Fusilatnews – “Rakyat adalah hakim tertinggi.” Kalimat itu terdengar gagah, seakan menempatkan kita di puncak kekuasaan. Tapi mari kita jujur: berapa banyak dari kita yang benar-benar bersedia menjadi hakim? Berapa banyak yang hanya menjadi penonton, menonton sandiwara politik sambil tersenyum atau mengeluh tanpa bertindak? Hakim macam apa yang takut melihat fakta, menimbang bukti, dan menegakkan kebenaran?
Di bilik suara, banyak dari kita tertipu oleh rasa aman palsu. Kita memilih karena popularitas, karena survei yang dibayar, atau karena uang yang menyinari janji manis. Kita lupa: demokrasi bukan soal siapa paling lihai berbohong, tapi siapa paling tulus mempertanggungjawabkan diri. Jika rakyat hanya memilih karena gemerlap sementara, jangan heran bila bangsa ini terus dipimpin oleh orang-orang yang lebih pandai bermain retorika daripada menegakkan kebenaran.
George Orwell berkata, “In a time of deceit, telling the truth is a revolutionary act.” Di negeri ini, kejujuran sering dianggap berlebihan, kebenaran dianggap mengganggu, dan kritik dianggap ancaman. Sementara itu, kita dengan mudah terbuai janji kosong, ikut arus politik uang, dan memilih ketenangan palsu daripada menghadapi realitas. Demokrasi yang mati karena penonton yang takut menegakkan kebenaran—itulah ancaman terbesar yang jarang kita sadari.
Menjadi hakim agung berarti berani. Berani menolak popularitas semu. Berani menolak janji yang manis tapi kosong. Berani menuntut transparansi dan menegakkan keadilan. Abraham Lincoln mengingatkan, “Government of the people, by the people, for the people, shall not perish from the earth.” Tapi demokrasi hanya akan bertahan jika rakyat berani memikul tanggung jawabnya—bukan hanya hadir di bilik suara, tetapi hadir dalam kesadaran dan keberanian.
Jika rakyat takut menegakkan kebenaran, jika rakyat menyerah pada kemudahan dan sensasi, maka suara kita hanyalah gema kosong. Demokrasi akan mati dalam diam, ditinggalkan oleh hakim-hakim yang takut. Rakyat adalah hakim agung tertinggi, tetapi agung hanya bila ia berani memeriksa, berani menimbang, dan berani menolak kebohongan.
Bangkitlah, rakyat! Jangan lagi menjadi penonton. Jangan biarkan bangsa ini dipimpin oleh mereka yang pandai beretorika tapi tidak bertanggung jawab. Demokrasi tidak menunggu penonton yang takut. Demokrasi menuntut hakim yang berani—dan hanya rakyat yang berani yang bisa menyelamatkan negeri ini dari kehancuran.























