• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

PSSI, Polisi, dan Oksimoron Tragedi Kanjuruhan

Karyudi Sutajah Putra by Karyudi Sutajah Putra
October 20, 2022
in Feature
0
Vidio Tragedi Kanjuruhan

Kerusuhan Stadion Kanjuruhan

Share on FacebookShare on Twitter


Oleh: Abdul Susila, Lulusan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Jakarta, KABNews.id – Saya menarik napas panjang sesampai di pelataran Stadion Kanjuruhan, dua pekan lalu. Ingatan sempat melayang ke sembilan tahun silam, ketika terakhir saya datang menonton Arema di sana. Saat itu saya datang dengan kegembiraan yang membuncah, menyaksikan Persija melawan tim lainnya dalam Inter Island Cup.
Kali ini saya datang dengan sejuta tanda tanya di kepala.

Selama sepekan di Kepanjen, Kabupaten Malang, termasuk kota Malang tentunya, atmosfer duka yang terasa. Bertemu rekan, teman, juga orang-orang di banyak tempat, semuanya menyimpan luka dalam.

Minggu (2/10) malam, seorang pemuda menangis. Ia lesu di pelukan kawannya di pintu 13 Stadion Kanjuruhan. Seplastik bunga baru ia tabur di sana. Belum semenit, belum selesai bacaan doanya, tangisnya pecah.

Senin (3/10) sore. Seorang ibu. Kira-kira 50-an tahun. Duduk sendirian di pojok selatan Stadion Kanjuruhan. Dekat pagar besi lapangan latihan. Rambutnya penuh uban. Ia bengong. Tatapannya kosong.

Selasa (4/10) pagi. Seorang wanita turun dari motor. Matanya bengkak. Ia lantas tercekat di depan pintu 11. Ia membisu di depan tumpukan sepatu bekas. Di tangannya ada mawar merah.

Rabu (5/10) sore. Sepasang kekasih berdiri di depan patung kepala singa. Keduanya memakai kaus biru bertuliskan ‘Singo Edan’. Setelah 15 menit mengirim doa, keduanya pulang. Mata mereka merah.

Kamis (6/10) pagi. Seorang Aremania. Cukup punya nama di komunitasnya. Diserbu haru di tangga masuk stadion. Lima menit ia mematung di sana. Matanya berkaca-kaca. Saya hanya bisa mengelus pundaknya.

Jumat (7/10) malam. Ribuan manusia memanjat doa-doa di halaman Stadion Kanjuruhan. Ini tahlilan hari ketujuh tragedi 1 Oktober. Air mata masih ada. Duka masih terasa. Dan, frasa ‘usut tuntas!’ menyala-nyala.

Itulah sedikit gambar yang saya lihat selama sepekan di Malang. Banjir air mata mungkin hiperbola, tapi rasanya sangat nyata. Sungguh, duka itu bukan musikalisasi media massa.

Namun ada banyak juga kaum hipokrit di sana. Membual seolah-olah dengan logika. Kamuflase di atas fatamorgana fakta. Saya jadi teringat film ‘The Trial of Chicago 7’. Kira-kira begitu skenarionya.

Kebal Hukum Gas Air Mata

“There are more hooligans in the House of Commons than at a football match,” kata Brian Clough. Saya memaknainya; “Ada lebih banyak hooliganisme di parlemen [Inggris] daripada di pertandingan sepak bola.”

Clough adalah mendiang mantan pelatih Nottingham Forest. Bagi mantan pemain Sunderland ini, hooliganisme adalah borok sepak bola Inggris. Namun demikian, bagi saya ada yang lebih arogan dari hooligan: sistem.

Aroganisme dari sistem itu pula yang kiranya jadi biang kerok tragedi pilu lebih dari seratus Aremania meninggal di Kanjuruhan, selepas pertandingan Arema FC versus Persebaya pada Sabtu malam, 1 Oktober 2022.

Padahal sudah ratusan pertandingan digelar di stadion yang konon merupakan medan tempur Kerajaan Kanjuruhan pada abad ke-8, dan tak pernah menelan ratusan korban jiwa.

Penyebabnya ada banyak. Sangat banyak jika digali dan didalami dengan teliti. Namun pendapat umum, yang itu bisa dilihat dengan mata telanjang, adalah semburan gas yang ditembakkan ke tribune penonton.

Di Amerika Serikat gas itu dikenal dengan sebutan CS. Gas ini diklaim lahir pada 1928 dari ilmuwan Ben Corson dan Roger Stoughton. Ialah gas yang dilarang FIFA, tapi masih meletup di sepakbola Indonesia.

Ya, yang kita bicarakan adalah gas air mata. Ini adalah gas pengendali huru-hara yang bebas dari protokol senjata kimia. Ia ‘kebal hukum’ karena tak menyebabkan pendarahan dan terpenting, tak meninggalkan jejak.

Anna Feigenbaum, profesor di Universitas Bournemouth, Inggris, penulis ‘Tear Gas: From the Battlefields of World War I to the Streets of Today’ mengakui gas air mata bukanlah senjata pembunuh.

Gas air mata, kata Anna, hanya membuat massa ketakutan dan menangis menjerit. Benar saja, ketakutan itu yang akhirnya menjejali kepala penonton Kanjuruhan hingga akhirnya terjadi desak-desakan kemudian terhempit ketika menuju pintu keluar stadion.

Perannya pun terang benderang ditegaskan Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF). Lewat laporan mereka menyatakan: “Yang mati dan cacat serta sekarang kritis dipastikan setelah terjadi desak-desakan setelah gas air mata yang disemprotkan,” kata Mahfud MD dalam jumpa pers, pekan lalu.

“Dunia sudah gila,” kata Pep Guardiola soal Tragedi Kanjuruhan. Guardiola hanya kecewa. Jika pelatih Manchester City itu tahu dinamika sepak bola Indonesia, niscaya akan bilang, “Indonesia sudah gila.”

Saya jadi teringat Ahmad Solihin dan Sopiana Yusuf, dua Bobotoh yang meninggal saat Piala Presiden 2022, dan 76 suporter lainnya yang meninggal terkait sepak bola Indonesia sejak 1994 silam. Tak ada tersangkanya.

Titik Nadir Polisi dan PSSI

Coba kau jawab pertanyaan ini. Kapan kerusuhan pertama sepak bola profesional Indonesia? Kapan korban meninggal pertama sepak bola nasional? Kapan pertama kali gas air mata dipakai di sepak bola kita?

Lupakan, kalau tak tahu, karena nyaris tak ada yang pegang jawabannya. Bahkan jika kau tanya ke mesin pencari Google. Namun, kau harus ingat tanggal ini; peristiwa ini; kejadian ini; jangan sampai lupa: Tragedi Kanjuruhan 1 Oktober 2022. Ini adalah malam di mana 133 orang ‘syahid’ seusai pertandingan sepak bola.

Apa kata PSSI? Jumlah penonton yang dicatat PT Liga Indonesia Baru pada pekan ke-11 Liga 1 2022/2023 tersebut adalah 42.588 (102 persen). PSSI, lewat Komite Disiplin Erwin Tobing, menyebut ini tak melebihi kapasitas.

Alasannya, Stadion Kanjuruhan tidak punya kapasitas yang pasti karena ada tribune berdiri. Ini oksimoron. Mana ada stadion tanpa kapasitas pasti, sebab ini tercatat dalam Sertifikat Laik Fungsi.

Apa kata PSSI? Pintu tribune stadion tidak dibuka menjelang laga usai oleh petugas security officer Arema FC. PSSI melalui Ketua Tim Investigasi PSSI Ahmad Riyadh menyebut Arema FC lalai.

Hei PSSI, sudah kalian memastikan info itu? Benarkah Arema FC lupa membuka pintu? Sudahkah kalian menanyakan hal ini pada para korban? Oksimoron lagi. Reportase dan investigasi membuktikan pintu sudah dibuka.

Apa kata PSSI? Sesuai regulasi, semua kesalahan adalah milik klub dan bukan PSSI juga operator kompetisi. Lantas mengapa disebut Stadion Kanjuruhan belum diverifikasi? Bukankah tim verifikator sudah ke sana?

Karenanya wajar jika publik meminta Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan mundur. Ini bukan soal moralitas. Ini soal kompetensi. Tak ada verifikasi itu fatal. Pelanggaran regulasi.

Apa kata polisi? Gas air mata bukan penyebab langsung kematian ratusan Aremania di Stadion Kanjuruhan. Mayoritas orang juga sepakat demikian. Namun, gas air mata adalah penyebab utama tragedi ini.

Kalian tentu ingat kerusuhan di Stadion Deltras Sidoarjo. Bonek masuk ke lapangan dan membakar fasilitas stadion. Mereka akhirnya bisa dipukul mundur, tapi tak ada gas air mata di sana. Tak ada korban jiwa.

Citra polisi dan PSSI sedang di titik nadir saat ini. Aremania skeptis atas kinerja polisi. Orasi Anto Baret saat tahlilan tujuh hari Tragedi Kanjuruhan dan coretan dinding jadi bukti.

Jika tak cukup. Baca lagi laporan TGIPF. Sikap dan praktik ini jadi akar masalah yang sudah berlangsung bertahun-tahun:

“Tragedi di Stadion Kanjuruhan Malang, di mana terjadi kerusuhan pasca pertandingan sepak bola antara Arema vs Persebaya pada tanggal 1 Oktober 2022, terjadi karena PSSI dan para pemangku kepentingan liga sepak bola Indonesia tidak profesional, tidak memahami tugas dan peran masing-masing, cenderung mengabaikan berbagai peraturan dan standar yang sudah dibuat sebelumnya, serta saling melempar tanggung jawab pada pihak lain.”

Coba kau jawab pertanyaan ini. Kapan kasus Tragedi Kanjuruhan tuntas? Kapan suporter bisa nyaman ke stadion? Kapan Liga Indonesia mulai lagi? Jangan kau cari dulu, politik sepak bola nanti yang kau temukan.

Tolong Bimbing PSSI

Untuk PSSI, polisi, TNI, dan siapa saja yang terlibat di sepak bola, ingatlah sajak ini: Sepasang Sepatu di Beranda Rumah Ibu. Jika belum membacanya, carilah karya Lintang Prameswari itu. Ini sedikit cuplikannya:

“Nak, ibu tinggalkan nasi bersama lauknya di atas meja.

Pulanglah dan santap habis setelah kau lelah berlaga.

Pulanglah, di rumah ada cinta.

Siap menampung berapa pun banyak kau meneteskan air mata.”

Kalau Aremania menuntut: usut tuntas, dan masyarakat meminta: tak ada sepak bola seharga nyawa, sudahilah gas air mata. Sudahilah memancing aparat menembakkan gas air mata. Sudahilah kebobrokan sistem ini.

FIFA, tolong bimbing PSSI agar disiplin dengan regulasi. Tak boleh ada syarat yang disepelekan lagi.

Dikutip dari CNNIndonesia.com, Kamis 20 Oktober 2022.

BalasTeruskan

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Cerita Versi Kuat Ma’ruf soal Keributan dengan Yosua di Magelang, Ada Kekerasan Seksual?

Next Post

Xi Jinping lebih kuat dari sebelumnya, tetapi masa depan China tidak pasti

Karyudi Sutajah Putra

Karyudi Sutajah Putra

Related Posts

Gelombang Opini dan Senjakala Kepemimpinan: Yahya Cholil Staquf Terancam Tidak Dipilih Lagi
Feature

Gelombang Opini dan Senjakala Kepemimpinan: Yahya Cholil Staquf Terancam Tidak Dipilih Lagi

April 20, 2026
MBG: Gagasan Lama, Eksekusi Tergesa, dan Arah yang Kabur
Birokrasi

MBG: Gagasan Lama, Eksekusi Tergesa, dan Arah yang Kabur

April 20, 2026
Economy

Mengelola Risiko DSR 40%: Ketika Negara Seperti Keluarga yang Terlilit Cicilan di Tengah Dunia yang Bergejolak

April 20, 2026
Next Post
Xi Jinping lebih kuat dari sebelumnya, tetapi masa depan China tidak pasti

Xi Jinping lebih kuat dari sebelumnya, tetapi masa depan China tidak pasti

SEKJEN FUI BAGIKAN KITAB ANIES KARYA ABDURAHMAN SYEBUBAKAR

SEKJEN FUI BAGIKAN KITAB ANIES KARYA ABDURAHMAN SYEBUBAKAR

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi
Feature

Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

by Karyudi Sutajah Putra
April 19, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Jusuf Kalla (JK) sudah membuka front pertempuran....

Read more
JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

April 19, 2026
Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

April 17, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Gelombang Opini dan Senjakala Kepemimpinan: Yahya Cholil Staquf Terancam Tidak Dipilih Lagi

Gelombang Opini dan Senjakala Kepemimpinan: Yahya Cholil Staquf Terancam Tidak Dipilih Lagi

April 20, 2026
Skandal Laptop Siluman BGN: Menguak Korupsi Ratusan Miliar Berkedok Transformasi Digital, Peruri Terlibat

Skandal Laptop Siluman BGN: Menguak Korupsi Ratusan Miliar Berkedok Transformasi Digital, Peruri Terlibat

April 20, 2026
MBG: Gagasan Lama, Eksekusi Tergesa, dan Arah yang Kabur

MBG: Gagasan Lama, Eksekusi Tergesa, dan Arah yang Kabur

April 20, 2026

Mengelola Risiko DSR 40%: Ketika Negara Seperti Keluarga yang Terlilit Cicilan di Tengah Dunia yang Bergejolak

April 20, 2026

Inspirasi Kecil di Senja itu dan Coretan Indah Ali Syarief

April 19, 2026
Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

Sikat dan Semir Sepatu: Puncak Absurditas Anggaran “Bakar Duit” Badan Gizi Nasional

April 19, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Gelombang Opini dan Senjakala Kepemimpinan: Yahya Cholil Staquf Terancam Tidak Dipilih Lagi

Gelombang Opini dan Senjakala Kepemimpinan: Yahya Cholil Staquf Terancam Tidak Dipilih Lagi

April 20, 2026
Skandal Laptop Siluman BGN: Menguak Korupsi Ratusan Miliar Berkedok Transformasi Digital, Peruri Terlibat

Skandal Laptop Siluman BGN: Menguak Korupsi Ratusan Miliar Berkedok Transformasi Digital, Peruri Terlibat

April 20, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist