Fusilatnews – Dulu mereka bersumpah akan menjadi partai anak muda yang segar, berani, dan tak tersentuh godaan kekuasaan. Tapi seperti banyak kisah politik di negeri ini, sumpah itu ternyata hanya manis di bibir, hambar di hati, dan cepat sekali kadaluarsa begitu pintu istana sedikit terbuka.
Partai Solidaritas Indonesia (PSI) pernah mengibarkan bendera perlawanan: muda, lantang, dan konon bebas dari virus politik lama. Mereka mengaku berdiri di barisan depan melawan feodalisme, korupsi, dan politik dinasti. Banyak yang membayangkan, jika suatu hari PSI memilih ketua umum, nama seperti Raja Juli Antoni — sang intelektual lulusan luar negeri — atau Ade Armando — aktivis dan akademisi yang tak kenal takut — akan memimpin.
Nyatanya, yang duduk di kursi itu bukan Raja Juli, bukan Ade Armando. Yang jadi ketua umum justru Kaesang Pangarep, anak bungsu Presiden Jokowi. Rekam jejak politiknya? Bahkan Kartu Tanda Anggota PSI saja baru dua hari di tangan sebelum langsung dilantik jadi nakhoda partai. Kecepatan ini mengalahkan layanan kilat pengiriman barang — dan tanpa ongkir pula.
Yang lebih lucu, dua nama yang tadinya dianggap “petarung” melawan Jokowi kini justru asyik di barisan kekuasaan. Raja Juli, yang dulu pandai melontarkan kritik, sekarang nyaman di Kabinet Jokowi. Ade Armando, yang pernah bersuara lantang di media, kini duduk tenang di kursi Komisaris BUMN. Begitulah: dari “benci” jadi “berbagi meja makan” bersama orang yang dulu dikritik, semuanya terasa mulus kalau tiket masuknya sudah dipegang.
Publik yang dulu melihat PSI sebagai partai harapan anak muda kini harus menerima kenyataan pahit: partai ini tak lagi di luar pagar istana, melainkan sudah di ruang tamu, membawa kue sendiri untuk jamuan makan malam. Yang awalnya mengaku anti-politik lama, kini justru menjadi contoh segar politik praktis ala Indonesia: kalau tak bisa mengalahkan mereka, gabunglah… bahkan sebelum sempat berdebat.
Dan mungkin, di akhir cerita, hanya tinggal satu hal yang bisa dibanggakan dari PSI: mereka berhasil membuktikan bahwa politik itu bukan soal siapa yang paling benar, tapi siapa yang paling cepat mengganti kaos sebelum foto bersama.

























