sejalan: hentikan pengetesan, pembuatan, ataupun segala bentuk penyimpanan senjata nuklir secepatnya. Gerakan-gerakan serupa akhirnya juga lahir dan bermunculan, membuat mobilisasi massa yang turun ke jalan dan mengikuti aksi protes menjadi perhatian publik internasional. Hal itu yang menurut David Owen, seorang politisi Inggris kala itu, disebut sebagai “megaphone diplomacy. 

Situasi kembali berkembangnya isu-isu terkait pengembangan senjata nuklir saat ini perlu menjadi perhatian. Friksi geopolitik yang terjadi antar-ketiga negara (AS, Rusia, dan China) saat ini tentu membuat perlombaan senjata menjadi tak terelakkan.

Dunia perlu kembali diingatkan akan efek destruktif yang ditimbulkan dari senjata nuklir, terutama saat kejadian Hiroshima dan Nagasaki tahun 1945. Cara-cara non-kekerasan tetap harus dikedepankan dalam penyelesaian konflik, sehingga dunia tidak perlu kembali jatuh kepada zaman Perang Dingin, ataup un perang dunia seperti di masa lalu.

Meskipun Indonesia berpotensi hanya menjadi pengamat dalam konflik semacam ini, namun efek langsungnya juga pasti akan terasa apabila perlombaan senjata nuklir terus terjadi dan dunia jatuh kepada Perang Dingin jilid II, atau bisa jadi, Perang Dunia III.

Dikutip dari Kompas.com, Jumat 9 Desember 2022.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Wartawan olahraga AS meninggal setelah pingsan saat pertandingan Argentina-Belanda

Next Post

Hempaskan Portugal 1 – 0 Maroko Bikin Sejarah Melaju ke Semi Final.

Karyudi Sutajah Putra

Karyudi Sutajah Putra

Related Posts

Feature

Inspirasi Kecil di Senja itu dan Coretan Indah Ali Syarief

April 19, 2026
Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional
Birokrasi

Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

April 19, 2026
Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi
Feature

Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

April 19, 2026
Next Post
Hempaskan Portugal 1 – 0 Maroko Bikin Sejarah Melaju ke Semi Final.

Hempaskan Portugal 1 – 0 Maroko Bikin Sejarah Melaju ke Semi Final.

Menduga “Kado” Panglima TNI Yudo untuk TNI AL

Menduga “Kado” Panglima TNI Yudo untuk TNI AL

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi
Feature

Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

by Karyudi Sutajah Putra
April 19, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Jusuf Kalla (JK) sudah membuka front pertempuran....

Read more
JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

April 19, 2026
Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

April 17, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

Inspirasi Kecil di Senja itu dan Coretan Indah Ali Syarief

April 19, 2026
Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

April 19, 2026
Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

April 19, 2026
MMS Sambut Baik Langkah Kementerian Kebudayaan Sederhanakan Proses Dana Indonesia Raya 2026

MMS Sambut Baik Langkah Kementerian Kebudayaan Sederhanakan Proses Dana Indonesia Raya 2026

April 19, 2026
JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

April 19, 2026
Saat Rakyat Menggemakan ‘Adili Jokowi’, Prabowo Teriak ‘Hidup Jokowi’: Loyalitas Kepada Siapa?

Presiden Harus Optima Prima: Antara Kekuasaan dan Kesadaran

April 19, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Inspirasi Kecil di Senja itu dan Coretan Indah Ali Syarief

April 19, 2026
Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

April 19, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist