Setiap kali bencana alam terjadi, kita sering kali mendengar ungkapan, “Jangan salahkan alam.” Pernyataan ini sebenarnya mengandung kebenaran yang mendalam. Alam tidak memiliki kehendak untuk mencelakai manusia. Bencana menjadi bencana karena kehadiran manusia di tempat yang rentan. Tanpa manusia, itu hanyalah fenomena alam yang berjalan sesuai hukum-hukum alam.
Banjir adalah contoh yang paling nyata. Kita menyebutnya “banjir” karena ada manusia yang terdampak. Namun, jika tidak ada manusia di sekitarnya, kita hanya akan menyebutnya sebagai “genangan.” Banjir bukan sekadar air yang meluap akibat hujan deras, tetapi lebih sering disebabkan oleh ketidakmampuan manusia dalam mengelola lingkungan. Penggundulan hutan, pembangunan yang tidak memperhitungkan drainase, dan kebiasaan membuang sampah sembarangan menjadi faktor utama yang memperparah bencana ini. Maka, menyalahkan cuaca adalah bentuk pengingkaran terhadap tanggung jawab manusia.
Fenomena alam juga membuktikan hal ini. Ketika Gunung Krakatau meletus di tengah lautan, peristiwa itu menjadi tontonan turis dan catatan sejarah. Namun, ketika Gunung Merapi meletus, puluhan orang tewas karena mereka berada di zona bahaya. Alam hanya bekerja sesuai mekanismenya, tetapi manusia sering kali mengabaikan peringatan dan tetap memilih untuk menetap di daerah yang rawan bencana.
Al-Qur’an telah menyinggung perihal ini dalam surah Asy-Syura ayat 30: “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” Ayat ini menegaskan bahwa banyak musibah terjadi akibat ulah manusia sendiri. Kerusakan lingkungan, eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan, dan kelalaian dalam menjaga keseimbangan alam adalah akar dari banyak bencana yang kita alami.
Maka, saat bencana datang, alih-alih menyalahkan alam, sudah seharusnya kita bercermin dan bertanya: sejauh mana kita telah berkontribusi terhadap kerusakan yang terjadi? Kesadaran dan perubahan perilaku dalam menjaga lingkungan adalah satu-satunya cara untuk mengurangi dampak bencana. Jangan lagi kita bersembunyi di balik alasan cuaca atau takdir, karena pada akhirnya, manusia sendirilah yang menentukan seberapa besar risiko bencana dalam kehidupannya.


























