Tragedi Malang adalah Korban tewas terbesar setelah pertandingan Peru menjamu Argentina 1964, di Lima, 328 tewas
Penonton yang panik berbenturan, pada hari Sabtu, ketika mereka mencoba melarikan diri dari stadion yang penuh sesak di Malang, Jawa Timur, setelah polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan para penggemar Arema FC, yang tumpah-ruah ke lapangan setelah kekalahan dikandang sendiri, 3-2 dari Persebaya Surabaya.
Itu salah satu paragraph, dalam berita Reuters, kemarin, dengan judul berita “Indonesia presses for answers after deadly soccer stampede”.
Tragedi malang di Malang itu, mengundang perhatian yang dalam dari Presiden Jokowi. Ia memerintahkan, antara lain, soal penanganan hukum. Bersambut dengan Menkolpolhukam membantuk Tim Pencari Fakta Independen.
Sepertinya, diksi “terburuk” mengarah pada institusi polisi, yang bertanggung jawab pada pengamanan. Dan PSSI, yang didalam terpandang telanjang ada “aliran uang”. Stadion yang berkapasitas 38000, tetapi tiket yang dijual mencapai 42.000. Dua Lembaga itu, komorbit terhadap uang.
Sembilan polisi telah diumumkan dicopot dari posisinya. Kapolres setempat pun dimutasikan, begitu kata juru bicara polisi Dedi Prasetyo. Dalam keterangan tambahan ada 28 petugas lainnya sedang diselidiki.
Sembilan polisi dicopot dari posisinya dan kepala polisi setempat dipindahkan, kata juru bicara polisi Dedi Prasetyo, menambahkan bahwa 28 petugas sedang diselidiki.
Kita tidak dapat membayangkan, bagaimana perasaan keluarga, sahabat karib dari para korban yang kini dituduh sebagai penyebab tragedi yang mematikan itu.
“Saya dan keluarga tidak menyangka akan menjadi seperti ini,” kata Endah Wahyuni, kakak dari dua anak laki-laki, Ahmad Cahyo, 15, dan Muhammad Farel, 14, yang tewas setelah terperangkap pada saat huru-hara di tempat yang sama. Itulah kesempatan pertama menonton pertandingan langsung sepka bola.
“Mereka suka sepak bola, tetapi tidak pernah menonton Arema secara langsung di stadion Kanjuruhan,” katanya.
Koran Tempo pada halaman depan, bernuansa hitam, dengan headline “Tragedi Sepak Bola Kita” dengan warna merah, bersama dengan daftar orang yang mati. Sementara Menkopolhukam Mahfud mengatakan keluarga korban akan menerima 50 juta rupiah, sebagai kompensasi, dan perawatan untuk ratusan lainnya yang terluka digratiskan.
FIFA, mengatakan insiden itu sebagai “tragedi diluar pemahaman”, telah meminta otoritas sepak bola Indonesia laporan lengkap.
Presiden Arema FC sambil berlinang air matanya, Gilang Widya Pramana, meminta maaf kepada para korban pada hari Senin dan mengatakan dia siap untuk bertanggung jawab penuh.


























