Oleh Fathan Muharram, Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UINAM, Anggota Forum Lingkar Pena Kabupaten Gowa
Sulawesi Selatan — Pendidikan merupakan fondasi utama bagi pembangunan manusia dan peradaban. Namun, di pelosok Sulawesi Selatan, pendidikan masih menghadapi tantangan besar yang jauh dari harapan. Meskipun upaya pemerataan terus dicanangkan, realitas di lapangan menunjukkan banyak kekurangan yang belum teratasi. Infrastruktur minim, keterbatasan akses teknologi, kekurangan guru berkualitas, dan tekanan ekonomi menjadi tantangan utama.
Infrastruktur Pendidikan yang Tidak Memadai
Kondisi infrastruktur sekolah di pelosok Sulawesi Selatan masih jauh dari standar. Banyak sekolah yang tidak memiliki fasilitas dasar, seperti ruang kelas layak, papan tulis, atau sanitasi memadai. Beberapa siswa harus belajar dalam ruang kelas sempit yang kurang nyaman, sementara akses ke sekolah sering kali menjadi kendala besar, terutama di daerah pegunungan yang sulit dijangkau.
“Musim hujan memperparah kondisi jalan menuju sekolah. Hal ini sering membuat siswa absen dan meningkatkan angka putus sekolah,” ujar seorang guru di daerah terpencil.
Kesenjangan Digital di Era Teknologi
Di tengah kemajuan teknologi, banyak sekolah di pelosok Sulawesi Selatan masih terisolasi secara digital. Akses internet yang tidak stabil dan minimnya perangkat komputer membuat siswa di daerah ini tertinggal dalam pembelajaran berbasis teknologi. Padahal, kemampuan mengakses informasi digital menjadi hal mendasar dalam persaingan global.
Kekurangan Guru Berkualitas
Tantangan lain adalah kekurangan tenaga pengajar kompeten. Banyak sekolah di pelosok kesulitan mendapatkan guru yang terlatih, dan bahkan guru yang ada sering kali menghadapi rotasi tinggi. Kondisi ini menciptakan ketidakstabilan dalam proses belajar-mengajar, mengorbankan kualitas pendidikan siswa.
Kemiskinan sebagai Hambatan Pendidikan
Kemiskinan menjadi salah satu faktor utama yang menghambat pendidikan. Banyak keluarga di pelosok lebih memprioritaskan anak-anak mereka bekerja demi membantu ekonomi keluarga. “Melanjutkan pendidikan dianggap tidak relevan karena minimnya peluang kerja bagi lulusan sekolah di daerah ini,” ungkap seorang tokoh masyarakat setempat.
Solusi dan Harapan
Meski pemerintah telah meluncurkan berbagai kebijakan, seperti bantuan biaya pendidikan dan pembangunan infrastruktur, pelaksanaannya sering kali kurang efektif. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta diperlukan untuk memastikan pendidikan yang lebih baik di daerah terpencil.
“Pendidikan adalah kunci masa depan,” tegas Fathan Muharram, mahasiswa UINAM yang juga penulis artikel ini. Pemerintah harus meningkatkan konsistensi kebijakan dan memprioritaskan pembangunan infrastruktur, akses teknologi, serta distribusi tenaga pengajar berkualitas demi mewujudkan generasi emas 2045.
Pendidikan di pelosok Sulawesi Selatan adalah potret kesenjangan sosial yang membutuhkan perhatian serius. Tanpa langkah konkret, impian pemerataan pendidikan hanya akan menjadi ilusi.
























