JAKARTA – FUSILATNEWS – Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB/OPM) memposting rekaman video di media sosial dan langsung viral,
Rekaman video itu menampilkan pilot Susi Air yang disandera, dalam rekaman beredar tampak pilot Susi Air Philip Mark Merthens berdiri dengan jaket jins biru bersama sejumlah anggota KKB lainnya yang sedang mengacungkan senjata.
“Tentara Indonesia harus pulang. Kalau mereka gak pulang, saya tidak dilepas dan mereka bilang tembak saya,” kata Kapten Philip dalam video beredar.
Juru bicara Tentara Nasional Pembebasan Papua Barat (TPNPB – OPM) Sebby Sambom menegaskan, foto dan video tentang penguasaan badan terhadap pilot Susi Air tersebut, membuktikan ucapan bohong otoritas militer dan keamanan di Indonesia yang menyebutkan kapten berkebangsaan Selandia Baru itu tidak dalam penyanderaan.
“Kami sampaikan, panglima TNI adalah pembohong besar. Karena TPNPB-OPM sudah mengakui bertanggung jawab atas bakar pesawat dan sandera pilot Susi Air,” kata Sebby melalui saluran elektronik, di Jakarta, Selasa (14/2).
Sebby mengirimkan 16 gambar, dan video yang merekam ragam aksi pascapenyerangan dan pembakaran pesawat Susi Air di Lapangan Udara Paro, di Nduga, Papua Pegunungan, pada Selasa (7/2) lalu.
Dalam beberapa dokumentasi tersebut, Sebby menjelasksn ada bukti penawanan yang dilakukan terhadap satu orang dengan perwajahan non-Asia yang diketahui sebagai Kapten Philips.
Dalam video dan dokumentasi tersebut, tampak Kapten Philips mengenakan topi bukcet loreng. Kapten Philips mengenakan kaus hitam bertuliskan ‘Papua Merdeka’ lengkap dengan logo bendera Bintang Kejora.
Menanggapi munculnya rekaman video yang diposting oleh pihak Kelompok Kriminal Bersenjata ( KKB) Menkopolhukam Mahfud MD menegaskan, Pemerintah Indonesia menempuh pendekatan persuasif dalam upaya membebaskan pilot Susi Air Philip Mark Merthens, yang disandera Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) pimpinan Egianus Kogoya di Paro, Nduga, Papua Pegunungan.
Menurut Mahfud, pemerintah terus berupaya mengutamakan keselamatan pilot berkebangsaan Selandia Baru tersebut.
“Pemerintah akan terus berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan penyelamatan terhadap sandera dengan pendekatan-pendekatan yang sifatnya persuasif, karena yang diutamakan adalah keselamatan sandera,” kata Mahfud dalam video keterangan pers yang disiarkan kanal YouTube Kemenkopolhukam, Jakarta, Selasa. 14/
Mahfud dengan tegas mengatakan, pemerintah tidak menutup kemungkinan menempuh upaya lain, mengingat penyanderaan warga sipil adalah tindakan yang tidak bisa diterima dengan alasan apa pun.
“Oleh sebab itu, upaya persuasif menjadi pedoman utama demi keselamatan sandera, tetapi pemerintah tidak menutup upaya lain,” katanya.
Pemerintah Indonesia terus menjalin komunikasi dengan Pemerintah Selandia Baru, guna memantau dan mengakselerasi penanganan pembebasan Philip Mark Mehrtens.
Mahfud menegaskan kembali, Papua adalah bagian sah dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), baik menurut konstitusi RI, hukum internasional, maupun fakta yang sedang berlangsung.
“Oleh sebab itu, karena Papua adalah bagian yang sah dari NKRI dari berbagai aspek, Papua seterusnya dan selamanya akan tetap menjadi bagian yang sah dari NKRI,” ujarnya.
Dalam kesempatan sebelumnya Kapolda Papua menegaskan nasib pilot Susi Air berkebangsaan Selandia Baru Kapten pilot Philips Martens berada ditangan KKB.
“Memang benar pilot tersebut bersama kelompok KKB pimpinan Egianus di Paro, Kabupaten Nduga, Provinsi Papua Pegunungan, ” kata Kapolda Papua Irjen Pol Mathius Fakhiri Jayapura, Selasa (14/2)

























