Oleh : Jaya Suprana Pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan
SECARA meyakinkan fakta membuktikan bahwa reputasi supporter sepak bola sama sekali tidak bagus! Namun apa yang terjadi di ujung akhir November 2022 di stadion Al Thumama, Doha, Qatar telah bisa sedikit merehabilitasi citra buruk supporter sepak bola secara tulus, tanpa rekayasa metode pencitraan seperti yang lazim dilakukan oleh para politisi. Pada grup B di lapangan hijau babak awal Piala Dunia 2022, Iran berhadapan dengan Amerika Serikat (AS) yang kebetulan musuh bebuyutan Iran sejak Ayatollah Khomeini berkuasa.
Pertempuran sepak bola antara dua musuh bebuyutan ini merupakan yang ke dua kalinya sejak tahun 1988 di Prancis. Kali ini terbukti giliran AS menaklukkan Iran dengan skor beda tipis 1 – 0. Itu berarti pada tahun 2022 di Qatar, AS membalas kekalahannya dari Iran tahun 1998 di Prancis. Saat itu Iran menang tipis dengan skor beda tipis 2 – 1 lawan AS.
Lazimnya, apabila dua kesebelasan musuh bebuyutan selesai bertanding, langsung giliran yang “bertempur” adalah para supporter kesebelasan yang satu melawan supporter kesebelasan yang lain. Namun yang terjadi pada 2022 di stadion Al Thumama Doha Qatar ternyata di luar kelaziman, yang lalu menjadi kejutan positif dan konstruktif terhadap peradaban. Alih-alih saling caci-memaki atau bahkan baku hantam, ternyata para bonek Iran malah secara ramah dan santun menghampiri para bonek AS untuk memberi selamat atas kemenangan AS.
Sebagai pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan, saya merasa terharu dan bangga terhadap sikap dan perilaku beradab dalam bentuk fastabiqul khoirot bersaing berbuat baik sesuai dengan sila ke dua Pancasila yaitu Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab telah terbukti diwujudkan menjadi kenyataan oleh para supporter sepak bola Iran dan AS. Insya Allah, para bonek politik di Indonesia pada pemilu 2024 tidak akan kalah beradab ketimbang para supporter sepak bola Iran dan AS pada Piala Dunia 2022. Merdeka!
Dikutip kompas.com, Kamis 01 November 2022























