• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

REBUTAN PROYEK PROGRAM MAKAN BERGIZI GRATIS

100 Hari Kekuasaan Prabowo: Masih Lonjong, Belum Bulat

Ir. Prihandoyo Kuswanto by Ir. Prihandoyo Kuswanto
January 30, 2025
in Feature, Layanan Publik
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh Prihandoyo Kuswanto – Ketua Pusat Studi Kajian Rumah Pancasila

Seratus hari pertama pemerintahan Prabowo ternyata masih jauh dari solid. Banyak loyalis mantan Presiden Jokowi yang hanya setengah hati dalam mendukung kepemimpinannya. Program unggulan seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Badan Gizi Nasional (BGN) pun menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam hal kepemimpinan dan implementasi di lapangan.

Ketua BGN yang ditunjuk bukanlah sosok dengan kapasitas dan pengalaman dalam bidang pangan dan gizi, melainkan sekadar mantan pentolan Projo yang diberikan jabatan setingkat menteri. Akibatnya, konsep ketahanan pangan yang seharusnya bertumpu pada kedaulatan dan kemandirian pangan justru diterjemahkan sebagai legitimasi impor pangan dari luar negeri.

Padahal, ketahanan pangan seharusnya dimaknai sebagai upaya membangun kedaulatan pangan berbasis kemandirian petani, nelayan, dan peternak dalam menyediakan kebutuhan pangan nasional. Jika orientasi pemerintah adalah kedaulatan dan kemandirian pangan, maka yang harus dibangun adalah lumbung pangan di setiap kecamatan yang menjadi sumber penyediaan bahan untuk MBG.

Lebih parah lagi, pemikiran Ketua BGN tampak parsial dan tidak memiliki perspektif holistik dalam menyusun program. Pernyataannya yang menyebut serangga dan ulat bisa menjadi sumber protein menjadi polemik yang meresahkan masyarakat. Alih-alih berempati terhadap kebutuhan gizi anak-anak Indonesia, ia justru mengusulkan menu yang tidak sesuai dengan kultur dan ketersediaan pangan nasional.

Memang, dalam kondisi ekstrem seperti di pedalaman Asmat, ulat sagu bisa menjadi sumber protein. Namun, itu terjadi karena tidak adanya alternatif seperti ayam, daging, tahu, atau tempe. Penulis sendiri pernah tinggal di Agats, Asmat, pada tahun 1986 dalam rangka pengabdian pembangunan pusat Asmat dan memahami realitas tersebut. Tetapi, menjadikan serangga sebagai menu utama bagi anak-anak di perkotaan jelas merupakan kebijakan yang absurd dan tidak berempati.

Jika MBG dipahami secara holistik, maka program ini tidak hanya sekadar mencukupi asupan gizi anak-anak dan ibu hamil, tetapi juga membangun persatuan bangsa, menghidupkan perekonomian pedesaan, serta memperkuat kedaulatan pangan. Oleh karena itu, program ini tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi harus melibatkan partisipasi masyarakat agar menjadi Gerakan Nasional dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote.

Politik Proyek di Balik MBG

Sayangnya, di balik program ini, ada indikasi rebutan proyek secara sembunyi-sembunyi oleh kelompok-kelompok pendukung Prabowo yang dimotori oleh Projo. Salah satu skandal yang mencuat adalah sewa lahan untuk dapur umum. Setiap 600 m² lahan disewakan Rp1,2 miliar—angka yang tidak masuk akal jika diterapkan secara seragam di pedesaan, pedalaman, dan perkotaan.

Presiden Prabowo harus segera menyadari bahwa ada upaya pembusukan dari dalam yang bisa mencemari program ini. Jika Ketua BGN benar-benar memiliki kapasitas, seharusnya ia mengedepankan konsep gotong royong dengan melibatkan stakeholder di setiap kecamatan untuk membangun lumbung pangan. Tidak perlu membangun dapur umum baru, cukup memanfaatkan kantin sekolah dan dapur pesantren dengan meningkatkan standar higienisnya.

Kebutuhan bahan pangan bisa disuplai dari jaringan lumbung pangan. Jika suatu lumbung surplus beras, sementara lumbung lain surplus ayam, ikan, atau telur, maka bisa dilakukan pertukaran dan transaksi. Dengan demikian, akan terbentuk jaringan ekonomi pedesaan yang melibatkan BUMDes, koperasi tani, peternak, dan nelayan.

Bahkan, dengan kemajuan teknologi, bisa dibuat Aplikasi Lumbung Pangan Indonesia (ALPI) yang menghubungkan jaringan lumbung pangan di seluruh daerah. Jika ini diterapkan, lumbung pangan bisa menjadi motor penggerak MBG, sekaligus membangun kemandirian ekonomi berbasis komunitas.

Bahaya Oligarki dalam MBG

Yang lebih memprihatinkan, ada indikasi bahwa program ini justru menjadi ajang bisnis bagi pemodal oligarki. Ada pemikiran bahwa BGN tidak perlu membangun dapur umum sendiri, melainkan cukup membeli nasi paket seharga Rp10.000 dari vendor tertentu. Jika setiap kecamatan memproduksi 7.000 paket per hari, maka pendapatan per dapur umum mencapai Rp70 juta per hari.

