• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Kok Bisa Ya Jadi Pemimpin Indonesia Hasil Nipu?

Ali Syarief by Ali Syarief
September 18, 2025
in Feature, Tokoh/Figur
0
Kekaburan Ijazah Jokowi dan Gibran: Menggugat Integritas Kepemimpinan
Share on FacebookShare on Twitter

Republik ini lahir dengan janji. Kita menyebutnya merdeka, sebuah kata yang bukan hanya berarti lepas dari penjajahan, melainkan juga tegak di atas kejujuran. Merdeka adalah pernyataan moral: rakyat berhak hidup tanpa penipuan.

Namun, sejarah bangsa sering memperlihatkan hal lain. Kita diajak percaya pada pemimpin, tapi acap kali yang kita lihat bukan wajah, melainkan topeng. Belakangan, ramai dibicarakan soal ijazah. Tentang dokumen yang seharusnya sederhana—tanda seseorang pernah menempuh jalan pendidikan. Tapi justru dari situ lahir gosip, gugatan, bahkan persidangan: benarkah ijazah itu sahih? Ataukah hanya sebuah rekayasa?

Bila kabar itu benar, sungguh ironis. Tapi bahkan jika kabar itu salah, kenyataan bahwa publik bisa begitu mudah percaya menyingkap hal yang lebih dalam: ada ketidakpercayaan yang mengendap lama pada republik ini. Kita seakan terbiasa dengan kemungkinan bahwa pemimpin bisa berdiri di atas sesuatu yang palsu.

Di sini, politik tak lagi tegak pada integritas. Ia tegak pada kemampuan mengelabui. Pada retorika. Pada jaring kuasa. Sebuah ijazah palsu hanyalah lambang dari sesuatu yang lebih besar: hilangnya fondasi moral.

Sejarah kita pernah mengenal pola yang sama. Di masa Orde Baru, Soeharto membangun kekuasaan dengan bahasa pembangunan. Angka-angka ekonomi dipoles, cerita stabilitas diperdengarkan. Tapi di baliknya, represi dan korupsi berlangsung. Itu juga sebuah kepalsuan, tapi yang lebih canggih: bukan pada dokumen pendidikan, melainkan pada narasi tentang kemajuan. Bedanya hanya skala, bukan substansi.

Mungkin inilah ironi bangsa yang cepat melupakan. Kita jatuh ke dalam perangkap yang sama: membiarkan kepalsuan menjadi bagian dari hidup bersama. Bahkan ketika sudah tahu, kita sering memilih diam. Seakan kebenaran tak pernah mendesak, hanya sekadar hiasan di ruang pidato.

“Rakyat adalah hakim tertinggi,” kata konstitusi tak tertulis kita. Tapi hakim macam apa jika ia tak berani memeriksa? Di bilik suara, kita lebih sering terjebak pada rasa aman palsu: memilih karena popularitas, karena survei, karena uang. Kita lupa, demokrasi bukanlah soal memilih siapa yang paling kuat berbohong, tapi siapa yang paling tulus mempertanggungjawabkan diri.

Goethe pernah menulis: kebohongan bisa berjalan jauh, tapi tak bisa terbang. Ia mungkin bertahan sebentar, tapi pada akhirnya jatuh juga oleh beratnya sendiri. Pertanyaannya: ketika kebohongan itu jatuh, siapa yang ikut terhempas? Bukan hanya sang pemimpin, melainkan seluruh rakyat yang pernah percaya.

Barangkali republik ini memang hidup dalam kontradiksi. Kita mencita-citakan pemimpin yang jujur, tapi kita juga sering memberi ruang pada penipu. Kita mendambakan demokrasi, tapi kita pun terbuai pada sandiwara. Pertanyaan “kok bisa ya pemimpin lahir dari sesuatu yang palsu?” pada akhirnya bukan hanya ditujukan pada mereka yang berkuasa. Pertanyaan itu juga menyorot kita, rakyat yang membiarkannya.

Seperti duri kecil yang tak pernah hilang dari tubuh, pertanyaan itu akan tetap menusuk: adakah kita bangsa yang diam-diam sudah berdamai dengan kepalsuan?


Catatan Kaki
Mungkin kita memang bangsa yang lebih pandai memaafkan daripada mengingat. Kita mudah tersenyum pada penipu, asal ia pandai memainkan peran. Tapi sejarah punya cara sendiri untuk mencatat. Ia tak pernah menulis dengan tinta yang bisa dihapus. Ia menulis dengan luka.

Dan luka itu, cepat atau lambat, akan menuntut jawab.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Reformasi Polri Dimulai dari Tribrata-1

Next Post

Rakyat Adalah Hakim Agung Tertinggi

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Jokowi Meneruskan Membangun Raja Jawa
Politik

Jokowi Meneruskan Membangun Raja Jawa

June 28, 2026
Feature

Mengobati Demam atau Menyembuhkan Penyakit? Refleksi tentang Satgas Mitigasi PHK dan Akar Persoalan Ekonomi Indonesia

June 28, 2026
Feature

Berani Memutuskan atau Takut Dipenjara? (Di Mana Batas Diskresi dan Korupsi?)

June 28, 2026
Next Post
Rakyat Adalah Hakim Agung Tertinggi

Rakyat Adalah Hakim Agung Tertinggi

Dana Haji, Negara, dan Paradoks Politisi

Dana Haji, Negara, dan Paradoks Politisi

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Indonesia Targetkan PLTN Operasi Tahun 2032, Rusia Siap Kerja Sama
Economy

Indonesia Targetkan PLTN Operasi Tahun 2032, Rusia Siap Kerja Sama

by Karyudi Sutajah Putra
June 24, 2026
0

Jakarta - FusilatNews.-- Indonesia menargetkan pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) komersial perdananya tahun 2032. Rusia siap bekerja sama. Duta...

Read more
IPW Desak Propam Polda Metro Jaya Sidangkan Penyidik Polres Depok

Mengapa Penangkapan Roy Suryo dan Tifa Seperti Teroris? Ini Kata IPW!

June 22, 2026
Aroma Persaingan AHY-Gibran 2029 Mulai Terasa

Aroma Persaingan AHY-Gibran 2029 Mulai Terasa

June 22, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Jokowi Meneruskan Membangun Raja Jawa

Jokowi Meneruskan Membangun Raja Jawa

June 28, 2026
Duel PSI vs PDIP: Pertarungan Politik 2029 Resmi Dimulai

Duel PSI vs PDIP: Pertarungan Politik 2029 Resmi Dimulai

June 28, 2026

Mengobati Demam atau Menyembuhkan Penyakit? Refleksi tentang Satgas Mitigasi PHK dan Akar Persoalan Ekonomi Indonesia

June 28, 2026
Pertamina Diminta Antisipasi Praktik Korupsi “Rilesta” demi Menjaga Distribusi BBM Tepat Sasaran

Pertamina Diminta Antisipasi Praktik Korupsi “Rilesta” demi Menjaga Distribusi BBM Tepat Sasaran

June 28, 2026

Berani Memutuskan atau Takut Dipenjara? (Di Mana Batas Diskresi dan Korupsi?)

June 28, 2026

Sayembara Rp250 Juta KDM: Solusi Cepat Kasus Darurat atau Sekadar Panggung Politik?

June 28, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Jokowi Meneruskan Membangun Raja Jawa

Jokowi Meneruskan Membangun Raja Jawa

June 28, 2026
Duel PSI vs PDIP: Pertarungan Politik 2029 Resmi Dimulai

Duel PSI vs PDIP: Pertarungan Politik 2029 Resmi Dimulai

June 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...