Jakarta, FusilatNews,- Apa yang tercerna dari idea Jusuf Kalla, menjodohkan Anies Baswedan dan Puan Maharani, menjadi Capres dan Cawapres 24 yang akan datang? Inilah yang pikiran antique, karena sangat dimaklumi, pikiran JK bukan politikus kaleng-kaleng. Faktor pengalaman, kiprah dalam bidang perpolitikan, diblender menjadi sebuah potret gagasan Anies dan Puan, sebagai solusi menyelesaikan persoalan anak bangsa saat ini. Rocky Gerung menilainya sebagai Reborn “Mega-Binang”, yaitu bersatunya kaukus Nasionalist dan Islamist. Dan Pak Amin Ra’is, dahulu berhasil membangun eskalasi politik damai dengan apa yang dinekal dengan “Poros Tengah”, yang meloloskan Megawati menjadi Presiden RI.
Banyak yang sudah lupa, bahwa Anies Baswedan adalah, tim suksesnya Jokowi saat nyapres yang pertama. Bisa saja ini cara timnya Jokowi, untuk mencegah, supaya Anies tidak menjadi pesaing Jokowi dan membangun citra positive terhadap Jokowi sendiri. Atas dasar realitas yg sangat menghawatirkan banyak pihak, selama kepemimpinan Jokowi, ancaman Indonesia yang terkoyak koyak ini, maka menyatukan diametral social yg sedang memanas itulah, jatuh pada pilihan untuk mengawinkan Anisbaswedan dan Puan, sebagai Capres/Cawapres yang akan datang.
Mega Bintang dan Poros Tengah itu adalah artifak sejarah politik kita, produk reformasi. Binoculras yang dapat memudahkan bagaimana memahami duet Anies Baswedan dan Puan Maharani sebagai suatu solusi. Bila kemudian PDIP bisa mengambil langkah cepat, memutuskan duet terasebut, maka gagasan ini akan dengan mudah di “yes’ kan oleh para oligar-oligar politik saat ini. Persoalannya adalah, apakah ketegangan diametral antara Nasionalis dan agamis itu, akan tetap dipelihara atau dasatukan untuk menatap Indonesia kerah yg lebih affluent.
Sementara sampai saat ini, bagi PDIP pun, hampir tidak menemukan sosok siapa yang bisa disandingkan dengan Puan Maharani, terutama yang terlihat benang merahnya identic dengan ideologi dan kader-kader partainya. Disisi Anies Baswedan justru telah memagang sertifikat, sebagai pemimpin yang adil ditenga-tengah kehidupan kemajemukan, seperti dituturkan oleh para pendeta agama Kristen dan dan Hindu.
Kehawatiran kosntituen PDIP terbelah kehadiran kehadiran Ganjar Pranowo yang digadang-gadang menjadi pesaing Puan, menjadi tidak beralasan ketika Kader PDIP Trymedia, mempertanyakan apa Prestasi Ganjar Pranowo selaku Gubernur Jawa Tengah. Sejumlah data dibeberkan, seperti provinsi termiskin, tidak mempunyai perhatian pada dunia oleh raga jateng dan sejumlah data lain, yanf tidak bisa dijawab oleh relawan GP. Tetapi dibalik serangan para benteng banteng itu terlihat, bahwa GP semakin jauh dari kemungkinan bisa didukung PDIP.
Kahadiran Ganjar Pranowo dalam diskursus PenCapresan 2024, ditenggarai sebagai batu sandung Puan.
Berbagai macam Prestasi Anies Baswedan di Jakarta, sebagai peraih terbanyak mcam-maca Prestasi dalam dan luar negeri, perubahan yang signifikan di Jakarta saat ini, pemangunan JIS, export beras dan sukses Formula E, adalah eskalasi terhadap pencitraan dirinya, sebagai kandidat presiden 24 pilihan rakyat. Sehingga polling-polling independen kandidat presiden, menempatkan dirinya sebagai yang selalu teratas. Kelayakan Anies Baswedan menjadi Capres itu berdengung, jauh sebelum nama Jokowi dan yang lain-lain tersiar dahulu.
Kembali kepada membaca pikiran JK, seteah beberapa kali meloby PDIP, untuk maksud tersebut adalah, tentu saja baik sebagai sesepuh di Golkar, Organisasi Dunia Usaha dan Dewan Masjid Indonesia, memorinya atas dokumen-dokumen bagaimana membangun kesatuan dan persatuan serta solusi membangun Indonesi kearah yang “lebih cepat lebih baik”, adalah jargon yang mendorong langkahnya itu.
“Jadi ia ingin menjadi Pak Comblang menjodohkannya dengan Anies Baswedan,” kata Hersubeno Arief. Menanggapi itu, Rocky Gerung mengatakan bahwa political sense yang dimiliki JK memang tidak bisa dianggap enteng.
Sinyalemen Puan, sepertinya mulai kepincut Anies adalah, beberapa sikap dan pernyataannya; Ingin mempercepat pembangunan Museum Rosulullah di Ancol, melakukan ibadah Umrah yang konon, juga menjadi ajang pendekatan dan mengkomunikasikan duet ini dan sudah barang tentu kehadiran di Formula E menjadi arti tersendiri untuk dimaknai sebagai sikap politiknya.
Sisi lain, kunjungan Prabowo memenuhi undangan Partai Nasdem, adalah sinyalemen buyarnya harapannya bisa bareng Puan sebagai pasangan di Pilpres 24.
Berita Update Lainnya Ikuti Kami Di Google News

