Jika dikalikan 23 hari kerja dalam sebulan, maka satu dapur umum bisa menghasilkan Rp1,61 miliar per bulan atau Rp19,32 miliar per tahun. Jika skema ini diterapkan di seluruh kecamatan, maka dapur umum bisa menjelma seperti Indomaret—ada di mana-mana, dan menjadi ladang bisnis bagi oligarki. Kini, skema ini sedang diperebutkan oleh kelompok-kelompok pendukung Prabowo, termasuk alumni perguruan tinggi yang tergabung dalam tim suksesnya.

Dari analisis ini, jelas bahwa MBG seharusnya menjadi gerakan sosial berbasis partisipasi masyarakat, bukan sekadar proyek bisnis bagi elite tertentu. Jika benar-benar dikelola dengan baik, program ini tidak hanya memenuhi gizi anak-anak Indonesia, tetapi juga membangun ekonomi pedesaan, memperkuat kedaulatan pangan, dan menggerakkan persatuan bangsa.

Namun, jika terus dibiarkan sebagai ajang bancakan, program ini bisa menjadi sumber skandal besar dalam pemerintahan Prabowo. Saatnya Presiden bertindak tegas—membersihkan BGN dari kepentingan politik dan oligarki, serta mengembalikan program ini ke jalur yang benar: membangun Indonesia dari desa, untuk kedaulatan pangan nasional.

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

MEMBACA KIPRAH BULOG KE DEPAN

Next Post

100 Hari Prabowo: Menteri Punya 2 Majikan, Ini yang Wajib Diganti!

Ir. Prihandoyo Kuswanto

Ir. Prihandoyo Kuswanto

Related Posts

Bagaimana Wapres Gibran Menyelesaikan Rupiah yang Terpuruk dan Ekonomi yang Memburuk?
Feature

Bagaimana Wapres Gibran Menyelesaikan Rupiah yang Terpuruk dan Ekonomi yang Memburuk?

June 12, 2026
Papua: Kaya untuk Jakarta, Miskin untuk Orang Papua
Feature

Papua: Kaya untuk Jakarta, Miskin untuk Orang Papua

June 12, 2026
Macet Sampi 19 Kilometer, Hingga Pemudik di Pelabuhan Merak Pingsan
Birokrasi

Negara Jadi Pedagang, Rakyat Jadi Pelanggan: Untuk Apa Kita Memiliki Pemerintah?

June 12, 2026
Next Post
Bobby Kertanegara: Simbol Transformasi Prabowo dari Kerasnya Medan Perang ke Kasih Sayang

100 Hari Prabowo: Menteri Punya 2 Majikan, Ini yang Wajib Diganti!

Kabinet “Rame Ing Pamrih Sepi Ing Gawe”

Menteri-menteri Tersangkut Dugaan Kriminal Dalam Kabinet Prabowo

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Aktivis 98 Kutuk Teror Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus
Birokrasi

Vonis Kasus Andrie Yunus: Pelanggengan Impunitas dan Remiliterisasi

by Karyudi Sutajah Putra
June 12, 2026
0

Jakarta - FusilatNews.--Pengadilan Militer II-08 Jakarta akhirnya menjatuhkan vonis terhadap empat personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) setelah terbukti melakukan penyiraman...

Read more
IPW Desak Propam Polda Metro Jaya Sidangkan Penyidik Polres Depok

IPW Sarankan Judicial Review ke MK Jika Tak Puas dengan UU Polri Baru

June 12, 2026

Siapa SA Anggota DPR RI dari Madura yang Diduga Jual-Beli Titik MBG?

June 9, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Bagaimana Wapres Gibran Menyelesaikan Rupiah yang Terpuruk dan Ekonomi yang Memburuk?

Bagaimana Wapres Gibran Menyelesaikan Rupiah yang Terpuruk dan Ekonomi yang Memburuk?

June 12, 2026
Papua: Kaya untuk Jakarta, Miskin untuk Orang Papua

Papua: Kaya untuk Jakarta, Miskin untuk Orang Papua

June 12, 2026
Menantang Prabowo: Bangsa ‘Besar’ yang Devisanya Terkikis Impor

Gagal Berkali-kali, Ketika Jadi Presiden Gagal Lagi

June 12, 2026
Macet Sampi 19 Kilometer, Hingga Pemudik di Pelabuhan Merak Pingsan

Negara Jadi Pedagang, Rakyat Jadi Pelanggan: Untuk Apa Kita Memiliki Pemerintah?

June 12, 2026
Per 1 September 2023 Pertamina Naikkan Semua Harga BBM Non Subsidi

Kenaikan BBM dan Momentum Kerakusan

June 12, 2026

REVOLUSI KEDUA DAN UJIAN MORAL PARA VETERAN

June 12, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Bagaimana Wapres Gibran Menyelesaikan Rupiah yang Terpuruk dan Ekonomi yang Memburuk?

Bagaimana Wapres Gibran Menyelesaikan Rupiah yang Terpuruk dan Ekonomi yang Memburuk?

June 12, 2026
Papua: Kaya untuk Jakarta, Miskin untuk Orang Papua

Papua: Kaya untuk Jakarta, Miskin untuk Orang Papua

June 12, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist